Bagaimana Seorang Alumni Bacakilat Bisa Menyelesaikan Tesisnya Bahkan Menjadi Expert Di Bidang Yang Digelutinya?

Di setiap pelatihan bacakilat yang saya dan trainer bacakilat adakan, kami selalu menemukan ada peserta yang sedang kuliah mengambil jenjang sarjana atau pasca sarjana. Alasan mereka mengikuti bacakilat karena tuntutan membaca untuk menyelesaikan tugas kuliah. Ada juga karena kesibukan yang luar biasa yang membuat mereka tidak memiliki waktu untuk membaca dan belajar bahan wajib perkuliahan.

Hal yang sama terjadi pada salah satu alumni bacakilat yang kami adakah di bulan April 2018 lalu di Pekanbaru. Ceritanya bapak ini, pak Irwan harus menyelesaikan tesisnya sesegera mungkin.

Karena kesibukan di pekerjaannya ia mulai galau karena deadline tesis yang sudah dekat. Masalahnya motivasi membacanya yang rendah membuat ia harus berjuang keras untuk menuntaskan buku yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tesisnya.

Setelah mengikuti bacakilat, ia justru bisa menyelesaikan tesisnya lebih cepat dan tepat waktu. Bukan hanya itu, alumni ini justru mendapatkan manfaat lebih besar karena berhasil membacakilat satu buku setiap harinya.

Seperti apa kisahnya?

Silahkan baca kisah pertumbuhan dirinya setelah mengikuti pelatihan bacakilat. Ini adalah wawancara yang dilakukan oleh tim saya.

 

A             : Nama saya Irwan. Saya seorang pimpinan di salah satu pesantren di Pekanbaru. Saya juga seorang mahasiswa pasca sarjana jurusan manajemen pendidikan islam.

Saya mengikuti pelatihan bacakilat batch 200 di bulan April 2018 di Pekanbaru yang dibawakan oleh coach Yulius.

Q             : Bisa cerita tentang masalah membaca yang bapak hadapi sebelum mengenal bacakilat?

A             : Yang pertama, saya dalam kondisi galau karena desakan deadline untuk menyelesaikan tesis saya.

Saya sudah punya koleksi ratusan buku. Tapi masalahnya, saya tidak memiliki motivasi untuk membaca. Biasanya saya hanya bisa membaca paling lama 10-15 menit. Setelah itu saya sudah bosan. Kalau saya sudah bosan, pasti sangat sulit bagi saya untuk memulai membaca buku lagi.

Q             : 1 buku bapak bisa habiskan berapa lama?

A             : Sepertinya saya belum pernah menuntaskan satu buku sampai habis.

Q             : Apakah bapak pernah mendengar teknik membaca selain bacakilat?

A             : Pernah. Saya sudah pernah dengar teknik speed reading. Saya juga sudah pelajari teknik speed reading. Ternyata di situ, saya nilai ada pemaksaan mata untuk menangkap cepat dan itu butuh latihan lama. Sementara saya dengan kesibukan dan profesi saya sudah tidak punya waktu yang banyak untuk membaca.

Q             : Apakah dengan mempelajari speed reading, bapak masih menggunakannya dalam proses membaca bapak?

A             : Tidak, tidak. Saya tetap baca buku menggunakan cara baca konvensional. Saya cari yang saya butuhkan di daftar isi, lalu saya baca. Itu saja.

Q             : Apa tanggapan bapak saat pertama kali mendengar tentang bacakilat?

A             : Yang pertama, karena mendapat iklan di facebook, saya penasaran dan tertantang untuk bisa seperti itu (baca dengan pemahaman tinggi, ed). Akhirnya saya hubungi no yang tertera di iklannya. Saya ikut seminar dan saya benar-benar tertarik dan mendaftar hari itu juga.

Q             : Apa yang mendorong bapak untuk mempelajari bacakilat, terlepas dari bapak memiliki masalah membaca yang tadi bapak jelaskan di atas?

A             : Jelas bagi saya, kunci ilmu itu semuanya di buku dan saya harus membaca. Kalau saya memiliki masalah di cara membaca, saya harus mengatasi masalah itu. Saya lihat di bacakilat, ada tawaran solusi atas masalah membaca saya. Makanya saya ikut dari seminar sampai ke workshopnya.

Q             : Sekarang sudah berapa buku yang bapak telah diselesaikan setelah mengikuti workshop bacakilat?

A             : Setelah pelatihan bacakilat, saya menyelesaikan tantangan membaca 10 buku dalam waktu 2 atau 3 minggu lah. Yang pasti kurang dari satu bulan. Di angkatan saya, saya orang kedua yang menyelesaikan tantangan membaca yang diberikan oleh coach Yulius.

Buku yang saya baca, saya selesaikan di samping kesibukan saya. Selain saya mengajar dari pagi sampai sore, di jumat sabtu minggu saya kuliah. Saya hanya punya waktu setelah sholat subuh sampai saya berangkat mengajar.

Alhamdulilah, saya bisa menuntaskan satu buku setiap hari dengan durasi per buku 1 jam 15 menit. Ini rata-rata waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan 1 buku. Ini juga selesai dengan mind mapping.

Q             : Kalau dikumpulkan dari awal sampai sekarang, sudah berapa buku yang bapak bacakilat?

A             : Berkisar 60 atau 70 buku (tanggal wawancara 20 Juli 2018, ed).

Q             : Dampak positif apa yang bapak rasakan dari bacakilat baik di aspek profesi, bisnis atau dengan keluarga?

A             : Yang jelas pertama sekali, tujuan awal saya karena ingin menyelesaikan tesis, alhamdulilah tesis saya sudah selesai. Sekarang tinggal menunggu ujian.

Kedua, kemampuan berbicara saya, baik di diskusi ilmiah ataupun di forum rapat, karena saya pimpinan sekolah yang mengharuskan saya memimpin rapat. Alhamdulilah yang saya bacakilat itu, di dalam diskusi, di dalam rapat itu keluar semua

Q             : Ada satu dua pengalaman menarik dari bacakilat?

A             : Rasanya saya sulit menjelaskan. Yang jelas, setelah selesai diskusi saya selalu bertanya-tanya, “Dari mana saya punya bahan untuk menyampaikan ini. Padahal saya tidak ada menyusun konsep, menyiapkan bahan. Saat diskusi berjalan, semua yang saya sampaikan mengalir saja dan sesuai dengan teori yang ada di buku”. Inilah yang paling saya sukai dari bacakilat.

Di dalam diskusi, baik itu di kampus atau di sekolah, hampir, hampir, hampir semua jawaban saya itu sesuai dengan buku yang pernah saya baca. Padahal saya tidak menghafal dan saya juga tidak tahu dari mana datanya.

Yang jelas, begitu masalah muncul, saya sudah punya solusi. Karena ini berkisar tentang manajemen pendidikan ya. Mengenai pengelolaan pesantren, pengelolaan sekolah, lembaga pendidikan, baik secara umum atau pun agama.

Semuanya, alhamdulillah sesuai dengan teori-teori yang ada di buku-buku yang telah saya bacakilat.

Q             : Pengalaman yang luar biasa banget ini pak.

Kita kembali ke teknik membaca yang tadi, kalau boleh membandingkan, menurut bapak lebih efektif mana, bacakilat atau speed reading? Bisa kasih tanggapan?

A             : Sangat efektif dengan bacakilat. Karena bacakilat menjawab apa yang kita butuhkan. Itu kuncinya.

Saya hanya dalam waktu satu jam atau satu jam setengah, saya menemukan apa yang saya inginkan. Sedangkan untuk speed reading, saya tetap butuh waktu karena saya belum terbiasa. Yaa tetap butuh energi terutama mata. Setelah speed reading mata akan lelah. Itu mesti istirahat. Sedangkan bacakilat, setelah bacakilat saya merasa lebih enjoy dan happy setelah itu.

Q             : Apa tanggapan teman-teman bapak saat mengetahui bapak menggunakan bacakilat dalam proses membaca bapak?

A             : Masalahnya sepertinya, masalah klasik. Mereka ingin menguasai bacakilat tapi terkendala di dana.

Q             : Mungkin teman-teman di luar sana belum percaya dengan bacakilat, bisa kasih tanggapan ke taman-teman khususnya mereka yang ingin belajar bacakilat?

A             : Saya rasa ada satu hal yang harus diperjelas oleh teman-teman yang penasaran dengan bacakilat. Sama seperti saya, awalnya saya menduga-duga kalau bacakilat itu bagaimana kita bisa membaca dengan cepat seperti speed reading. Tapi ternyata bacakilat adalah bagaimana membaca yang efektif dan efisien. Jadi buat teman-teman yang berminat belajar bacakilat yang perlu dipastikan adalah “kita mau seperti apa?”

Kalau fokus kita inginkan adalah kualitas, bacakilat adalah pilihan yang paling tepat. Karena dari puluhan atau ratusan buku, mungkin banyak hal yang kita baca berulang-ulang hanya itu-itu saja. Tapi dengan metode bacakilat apalagi dengan dibimbing dengan mind mappingnya itu akan sangat hemat waktu dan energi. Yakinlah setelah bacakilat apa yang kita inginkan dari membaca itu terpenuhi.

Pak Irwan yang mengikuti Workshop Bacakilat 3.0 batch 200 bulan April 2018 di Pekanbaru

Bagaimana menurut Anda akan cerita dari pak Irwan? Apakah Anda menghadapi masalah yang sama?

Apakah Anda dituntut menyelesaikan tugas akhir di perkuliahan Anda? Masalahnya motivasi membaca Anda yang up and down membuat proses menyelesaikan tuga akhir Anda terhambat. Ditambah dengan cara membaca yang membuat Anda merasa kelelahan saat membaca.

Jika Anda ingin waktu membaca Anda menjadi lebih efektif, mendapatkan apa yang dibutuhkan dari buku, memahami isi buku dengan pemahaman tinggi, dan bisa membantu Anda mempercepat proses belajar dan mengerjakan tugas akhir Anda, saya yakin bacakilat bisa membantu mengatasi masalah membaca dan belajar Anda.

Jika Anda terkendala dengan waktu dan uang, maka Anda bisa mengakses pelatihan bacakilat dalam bentuk online course. Yang Anda butuhkan hanya jaringan internet yang cukup baik untuk bisa mengakses dan mempelajarinya.

Anda bisa langsung mempelajari dan menguasai bacakilat dengan mengklik di sini.

So, silahkan tuliskan pemikiran Anda akan pengalaman alumni bacakilat di atas di kolom komentar. Anda juga bisa menanyakan pertanyaan yang mungkin kami missed tanyakan.

Sampai jumpa di tulisan dan pengalaman alumni bacakilat yang lain. Mari Bangun Indonesia Dengan Membaca

About the Author

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Leave a Reply 2 comments

Lina Zuhratul - September 14, 2018 Reply

Artikel sangat menarik

    Agus Setiawan
    Agus Setiawan - September 21, 2018 Reply

    Terim kasih. Semoga bisa membantu bu Lina

Leave a Reply: