Reading OCD: Waspadalah pada Hambatan Membaca Satu Ini!

Apakah Anda memiliki kebiasaan ini: suka mengulang bacaan berkali-kali? Apakah Anda sering batal menyelesaikan buku karena terus mengulangnya dari awal?

Iya,” jawab Anda.

Lalu, apa yang Anda rasakan?

Saya merasa bodoh. Saya merasa otak saya loading-nya lama banget. Memahami buku aja susahnya minta ampun. Harus mengulanginya berkali-kali,” jawab Anda dengan nada agak sedih.

Hmmmm. Bagaimana jika penulis katakan bahwa Anda tidak bodoh? Percayakah Anda?

Anda wajib percaya!Alasannya, yach, karena memang Anda tidak bodoh. Heheheh. Ada satu fakta mengejutkan mengapa Anda terus-menerus mengulang bacaan.

Apa itu?

Anda terus-menerus mengulang bacaan bukan karena Anda bodoh dan tidak paham, melainkan karena Anda RAGU dengan pemahaman Anda!

Anda terobsesi pada kesempurnaan! Anda ragu Anda sudah memahami paragraf dengan semupurna. Dan, karenanya, Anda mengulang-ulang bacaan. Anda takut kalau-kalau ada yang terlewatkan. Anda takut kalau-kalau pemahaman Anda keliru.

Dalam psikologi, obsesi terhadap kesempurnaan pemahaman disebut reading OCD (Reading Obsessive Compulsive Disorder). Sebagaimana penulis jelaskan di atas, penderita reading OCD terobsesi terhadap kesempurnaan pemahaman. Dan, obsesi itulah yang mendorongnya untuk terus-menerus mengulang bacaan. Ia ragu apakah pemahamannya sudah sempurna dan karenanya terus mengulang bacaannya.

Jadi, sekali lagi, Anda tidak bodoh! Anda tidak bodoh hanya karena Anda terus menerus mengulang bacaan Anda. Anda terus mengulang bacaan  karena Anda mengidap reading OCD, di mana Anda terobsesi pada kesempurnaan pemahaman.

Camkan itu! Heheheh.

Intinya, mulai sekarang, buang perasaan yang mengatakan bahawa Anda bodoh dan lamban dalam membaca buku.

Reading OCD merupakan salah satu bentuk kelainan OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Orang yang megidap OCD memiliki kecemasan yang berlebihan bahwa ia belum melakukan sesuatu dengan sempurna.

Selain reading OCD, ada berbagai bentuk OCD lainnya. Contoh, OCD di mana pengidapnya terus-menerus mengecek pintu rumah karena ragu apakah ia sudah mengunci pintu atau belum. Ada juga yang bentuk OCD-nya terus-menerus mengecek kompor. Ia ragu apakah ia sudah mematikan kompor dengan sempurna atau belum.

Dulu, penulis punya teman yang menderita OCD. Bentuk OCD-nya yaitu ragu-ragu dalam beribadah. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengulang wudu. Ia mengulangi wudu karena ia ragu apakah wudunya sudah sempurna atau belum. Ia tidak percaya diri dengan niatnya.

Kembali pada pembahasan, Jonathan Grayson, seorang pakar psikologi yang banyak meneliti soal OCD menjelaskan, ada beberapa sebab mengapa seseorang menderita reading OCD. Sebab-sebab itu antara lain

1. Obsesi kesempurnaan

Seseorang mengidap reading OCD dan terus mengulang bacaannya lantaran ia terobsesi pemahaman yang sempurna. Ia tidak yakin ia sudah memahami dengan sempurna apa yang dibacanya.

2. Ketidakpercayaan diri

Selain obsesi kesempurnaan, reading OCD juga bisa muncul lantaran ketidakpercayaan diri yang akut. Pengidap reading OCD tidak percaya diri dengan kemampuan/kecerdasannya. Ia mengulang-ulang bacaan untuk meyakinkan diri bahwa ia telah memahami buku dengan baik.

3. Keragu-raguan

Penyebab yang ketiga yaitu keragu-raguan. Reading OCD bisa muncul lantaran sang penderita ragu apakah ia sudah membaca buku dengan baik. Ia takut kalau-kalau ada yang terlewatkan atau ada pemahamannya yang keliru.

hambatan membaca

Nah, dari 3 penyebab di atas, kira-kira, mana yang menyebabkan Anda menderita reading OCD? Mana dari 3 penyebab di atas yang menjadi hambatan membaca Anda?

Sebenarnya, ketiganya sama saja. Obsesi terhadap KESEMPURNAAN pemahaman muncul lantaran sang penderita TIDAK PERCAYA DIRI dengan kemampuannya memahami bacaan. Dan, karena obsesi itu, muncul KERAGU-RAGUAN dalam dirinya apakah ia sudah memahami buku dengan baik, apakah ia sudah membaca buku dengan komplit atau tidak.

Sekarang, pertanyaannya, bagaimana cara menghilangkan hambatan membaca itu? Bagaimana menghilangkan reading OCD dalam diri Anda?

Hmmm, penulis akan mengajak Anda untuk membongkar fakta-fakta tentang membaca buku yang cukup megejutkan. Fakta-fatka itu akan membuka mata Anda, mencerahkan dan menyadarkan Anda untuk tidak perlu lagi khawatir bahwa Anda belum memahami buku dengan sempurna. Fakta-fakta itu akan membuka mata Anda bahwa Anda tidak perlu mengulang-ulang bacaan untuk mencapai pemahaman yang utuh.

Penasaran apa saja fakta mengejutkan itu?

1. Tidak keseluruhan isi buku penting

Tahukah Anda, tidak semua kalimat yang termuat dalam buku bacaan Anda penting!

Anda tidak percaya?

Penulis punya pengalaman menjadi editor salah satu penerbit buku pelajaran di Indonesia. Pengalaman itu memberikan pemahaman kepada penulis tentang seluk-beluk penulisan buku. Salah satu rahasia penulisan buku yaitu JUMLAH HALAMAN YANG DITARGETKAN OLEH PENERBIT. Pengarang buku harus memenuhi target itu. Kadang, targetnya minimal sekian halaman. Kadang dibatasi juga jumlah minimal dan maksimal halaman.

Lantas, apa arti penargetan itu?

Artinya, jika ide sang pengarang sedikit, sementara jumlah halaman yang ditargetkan banyak, maka ia perlu menambahkan beberapa konten dalam naskahnya demi memenuhi target.

Apabila idenya sedikit, ia bisa menyisipkan paragraf-paragraf yang tidak penting dalam naskahnya. Ia bisa menyisipkan paragraf basa-basi, atau paragraf yang hanya berupa informasi tambahan, yang jika informasi itu tidak terbaca sekali pun, tidak mengurangi pemahaman pembaca atas idenya.

Nah, jika tidak keseluruhan isi buku penting, maka Anda tidak perlu membaca semuanya. Anda bisa melewati bagian-bagian yang sekadar memberi informasi tambahan. Anda juga bisa melewati bagian-bagian yang hanya berisi basa-basi. Anda tidak perlu khawatir Anda melewatkan beberapa bagian dalam buku tersebut. Jadi, Anda tidak perlu mengulang-ulang membacanya.

Apa yang membuat Anda terobsesi terhadap kesempurnaan pemahaman yaitu Anda menganggap keseluruhan isi buku penting; Anda tidak boleh melewatkannya barang satu kata pun.

Dari situ, timbul kekhawatiran kalau-kalau Anda melewatkan satu kata. Dan, karenanya Anda terus mengulang bacaan untuk meyakinkan diri bahwa Anda sudah membacanya dengan penuh.

Akhirnya, jika kekhawatiran itu muncul setiap kali Anda membaca buku, lama-kelamaan, ia menjelma menjadi obsesi terhadap kesempurnaan pemahaman.

2. Anda sudah paham sebagian isi bacaan

Apa tema buku yang sering Anda baca? Pengembangan diri? Kebudayaan? Pengetahuan umum?

Jika kebanyakan buku yang Anda baca bertemakan pengembangan diri, maka lama-kelamaan, Anda familiar dengan istilah-istilah pengembangan diri, bukan? Lebih dari itu, Anda juga familiar dengan informasi yang berhubungan dengan dunia pengembangan diri.

Demikian sebaliknya, jika kebanyakan buku yang Anda baca adalah buku-buku pengetahuan umum, maka lama-kelamaan Anda hapal istilah-istilah yang lazim digunakan dalam ranah tersebut. Anda bahkan familiar dengan informasi-informasi yang terkait dengan pengetahuan umum.

Lantas, apa artinya itu?

Artinya, Anda tidak perlu membaca keseluruhan isi buku; Anda tidak perlu mengulang bacaan dari awal, dari bab pertama supaya pemahaman lebih mendalam.

Mengapa?

Sudah banyak yang Anda pahami dari buku yang Anda baca. Sudah banyak istilah yang Anda hapal betul maknanya dalam buku tersebut. Jadi, mengapa Anda berulang kali membacanya?

Obsesi pada kesempurnaan pemahaman bisa muncul lantaran Anda beranggapan setiap buku yang Anda baca memuat informasi yang benar-benar baru yang belum pernah Anda dengar/ketahui sebelumnya.

Anggapan itu bisa jadi tepat, terutama jika Ada membaca buku dengan tema yang acak. Hari ini, Anda membaca buku bertema politik. Besoknya, Anda membaca buku bertema psikologi. Besoknya lagi, Anda membaca buku bertema astronomi.

Tetapi, jika tema buku yang Anda baca sama setiap harinya, maka kemungkinan besar, anggapan di atas keliru. Ketika Anda membaca buku dengan tema yang sama setiap harinya, maka lama-kelamaan, Anda familiar dengan istilah-istilah yang lazim digunakan dalam ranah/tema itu. Banyak informasi yang sudah basi bagi Anda.

