4 Peran Penting Orangtua Agar Anak Bisa Menguasai Bacakilat

Dari awal 2015, Aquarius Resources terus membenahi diri. Mulai dari pindah ke kantor baru di salah satu kompleks perkantoran di daerah Kebon Jeruk serta menambah tim baru agar bisa memberi pelayanan terbaik kepada semua customer Aquarius Resources atau yang lebih dikenal dengan Bacakilat.

Dengan tim baru ini, perusahaan semakin bisa memfokuskan diri memfollow up keberhasilan alumi untuk menguasai skill bacakilat. Sampai saat ini yang banyak difollow up adalah alumni bacakilat for student.

Banyak cerita bahagia yang kami terima, mulai dari peserta yang berhasil menjadikan bacakilat menjadi satu kebiasaan, memudahkan mereka dalam belajar, menghafal pelajaran lebih mudah, waktu main yang lebih panjang dan tentunya diimbangi dengan prestasi belajar yang ikut meningkat dibandingkan sebelum mereka mengikuti pelatihan bacakilat.

Ini semua bisa terjadi, karena mereka terus mempraktekkan bacakilat.

Bukan hanya cerita bahagianya saja, ada juga cerita yang membuat kami merasa sedih. Karena ada bebera alumni yang tidak mempraktekkan bacakilat. Akibatnya, mereka tidak bisa mendapatkan manfaat sempurna dari bacakilat itu sendiri. Cara mereka belajar pun kembali ke pola lama.

Penyebab utama mereka tidak mempraktekkan bacakilat adalah rasa malas. Dan yang kami sayangkan, kurangnya perhatian dan dukungan orangtua dalam membantu anak mereka untuk praktek bacakilat.

Bukan bermaksud mencari siapa yang salah, tapi di artikel ini kami ingin mengajak orangtua untuk sama-sama bekerja sama agar anak terus praktek. Dengan anak konsisten praktek, cepat atau lambat mereka akan mendapatkan manfaat sempurna dari bacakilat itu sendiri.

Agar anak bisa menguasai dan menjadikan bacakilat sebagai kebiasaan, penulis menemukan 4 peran penting yang perlu dilakukan oleh orangtua. Dengan melakukan 4 peran penting ini, penulis yakin anak bisa menguasai skill bacakilat dan mendapatkan manfaat sempurna dari skill belajar ini.

Mari kita bahas satu per satu;

Keep Practice

1. Mengontrol Anak Untuk Terus Praktek

Bacakilat adalah skill, dan untuk menguasai skill apapun, dibutuhkan praktek berkelanjutan yang dilakukan secara konsisten. Tanpa praktek, mustahil seseorang bisa menguasai skill apapun yang ia pelajari.

Inilah yang harus diperhatiakan oleh orangtua, apakah anak benar-benar mempraktekkan bacakilat itu sendiri. Benar tidaknya anak mempraktekkan bacakilat di luar dari kemampuan kami, sebagai panitia dan trainer.

Meskipun di pelatihan diberikan materi tambahan sedemikian rupa agar anak benar-benar mau praktek sendiri di rumah, tapi dalam kenyataanya, hal itu kembali kepada anak.

Disinilah peran orangtua sangat besar dan menentukan keberhasilan anak. Praktek menentukan keberhasilan anak menguasai bacakilat atau skill apapun. Dengan mengetahui anak praktek atau tidak, orangtua bisa mengetahui apa yang bisa dilakukan selanjutnya.

2. Mendukung Anak Untuk Praktek

Apa yang perlu Anda lakukan jika anak tidak mau atau malas praktek?

Yang pasti adalah memberi dukungan dan dorongan agar anak mau praktek. Berikan penjelasan mengapa anak perlu menguasai bacakilat.

Apa yang anak bisa dapatkan jika ia berhasil menguasai bacakilat. Bagaimana perubahan dirinya, bagaimana dengan rasa percaya dirinya, bagaimana perlakukan teman-temannya kalau ia memiliki prestasi belajar gemilang dengan bantuan bacakilat.

Bukan hanya hasil positif yang anak bisa dapatkan. Tapi, apa yang akan terjadi pada anak jika gaya belajarnya masih sama seperti dulu. Apakah akan ada peningkatkan pada dirinya.

Mulai dari prestasi belajar, rasa percaya diri, penghargaan dari teman-temannya dan yang lebih penting adalah, apakah ia bisa mencapai impianya di masa depan.

Anak yang malas praktek, masih butuh penjelasan mengapa ia perlu praktek. Ia belum jelas akan manfaat yang akan ia dapatkan. Ini bisa karena anak merasa tidak atau belum butuh. Inilah yang membuat anak mudah menyerah saat menghadapi kendala saat mempraktekkan bacakilat.

Jika orangtua bisa memberikan pemahan kepada anak dengan baik, maka anak dengan senang hati akan memperaktekkan bacakilat. Dengan terus praktek, cepat atau lambat, ia akan menguasai bacakilat.

3. Dorong Untuk Bertanya

Dalam belajar, apalagi untuk menguasai skill apapun, seseorang akan melewati fase bingung. Ini adalah masa krisis untuk menguasai atau benar-benar memahami apa yang ia pelajari.

Masa krisis ini yang sering kali membuat anak berhenti praktek karena merasa kurang benar apa yang ia lakukan. Biasanya ia ragu dan berhenti mencoba.

Di sini orangtua perlu mendorong anak untuk bertanya langsung kepada trainer. Apakah yang ia lakukan sudah benar atau ada hal lain ia lewatkan.

Oh ya, Kak Juni Anton memberikan kontak pribadinya untuk memudahkan alumni menghubunginya. Alumni bisa bertanya hal yang kurang mereka mengerti, menceritakan keberhasilan dari hasil prakteknya atau hanya sekedar menyapa.

Kak Anton tidak membatasi alumi untuk berkomunikasi dengannya. Jadi alumni benar-benar bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya.

mother-love

4. Memberikan Kasih Sayang

Ini adalah bumbu pelengkap dari keiga poin di atas. Dengan melakukan ketiga poin di atas, secara tidak langsung Anda telah melakukan poin ini.

Yang perlu Anda perhatikan saat melakukan poin ini adalah, anak benar-benar merasakan kasih sayang Anda. Bukan sebaliknya, Anda merasa telah memberi kasih sayang. Poinnya, anak merasa bukan Anda merasa (hehehe maaf, terlalu bersemangat :D)

Saat anak meraskan kasih sayang Anda, dengan sendirinya mereka akan melakukan apa yang Anda minta. Anda tidak perlu susah payah atau harus kesal untuk meminta anak praktek bacakilat. Tinggal beri pengertian dan manfaat yang mereka bisa dapatkan. Mereka akan jalan sendiri.

Ini tidak hanya untuk menguasai skill bacakilat atau belajar. Tapi, berlaku untuk semua hal.

Inilah 4 peran penting yang perlu Anda lakukan. Selamat mencoba dan saya tunggu cerita dari hasil praktek anak Anda.

About the Author

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: