Bacakilat Vs Baca Cepat, Lebih Efektif Mana?

Masih banyak orang yang beranggapan kalau bacakilat sama dengan baca cepat. Dibuktikan dengan pengalaman tim yang banyak menerima panggilan telpon dari calon peserta seminar dan pelatihan.

Mungkin karena keduanya menggunkan kata “baca” didepannya, jd para calon customer menganggap bacakilat dan baca cepat itu sama saja. Bisa juga karena nama bacakilat itu terdengar aneh dan tidak terlalu familiar, baca cepat menjadi pilihan kata yang lebih aman untuk digunakan.

Apapun alasanya, bacakilat dan baca cepat adalah dua teknik membaca yang berbeda. Mulai dari nama sampai dengan teknik dan cara penggunaannya.

Di artikel ini, kita akan membahas keefektifan dari kedua teknik ini. Jadi, Anda bisa memiliki pemahaman yang lebih tentang kedua teknik ini. Bukan hanya itu, Anda bisa dengan bebas memilih salah satu dari teknik ini untuk diterapkan untuk menyelesaikan semua tumpukan buku yang belum Anda baca.

Mari kita bahas satu persatu;

1. Pemahaman

Satu alasan mengapa banyak orang tidak mau membaca buku karena merasa buku begitu berat, sulit memahami dan merasa kurang familiar dengan isi buku. Karena itu, seseorang perlu membaca buku sebanyak dua sampai empat kali agar lebih mudah memahami isi buku tersebut.

Jelas ini satu pemborosan waktu, energi dan tentunya dibutuhkan motivasi intrinsik yang sangat kuat agar bisa membaca keseluruhan isi buku tersebut. Karena inilah, dibutuhkan teknik membaca agar seseorang lebih mudah memahami isi buku.

Dengan teknik membaca bacakilat, seseorang bisa memahami isi buku dengan lebih mudah dan cepat. Ini bukan sulap ataupun sihir. Ini karena kerja pikiran bawah sadar, gudang dari semua informasi.

Keunikan bacakilat dengan teknik membaca lain adalah cara memasukkan informasi yang ada di buku ke pikiran, lebih tepatnya ke pikiran bawah sadar tanpa adanya distorsi dari pikiran sadar.

Dengan adanya data di pikiran bawah sadar, memahami isi buku jauh lebih mudah. Contohnya, saat Anda menelusuri satu tempat baru. Apakah Anda merasa begitu lama dan jauh untuk sampai ke tujuan? Tapi saat pulang atau kembali, perjalanan menjadi jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Pernah mengalami kasus seperti ini?

Saat Anda memasuki tempat baru, pikiran masih asing akan tempat dan trak yang dilalui. Ini membuat pikiran bawah sadar menyerap semua informasi yang ia lihat. Seperti, rumah, jalan, pemandangan, orang baru, gedung, warna dan apapun yang dilewati. Saat kembali, pikiran merasa lebih familiar dan perjalanan terasa lebih cepat dari sebelumnya.

Inilah perbedaan bacakilat dengan baca cepat. Memanfaatkan pikiran bawah sadar dengan bacakilat memahami isi buku menjadi lebih cepat dan mudah. Berbeda halnya dengan baca cepat yang hanya mengandalkan kemampuan dari pikiran sadar yang sangat terbatas.

Kenikmatan

2. Kenikmatan

Justru dengan bacakilat seseorang bisa lebih menikmati bacaannya. Maksudnya, adanya rasa penasaran yang tinggi serta tetap mampu memahami isi buku yang telah dibacakilat.

Sama seperti menghabiskan novel yang sedang dibaca. Seseorang rela menghabiskan berjam-jam suntuk hanya untuk memuaskan rasa penasarannya.

Bacakilat mampu meningkatkan rasa penasaran Anda untuk membaca buku yang telah dibacakilat. Ini karena data telah ada di pikiran bawah sadar.

Ini jelas berbeda dengan baca cepat. Buku harus bisa menjawab kebutuhan atau minat si pembaca. Jika tidak, rasa penasaran akan sulit untuk ditumbuhkan. Bahkan saat buku itu bisa menjawab pertanyaan di pembaca, sering kali ia merasa sulit memahami isi buku yang dibaca, dengan teknik baca cepat.

3. Menghabiskan Lebih Banyak Buku

Dengan bacakilat, seseorang bisa menghabiskan lebih banyak buku jika dibandingkan dengan teknik baca cepat. Untuk membaca satu buku setebal 300 halaman hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit. Semua informasi langsung masuk ke pikiran bawah sadar tanpa adanya distorsi dari pikiran sadar.

“10-15 menit? Cepat amet?” mungkin Anda terheran-heran.

10-15 menit hanya untuk memasukkan informasi dari buku ke pikiran bawah sadar. Masih ada satu teknik lagi membuat pikiran sadar paham akan isi buku. Untuk bisa memahami isi buku secara keseluruhan sesuai kebutuhan pembaca, rata-rata dibutuhkan waktu sekitar 3 jam lebih. Semua tergantung dari kelompok buku.

Menurut Francis Bacon, ada tiga kelompok buku. Buku yang hanya perlu dicicip, ditelan dan buku yang harus dikunyah dan cerna. Buku yang dicicip adalah buku-buku yang tidak perlu kita baca secara keseluruhan.

Hanya membaca bagian-bagian tertentu, kita sudah mengetahui isi buku tersebut dengan baik. Dengan bacakilat, waktu untuk menyelesaikan kelompok buku cicip hanya membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit.

Kelompok buku yang ditelan adalah buku yang tidak memerlukan usaha, analisa yang terlalu mendalam untuk memahami isinya. Jenis bukunya adalah bidang yang ia geluti dan minati. Waktu untuk menyelesaikan ini bisa menghabiskan 90-120 menit.

Sedangkan pengelompokan buku kunyah dan cerna membutuhkan usaha eksra, analisa yang lebih dalam dan banyak usaha membaca. Seperti seorang akuntan yang membaca buku pikiran. Kelompok membaca ini menghabisakan lebih dari 2 jam. Bisa 3-5 jam.

Membaca kelompok buku ini jauh lebih cepat dengan menggunakan teknik bacakilat. Dan hal utama yang tidak bisa dilewatkan adalah pemahaman akan isi buku itu sendiri. Dan waktu itu tidak selamanya tetap, semua tergantung pada masing-masing orangnya. Tapi, data ini berasal dari pengalaman peserta di kelas bacakilat. Rata-rata ketebalan buku sekitar 300 halaman.

Dengan menggunakan baca cepat, seseorang bisa menghabisakan satu buku per hari. Semua tergantung dari fiksasi mata seseorang dan ini belum mengelompokkan buku. Ini belum masuk pemahaman yang bisa didapatkan oleh seseorang.

Momen Aha

4. Pengalaman “Aha” Akan Isi Buku

Karena isi buku telah ada di pikiran bawah sadar, pembacakilat sering mendapatkan pengalaman “aha” dari buku yang telah dibacakilat.

Pengalaman “aha” adalah isi buku atau ide yang mereka terapkan untuk mengatasi masalah atau membuat sesuatu dari buku yang mereka telah bacakilat. Sering kali, pengalama “aha” ini terjadi begitu saja dan tanpa mereka sadari.

Jelas, pengalaman “aha” tidak bisa didapatkan dengan menggunakan teknik baca cepat, karena keterbatas dari penggunaan pikiran sadar. Pengalaman “aha” hanya bisa didapatkan jika data tersebut sudah ada di pikiran bawah sadar.

Inilah perbedaan utama dari teknik bacakilat dan baca cepat. Anda bisa menilai sendiri teknik mana yang lebih efektif. Teknik manapun yang Anda gunakan untuk menuntasakan semua buku yang belum Anda baca, semua tergantung pilihan Anda.

Pembaca, jika Anda diberi kesempatan untuk belajar bacakilat dan baca cepat, teknik mana yang ingin Anda kuasai? Saya tunggu komentar Anda.

About the Author

Leave a Reply 1 comment

Pauline - January 26, 2016 Reply

Teknik baca kilat lah…

Leave a Reply: