Hambatan Mental Biang Keladi Dari Prestasi Belajar Yang Rendah

Banner-7

lazy

Kita semua tahu bahwa anak yang mendapatkan prestasi belajar cemerlang di sekolah sangat dipengaruhi oleh motivasi dan keinginan yang kuat untuk belajar. Mereka memberikan usaha terbaik untuk menguasai materi pelajaran dengan tujuan mendapatkan nilai bagus saat ujian. Tidak jarang kita jumpai banyak anak telah melakukan usaha yang terbaik dalam belajar tetapi prestasinya biasa-biasa saja. Tahukah Anda apa yang  membuat anak-anak yang rajin dan tekun belajar tetapi hanya  mendapatkan prestasi yang biasa-biasa saja?

Hambatan mental. Dalam dunia psikologi disebut dengan limiting  belief atau yang sering disebut dengan mental block. Hambatan mental adalah program yang ditanam, baik oleh orang lain atau diri sendiri yang menghambat seseorang untuk mencapai prestasi tertinggi dalam hidup serta apa yang diinginkan.

Bentuk dari hambatan mental sangatlah beragam. Contohnya rasa malas, tidak suka dengan mata pelajaran tertentu, rasa malu, tidak percaya diri, bahkan tidak suka atau takut dengan guru mata pelajaran tertentu, takut tikus, kecoak dan masih banyak contoh lain.

Mengapa hambatan mental ini sangat mempengaruhi dan memberikan efek yang begitu besar, sehingga anak memiliki motivasi naik turun dalam belajar? Mengapa hambatan mental ini sangat mempengaruhi motivasi belajar anak? Untuk mengetahuinya kita akan membahas pembentukan program diri atau hambatan mental ini. Selanjutnya bagaimana cara mengatasi hambatan mental anak dalam belajar. Sehingga Anda mendapatkan gambaran yang jelas dari artikel ini.

Proses Pemrograman

Anak dilahirkan kedunia bagaikan kertas putih yang masih bersih. Setiap goresan dalam kertas putih ini adalah goresan yang diberikan oleh orangtau atau pengasuh dan lingkungan. Apa pun dalam bentuk interaksi antara orangtua kepada anak atau pun lingkungan ke anak yang masuk melalui panca indranya akan menjadi goresan dalam hidup anak. Tidak peduli apakah itu hal baik atau pun buruk.

Menurut Adi W Gunawan dalam bukunya Manage Your Mind for Success disebutkan ada tiga fase pemrograman yang dilalui oleh setiap manusai. Fase pemrograman pertama, usia 0-7 tahun. Ini adalah fase pemrograman yang sangat efektif. Fase ini disebut dengan periode tanam. Kenapa? Karena semua hal yang Anda katakan dan ucapkan kepada anak akan diterima dan diakui kebenaranya. Tidak peduli apakah yang Anda katakan kepada anak itu benar atau salah,semua akan menjadi program. Hal ini disebabkan karena anak belum memiliki filter penyaring informasi untuk membedakan antara benar dan salah.

Contohnya bila Anda berkata hal negatif  kepada anak “kamu bodoh, kamu lambat, kamu susah diajak belajar hal yang mudah” maka anak akan menerima dan ini akan menjadi program dalam diri anak, yang akan menghambat anak nantinya di masa depan.

Fase kedua adalah usia 7-14 tahun. Fase ini disebut dengan periode modal. Fase ini juga sangat efektif untuk memprogram diri anak. Pada fase ini anak akan belajar meniru tokoh yang dikagumi oleh anak. Mulai dari cara berbicara, berjalan, berpakaian bahkan meniru cara berpikiranya.

Fase ini adalah fase yang kritis karena anak sudah masuk jenjang sekolah (SD). Efektivitas pemrograman pada usia ini sering kali berakibat buruk. Hal ini disebabkan karena program yang masuk kebanyakan adalah program negatif.

Pernahkan Anda memperhatikan anak Anda yang dulunya begitu kreativ, cerdas, pemberani dan percaya diri menjadi berbeda setelah masuk SD? Ini akibat dari proses pemrograman yang salah. Disinilah potensi anak yang sebenarnya tidak bisa dikeluarkan karena hambatan mental yang diterima dari lingkungan.

Fase ketiga berada pada usia 14-21 tahun. Fase ini disebut dengan periode sosial, merupakan kelanjutan pengembangan dari apa yang telah didapat pada fase pertama dan kedua. Apabila program yang didapat anak pada dua fase pertama adalah program yang positif, mendukung dan baik maka anak akan tumbuh dengan rasa percaya diri dan harga diri yang baik. Demikian pula sebaliknya. Pada priode ini pemrograman lebih banyak berasal dari interaksi sosial anak. Pemrograman bisa berasal dari berbagai sumber, misalnya dari teman, buku, majalah, film, tokoh agama dan berbagai sumber lain.

Program yang telah masuk ke pikiran bawah sadar dan dijalankan, sangat kuat pengaruhnya dalam kehidupan. Pengaruh dari pikiran bawah sadar adalah 88% dibandingkan dengan kekuatan pikiran sadar yang hanya 12%. Bila dibandingkan kekuatan pikiran bawah sadar dengan pikiran sadar adalah 9:1. Artinya pikiran bawah sadar 9 kali lebih kuat dari pikiran sadar.

Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi bila Anda meminta anak Anda yang memiliki program “saya bodoh” untuk belajar. Sudah pasti mereka akan malas belajar. Programnya saja sudah “saya bosoh”, belajar serajin apa pun tetap akan bodoh, jadi untuk apa belajar, kalau di minta belajar ya sudah pasti malas dong (bercanda). Tetapi memang ada benarnya juga bukan?

Bentuk prilaku yang muncul bisa berbagai macam. Mulai dari mengantuk, melakukan kegiatan lain yang lebih menyenangkan dengan alasan berbagai macam, bahkan langsung tertidur dengan buku sebagai “helm”saat 5 menit proses belajar di mulai.

Sudah jelas bukan. Hambatan mental inilah biang keladi dari prestasi belajar yang rendah pada anak. Bila hambatan mental ini tidak dibereskan maka sudah pasti anak tidak bisa meningkatkan prestasi belajarnya. Meski pun Anda memberikan strategi belajar yang sangat mutakhir dan luar biasa. Prestasi belajar anak tidak akan bisa meningkat bila hambatan mental ini tidak dibereskan terlebih dahulu.

Akibat Buruk Dari Hambatan Mental Pada Anak

Sangat banyak akibat yang bisa ditimbulkan dari hambatan mental ini. Beberapa akibat buruk yang bisa ditimbulkan dari hambatan mental ini:

1. Prestasi belajar yang rendah

Sudah sangat jelas sekali bila anak yang memiliki program diri merasa bodoh, belajar itu sulit, pembelajar yang lambat atau mata pelajaran tertentu sangat sulit maka anak akan memiliki motivasi rendah dalam belajar. Rendahnya motivasi membuat anak tidak mau belajar. Pikiran kreativ  anak akan menggunakan segudang alasan untuk tidak mau belajar. Akibatnya sudah bisa dipastikan anak akan mendapatkan prestasi belajar yang rendah.

2. Rasa percaya diri yang rendah

Ini sangat banyak terjadi kepada anak. Mereka memiliki rasa percaya diri yang rendah dan takut untuk melakukan sesuatu hal. Contohnya, anak yang memiliki program “bodoh” tidak akan berani memberikan masukan atau ide-ide kepada kelompoknya. Terkadang saat mereka diminta menjelaskan materi kelompok di depan kelas, rasa takut sudah menghampiri dan bermain dengan mereka sebelum menjelaskan materi pelajaran tersebut. Ini banyak terjadi pada anak-anak pelajar saat ini.

3. Masalah bersosialisasi dengan teman sebaya

Meski pun tidak semua anak akan mengalami hambatan mental ini tetapi banyak anak mengalami hambatan dalam menjalin hubungan secara emosional dengan teman kelasnya. Bahkan banyak dari antara mereka membangun kelompok yang memiliki kemampuan belajar yang sama di dalam kelas. Tidak jarang ditemukan dalam kelas ada kelompok siswa yang pintar dan biasa saja.

4. Menurunya kreatifitas

Anak yang dulunya kelihatan cerdas, pintar, kreativ, dan memiliki tingkat mobilitas yang tinggi bisa menurun akibat hambatan mental yang tidak memperdayakan anak. Anak hanya menunggu perintah dari guru untuk melakukan satu pekerjaan tanpa menunjukkan kreatifitas mereka dalam kegiatan atau pekerjaan tertentu. Anak cenderung mengikuti semua perintah yang diberikan oleh guru tanpa memiliki ide atau cara menyelesaikan pekerjaan tersebut. Ketika mereka mengalami masalah, mereka cenderung berhenti dan tidak memikirkan bagaimana cara mengatasi hambatan yang mereka alami. Ini semua akibat hambatan mental yang dimiliki oleh anak. Bila hambatan mentalnya tidak dibereskan maka tingkat kreatifitas anak tidak akan bisa meningkat.

5. Harga diri jelek

Ini sangat dipengaruhi oleh penilaian yang diberikan oleh sekolah dan orangtua kepada anak. Banyak kasus klinis yang saya baca kalau harga diri yang rendah yang dimiliki oleh anak bersumber dari sekolah dan orangtua

Contohnya Anda mendapatkan nilai buruk di sekolah. Di sekolah anak sudah merasa bodoh dengan membandingkan nilai yang diraih dengan nilai teman sekelasnya. Ditambah dengan orangtua yang marah karena lelah sepulang kerja. Bukanya memberikan motivasi agar anak bisa lebih giat belajar akan tetapi orangtua meyakinkan diri anak bahwa dia tidak bisa mendapat nilai yang baik. Terkadang maksud baik orangtua tidak bisa dimengerti oleh anak karena keterbatasan cara berpikirnya. Perlakuan inilah yang membuat anak merasa tidak berharga.

Keenam, orangtua. Sudah pasti, orangtua mana yang mau anaknya mendapatkan nilai jelek. Sudah tentu orangtua menginginkan nilai baik bahkan sempurna. Bila sudah begini, orangtua akan pusing sendiri. Bukanya masalah kantor dan usaha saja yang perlu diberesakan, tetapi anak pun menjadi penambah beban pada orangtua. Kalau sudah begini, cepat-cepatlah cari solusi agar anak bisa meningkatkan prestasi belajarnya.

Keberhasilan atau pun kegagalan anak dalam sekolah sangat mempengaruhi anak dalam menghadapi masa depanya. Semua hal yang anak dapatkan di sekolah menjadi acuan dalam menjalani kehidupanya di masa depan. Cara terbaik untuk mempersiapkan anak menghadapi masa depanya adalah dengan mengatasi hambatan mental dalam proses belajar yang dimiliki oleh anak. Dengan begitu anak bisa bertumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan kemampuanya dengan lebih cepat.

Mengatasi Hambatan Mental

Cara terbaik untuk meningkatkan prestasi belajar anak adalah dengan mengatasi masalah mental terlebih dahulu. Dengan mengatasi masalah mental, 80 persen permasalahan belajar anak sudah selesai. Tinggal 20 persen masalah yang harus diatasi. Cara mengatasi 20 persen adalah memberikan strategi belajar yang tepat untuk diterapkan agar prestasi belajar anak meningkat.

Salah satu teknik sederhana yang ampuh bisa digunakanan untuk mengatasi masalah hambatan belajar adalah dengan teknik EFT (Emotional FreedomTechnique). Teknik EFT pertama sekali dikembangkan oleh Gary Craig. Teknik ini mirip dengan teknik akupuntur. Bedanya bila akupuntur menggunakan jarum untuk menstimulasi titik-titk energi yang tersebar di jalur meredian, EFT menggunakan jari untuk mengetuk titik-titik energi ini dengan jumlah ketukan dan urutan tertentu.

Untuk menggunakan teknik EFT dengan cara yang benar Anda bisa mendapatkan informasi lengkapnya di buku The Art Of Reading karya Agus Setiawan yang dijual di toko buku Gramedia. Anda juga bisa menemukan emosi dan perilaku apa saja yang bisa menghambat anak dalam belajar di sekolah di buku tersebut. Bila Anda ingin mengetahui dan mendalami EFT lebih dalam, Anda bisa mengunjungi www.emofree.com

Setelah itu, apa yangperlu dilakukan setelah anak mengatasi hambatan dalam belajarnya? Apakah sudah cukup untuk anak bisa mendapatkan prestasi yang tinggi dan memiliki konsep diri yang mendukung dalam hidupnya? Mungkin Anda akan berkata seperti ini.

Belum cukup, para pembaca budiman. Kan 20% belum kita atasi.

Tidak mungkin anak bisa mendapatkan nilai bagus bila tidak mengetahui dan menguasai materi yang akan diujiankan di sekolah. Meski pun begitu, Anda sudah tinggal dua langkah lagi untuk membantu anak meningkatkan prestasi belajar dan harga dirinya.

Anda perlu memberikan strategi belajar yang tepat pada anak. Perlu Anda ketahui bahwa, meski pun hambatan belajar anak sudah selesai dibereskan tetapi tidak memberikan strategi belajar yang tepat pada anak,maka kemungkinan besar hambatan mental pada anak akan datang kembali dan mengganggu anak dalam meningkatkan prestasi belajarnya.

Strategi yang saya sarankan adalah dengan menggunakan teknik bacakilat for student. Dengan menggunkan strategi ini, akan sangat membantu anak Anda dalam memahami dan menguasai materi pelajaran yang diajarkan di sekolah. Kenapa? Karena sistem bacakilat menggunakan potensi alami setiap orang yang belum pernah disentuh. Untuk mengetahui bacakilat for student lebih dalam Anda bisa membaca di artikel Apa Itu Bacakilat? Anda (orangtua) juga bisa mendaftarkan diri di bawah artikel ini untuk mendapatkan bimbingan langsung dari pak Agus Setiawan secara online.

Selain itu, peran orangtua sangat dibutuhkan di sini. Tanpa dukungan penuh dari orangtua, anak tidak akan memberikan hasil yang diharapakan oleh orangtua. Meski pun orangtua telah memberikan semua upaya dan hal yang dibutuhkan oleh anak untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik di sekolah.

Dukungan dan kasih sayang yang orangtua berikan kepada anak akan menjadi sumber motivasi yang membuat anak lebih siap menghadapi sekolah dengan berbagai masalah yang ada di sekolah. Meski pun tidak jarang sumber dari hambatan mental itu orangtua. Artinya Anda juga perlu belajar untuk bisa mengerti dan memahami apa yang anak rasakan dan bagaimana cara membangkitkan motivasi mereka.

Saat orangtua memberikan dukungan dan cinta yang tulus, maka Anda telah mempersiapkan anak Anda untuk menjadi orang unggul di sekolah dan kehidupan. Bukanlah ini sebenarnya yang diinginkan oleh semua orangtua? Jadi bekerjasamalah dengan anak. Jadilah patner untuk anak bukanya “bos” yang mereka takuti.

Setelah mengatasi hambatan mental dan memberikan strategi belajar yang tepat serta adanya dukungan dari orangtua, maka perlahan tapi pasti prestasi belajar anak akan meningkat. Dengan begitu Anda tidak perlu lagi ragu dan cemas terhadap anak dalam proses belajarnya apalagi ketika akhir semester akan datang.

Prestasi belajar anak sangat berkaitan dengan rasa percaya dan harga diri anak. Semakin anak mendapatkan prestasi belajar yang  baik di sekolah semakin anak memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang baik. Semakin siap anak menghadapi masa depannya. Sudahkan Anda mengetahui hambatan mental pada anak Anda dalam proses belajar? Berikan komentar Anda.

Banner-7

About the Author

Leave a Reply 5 comments