Press enter to see results or esc to cancel.

Belajar Tapi Tidak Praktik

Apakah menguasai sebuah skill hanya perlu belajar?

bingungIni adalah keinginan banyak orang. Dan jika ini keinginan Anda, mungkin Anda perlu memperbaiki pemikiran ini. Sukses hanya bisa dicapai dengan memiliki kebiasaan sukses. Dan kebiasaan sukses adalah melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang sukses secara konsisten. Menerapkan apa yang kita pelajari, melatih apa yang kita telah pelajari jauh lebih penting dari sekedar hadir dan belajar di pelatihan.

Ada orang yang mengikuti pelatihan dan berhasil menguasai skill dan mendapatkan hasil yang luar biasa. Ada juga orang yang tidak berhasil dan menyalahkan tools yang ia pelajari. Tentu kita pernah mendengar pepatah yang mengatakan seorang tukang yang buruk selalu menyalahkan peralatannya. Ini adalah sebuah jebakan pemikiran yang sangat kuat. Jika Anda merasa demikian, INI BUKAN SALAH ANDA. Anda hanya terprogram dalam lingkungan kita yang memang kebanyakan seperti itu.

Belajar saja tidak akan membuat Anda menguasai sebuah skill. Apalagi mendapatkan hasil dari skill itu. Sebelum kita membahas apa yang perlu kita lakukan, pemikiran apa yang perlu kita miliki, saya akan menulis kembali sebuah cerita.

Alkisah, hiduplah seorang pria yang selalu memimpikan dirinya sukses. Ia tidak berhenti berdoa setiap hari. Ia berdoa kepada Tuhan untuk membantunya sukses. Ia ingin sukses dengan cepat. Maka ia pun berdoa agar ia menang lotere. Setiap malam ia berdoa dengan khusyuk. Pagi hari, siang hari pun ia tidak lupa mengucap doa.

Namun, ia tidak pernah memenangkan lotere walau sudah begitu fokus selama berbulan-bulan. Tapi ia tidak menyerah, ia masih terus berdoa dan suatu malam, dalam doanya, ia mendapatkan jawaban dari Tuhan. Tuhan berkata, Anakku, Kalau kau ingin menang lotere, bantulah Aku, Pergi beli lotere sekarang.

To Know not to DO, is Not Yet to Know. ~ Lao Tzi

Jadi apa yang perlu kita lakukan agar kita menguasai skill dan mendapatkan manfaat? Tentu bukan pergi membeli lotere hehehe.

Tapi, Praktik.

Ini yang perlu kita pahami dalam menguasai sebuah skill:

  1. Masa krisis.
    Untuk menguasai sebuah skill ada masa krisisnya. Masa krisis ini dimulai setelah kita belajar sebuah skill baru. Contohnya Anda sudah ikut pelatihan dua hari bacakilat, atau mengikuti bacakilat home study course. Maka Anda mulai memasuki masa krisis menguasai sebuah skill. Dalam masa krisis ini dirasakan Anda sewaktu Anda mempraktikkan apa yang Anda pelajari. Biasanya terjadi karena situasi yang Anda hadapi berbeda.Selama masa krisis ini, jika Anda mempraktikkan tentunya, Anda akan mengalami kebingungan. Melawan kebiasaan lama. Merasa sedikit repot dalam melakukan skill baru Anda, karena Anda lebih terbiasa dengan cara lama Anda. Oh, ngomong-ngomong, Anda ingin cara baru karena cara lama Anda tidak membuat Anda sukses atau dalam hal bacakilat tidak membuat Anda menyelesaikan buku bukan? Jadi lewatilah masa krisis ini dan praktiklah.

    Jika Anda tidak praktik, apakah Anda melewati masa krisis ini? Tidak. Masa krisis hanya berjalan ketika dan selama Anda praktik. Sebagian orang tidak mempraktikkan apa yang ia pelajari karena beberapa alasan, ini yang terpikirkan oleh saya, Anda bisa menambahkan dalam komentar jika ada yang lain. Pertama, mereka tidak nyaman. Melakukan hal yang baru selalu tidak nyaman. Bisa jadi tidak nyaman karena belum terbiasa.

    Bisa juga tidak nyaman karena kelihatan kurang pintar. Perlu kita akui, ketika belajar hal baru, kita akan kelihatan sedikit “bodoh”. Dan bagi orang yang gengsi, mereka tentu tidak mau menjalani proses ini. Solusinya adalah menjalaninya. Jika Anda sudah melakukan investasi, maka Anda perlu meyakini sistemnya. Setiap orang yang mengajarkan sebuah sistem, harusnya ia sudah meneliti mana yang bekerja dan mana yang tidak memberikan hasil. Kita hanya perlu mengikutinya. Tidak perlu memikirkan cara baru, paling tidak sampai Anda bisa melakukannya.

    Kedua, Tidak mengosongkan gelas. Tentu Anda pernah mendengar seseorang berkata, ah itu tidak mungkin. Ia berkata demikian karena ia menggunakan pengetahuan yang ia ketahui di masa lalu untuk mengukur apa yang ia lihat saat ini. Dan sering kali kita tidak mau melepaskan pengetahuan masa lalu (mengosongkan gelas) yang seringkali tidak relevan pengukurannya.

    Ketiga, ini lucu, karena banyak yang belum praktik sudah menegaskan itu tidak berhasil. Mungkin ini mirip dengan yang kedua, tapi mungkin sedikit lebih parah hehehe. Praktik, pahami dan lihat hasilnya. Setelah itu barulah kita bisa menganalisa mana yang perlu kita perbaiki.

    Keempat, Terlalu cepat menganalisa proses. Tentu kita tahu proses yang benar akan membawakan hasil yang benar. Tapi jika kita terlalu dini menganalisa prosesnya, tanpa melihat hasilnya seperti apa, maka kita tidak bisa benar-benar menilai apakah proses yang kita jalani itu sudah benar atau belum. Belum ada hasil, bagaimana kita bisa menilai? Jadi selesaikanlah. Praktiklah, maka Anda akan tahu apa yang perlu dilakukan, jikapun Anda tidak tahu, Anda bisa bertanya dan pertanyaan Anda tentu lebih berkualitas.

    Every Master, once a Terrible.

    Kelima, mereka ingin sempurna. Pemikiran bahwa ingin bisa dulu baru praktik adalah hal yang lucu. Kita tidak membicarakan mana yang duluan, sempurna duluan atau praktik duluan, ayam duluan atau telur duluan. Dalam kasus ini jelas sekali, praktik dulu. Mengharapkan sempurna adalah langkah awal untuk membuat kita tidak mempraktikkan dengan baik, langkah awal untuk membuat kita tidak bisa. Karena rasa ingin sempurna membuat kita tidak mau melakukannya.

    Praktik. Buatlah kemajuan. Maka keunggulan akan tercapai.

  2. Memiliki pola pikir bertumbuh. Ini artinya kita memiliki konsep dalam pikiran kita bahwa, semua bisa kita pelajari jika kita mendedikasikan waktu dan usaha. Ya, dan Anda bisa menjalani kehidupan sejauh ini, karena Anda memiliki pola pikir bertumbuh. Anda mendedikasikan waktu dan usaha untuk belajar berjalan, berbicara, membaca, bermain, menulis, naik sepeda, menyetir, dan masih banyak skill lainnya. Jika hal yang standar bisa Anda lakukan, tinggal meningkatkan diri untuk melakukan yang di atas standar.Tidak ada orang sukses yang melakukan hal standar. Semuanya di atas standar. Going the extra mile.

    Pola pikir tetap artinya kita merasa kita tidak bisa menguasai apapun, tidak bisa menjadi lebih baik. Pola pikir adalah pilihan, mana yang ingin Anda anut, mana yang ingin Anda jadikan kebenaran dalam kehidupan Anda. Semua ada di tangan Anda.

Belajar saja tidak membawa Anda menuju kesuksesan, apa yang Anda lakukan dengan apa yang Anda pelajarilah yang membawa kita maju. Knowledge is not power. It’s only potential power, untill you do something it’s become kinetic power.

Saya ingin mendengarkan pemikiran Anda, sampaikan pemikiran Anda di bawah, saya membacanya.

Sukses untuk Anda.

 

Comments

3 Comments

Trisna Kameswara

Benar Om..semua butuh praktek bukan hanya teori saja..tetapi memang teori di perlukan untuk melengkapi praktek..terkadang pikiran sadar mencari cari alasan pembenaran dari penundaan yang kita lakukan…di situ juga tantangannya..seperti mengasah atau mempoles bongkahan berlian..semua butuh proses..a great inspiration for study, work, exercise etc…yes i can do it…

ave

ya benar itu pak agus…..kalau saya kadang kurang yakin dan bertanya ..apakah saya dalam kondisi genius atau tidak……

novi andini

Iya pak, praktek emang penting biar kita ga sekedar tau tapi mampu, tp kadang mahasiswa kayak saya suka bingung mau praktekinnya gmn klo saya sendiri belum masuk dunia kerja contohnya aja kayak auditing


Leave a Comment

Testimoni

testi_665

Pelajar

Membaca menjadi lebih cepat dan mengerti, lebih menyenangkan. Sangat banyak inspirasi yang akan saya ingat, teman-temannya sangat ramah dan banyak membantu saya. Saya belajar banyak sekali

Chat with Us