Nah, anggapan bahwa buku yang Anda baca memuat informasi yang benar-benar baru dan belum pernah Anda ketahui sebelumnya mendorong Anda untuk membaca keseluruhan isi buku. Anggapan itu membuat Anda khawatir apakah Anda sudah membaca semuanya atau belum. Akhirnya, kekhawatiran itu membuat Anda ragu dan mengulang-ulang bacaan karenanya.

Jika setiap membaca buku, timbul kekhawatiran seperti itu dalam diri Anda, maka lama-lama kekhawatiran itu menjelma menjadi obsesi terhadap kesempurnaan pemahaman.

3. Kalimat dalam buku tidak terisolasi satu dari lainnya

Fakta ketiga, kalimat dalam buku tidak terisolasi satu dari lainnya.

Apa maksudnya?

Maksudnya, masing-masing kalimat dalam buku yang Anda baca saling berhubungan. Kalimat pertama berhubungan dengan kalimat kedua. Kalimat kedua berhubungan dengan kalimat ketiga. Demikian seterusnya dan membentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Dalam buku yang berjudul Asking the Right Questions: A Guide to Critical Thinking dijelaskan, satu kalimat tunggal belumlah bisa dipahami secara utuh kecuali ia dihubungkan dengan kalimat lainnya dan membentuk argumen. Artinya, jika Anda membaca satu kalimat dan tidak menghubungkannya dengan kalimat berikutnya, maka pemahaman Anda tidak utuh.

Hal itu ibarat melihat rumah-rumahan yang disusun dari lego. Untuk menemukan bentuk rumah, Anda harus melihat keping-keping lego sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Anda tidak bisa menemukan bentuk rumah jika Anda hanya melihat satu keping lego di antara susunan itu.

Sama halnya dengan melihat rumah-rumahan (dari susunan lego) dengan hanya melihat sekeping lego di antara susunan itu, membaca kalimat yang sama berulang kali merupakan kekeliruan!

hambatan membaca

Mengapa?

Hal itu tidak akan membawa Anda pada pemahaman yang utuh. Membaca kalimat yang sama berulang kali sama dengan mengamati sekeping lego. Mengamati sekeping lego berjam-jam tidak akan membuat lego itu berubah menjadi sebentuk rumah. Ia akan tetap menjadi sekeping lego yang tanpa arti. Agar ia menjadi sebentuk rumah, Anda harus merangkainya dengan kepingan lainnya.

Sama halnya, membaca kalimat yang sama berulang kali tidak akan membuat kalimat itu menjadi sebentuk makna yang utuh. Ia akan tetap menjadi kalimat tunggal yang artinya tidak utuh. Untuk memahaminya secara utuh, Anda perlu merangkainya dengan kalimat-kalimat lainnya. Dan, itu artinya, Anda beranjak pada kalimat selanjutnya. Anda melanjutkan bacaan Anda, tidak mengulangi kalimat yang sama berkali-kali.

Reading OCD, di mana Anda mengulangi satu penggal kalimat atau satu paragraf berkali-kali bisa muncul lantaran metode membaca yang keliru. Anda mengira, setiap kalimat atau paragraf terisolasi dari yang lainnya. Anda mengira, pemahaman utuh bisa Anda dapatkan dari tiap-tiap kalimat.

Akibat dari anggapan di atas yaitu ketika Anda tidak paham kalimat yang Anda baca, Anda pun mengulanginya berkali-kali. Padahal, bisa jadi, penjelasan dari kalimat itu ada di kalimat berikutnya.

Bagaimana cara menghilangkan Reading OCD sebagai hambatan membaca?

Untuk menghilangkan reading OCD sebagai hambatan membaca, Jonathan Grayson menyarankan si penderita untuk menutupi bagian yang sudah dibacanya dengan kertas atau tangan.

Cara itu kucup berhasil bagi sebagian orang. Tetapi, bagi yang lainnya, cara itu tidak membantu.

Sebenarnya, ada metode membaca yang saaaaangat efektif yang dapat meminimalisir kecenderungan reading OCD.

Metode apakah itu?

Metode membaca Bacakilat!

Apa itu Bacakilat?

Bacakilat merupakan metode membaca buku satu halaman satu detik. Metode ini menggunakan kekuatan otak yang sangat dahsyat, yaitu pikiran bawah sadar. Karena menggunakan pikiran bawah sadar, Anda tidak perlu terlalu mengerahkan fokus pada buku yang Anda baca. Anda dapat membaca buku dengan rileks. Tidak ngoyo.

Sekali pun tidak ngoyo, dengan Bacakilat, Anda dapat menyerap konten buku dengan lebih cepat dan lebih baik. Anda jauh lebih mudah memahami isi buku. Tidak perlu lagi Anda khawatir ada informasi yang terlewatkan yang membuat Anda mengulang-ulang bacaan.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Bacakilat, Anda dapat membacanya di sini.

About the Author

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: