Sedang Menghadapi Masalah Pelik? Mind Map adalah Salah Satu Kunci Sukses Memecahkannya

 

Masalah apa yang sedang Anda hadapi saat ini? Mengatur keuangan rumah tangga? Memperbaiki hubungan yang renggang dengan mertua? Stres? Heheheh, apa pun masalah Anda, siapkan kertas dan pena untuk mengatasinya.

Lho, kok?” Yup! Dalam artikel ini, penulis akan share kepada Anda cara mengatasi masalah dengan mind map.

Di sini, mind map tidak menawarkan solusi atas masalah yang sedang Anda hadapi. Mind map digunakan hanya untuk membantu Anda mengurai dan mengidentifikasi masalah Anda serta membantu Anda menyusun strategi untuk memecahkannya.

Mengapa mind map? Karena teknik ini memiliki keunggulan yang sudah teruji. Bahkan, penulis sendiri menggunakan teknik ini untuk membuat kerangka tulisan. Hasilnya, sangat memuaskan! Ide penulis yang tadinya abstrak dan saling tumpang tindih menjadi jelas dan sistematis dengan bantuan mind map.

Jika penulis mampu mengaplikasikan mind map untuk menuliskan peta pikiran penulis, maka dengan cara yang sama, Anda pun dapat mengurai permasalahan yang sedang Anda hadapi dan menyusun strategi untuk mengatasinya.

Nah, untuk itu, simak terus artikel ini hingga selesai. Semoga, artikel ini dapat membantu Anda memecahkan masalah pelik yang sedang Anda hadapi dengan bantuan mind map.

Sekarang, mari kita mulai dengan definisi mind map.

Definisi Mind Map

Mid map adalah peta pikiran yang berupa diagram berwarna yang terdiri dari gambar, garis, dan kata atau pun frasa seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Mungkin Anda akan bertanya, “Mengapa bentuk mind map seperti itu? Bukankah lebih mudah menyusun outline?”

Well, Tony Buzan, sang penemu mind map, yang juga seorang konsultan pendidikan, mendasarkan prinsip kerja mind map pada cara kerja otak. Menurutnya, selain berpikir secara linear, terkadang otak juga berpikir secara radial.

Nah, mind map didasarkan pada cara berpikir radial.

Pertanyaannya, apa bedanya berpikir secara linear dengan berpikir secara radial?

Untuk menjawab pertanyaan itu, mari simak penjelasan berikut.

Berpikir Linear

Berpikir secara linear berarti berpikir secara logis. Jika a = b, dan b = c, maka a = c. Nah, cara berpikir seperti itu disebut berpikir secara linear.

Berpikir secara linear sangat bermanfaat dalam menyelesaikan masalah Anda sehari-hari. Saat menghitung jumlah tagihan listrik yang harus Anda bayar, atau saat memperbaiki mesin kipas angin yang rusak, Anda memanfaatkan pemikiran linear untuk menyelesaikannya.

Berpikir secara linear menghasilkan solusi yang pasti. “Benar” dan “salah”nya kesimpulan yang kita ambil terkait suatu masalah dapat ditentukan dengan jelas.

Sebagai contoh, saat kita mengambil kesimpulan terkait dengan dua pernyataan ini:

Pernyataan 1:  a = b

Pernyataan 2:  b = c

Maka, dengan pasti, kita dapat menyimpulkan bahwa a = c. Dan, benar atau salahnya kesimpulan yang kita ambil sehubungan dengan dua pernyataan itu sangat jelas. Saat kita menyimpulkan bahwa a = c, maka kesimpulan kita benar (correct), sedangkan saat kita menyimpulkan bahwa a > b, maka kesimpulan kita salah (incorrect).

Kita tidak dapat mempertimbangkan alternatif lainnya selain kesimpulan di atas.

Berpikir Radial

Bagaimana pun pentingnya pemikiran linear, cara berpikir seperti itu tidaklah cukup manakala kita menghadapi masalah yang berkaitan dengan persepsi.

Hah, masalah yang berkaitan dengan persepsi? Apaan, tuh?” tanya Anda. Masalah yang berkaitan dengan persepsi sering kita jumpai manakala kita bermain tebak-tebakan atau teka-teki.

Saat bermain teka-teki, kita disuguhkan dengan pertanyaan yang terbuka terhadap banyak jawaban. Sebagai contoh, pertanyaan: “Apa bedanya rumah dengan kepala?” Tentu saja, kita dapat memikirkan alternatif jawaban sebanyak-banyaknya, bukan? Nah, saat kita bisa memikirkan alternatif jawaban yang sebanyak-banyaknya, berarti kita sedang menghadapi masalah yang berkaitan dengan persepsi.

Berpikir Radial dan Mind Map

Saat kita menghadapi masalah yang berkaitan dengan persepsi, kita disarankan untuk berpikir dengan pemikiran radial.

Jika digambarkan, pemikiran radial hampir mirip dengan sebatang pohon lengkap dengan cabang dan rantingnya. Ide pokok atau masalah digambarkan sebagai batangnya; Sementara itu, cabang-cabangnya menggambarkan solusi alternatif yang dapat kita gunakan untuk memecahkan masalah itu; Nah, ranting dari masing-masing cabang adalah penjabaran mengenai masing-masing solusi.

Selain untuk mencari solusi, kita juga dapat memanfaatkan pemikiran radial untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan masalah yang sedang kita hadapi dan mengesampingkan faktor-faktor yang tidak berhubungan dengan masalah itu.

Dalam konteks ini, batang pohon menggambarkan masalah yang kita hadapi, sedangkan cabanng-cabangnya menggambarkan faktor-faktor yang berhubungan dengan masalah itu. Nah, ranting dari masing-masing cabang menjabarkan hubungan faktor itu dengan masalah kita.

Anda pun dapat memperluas penggunaan pemikiran radial sesuai dengan kebutuhan Anda. Pemikiran radial dapat digunakan untuk memetakan ide atau membuat kerangka tulisan. Pemikiran radial juga dapat digunakan ketika meringkas sebuah buku. Ia juga dapat dimanfaatkan ketika Anda mendefinisikan suatu konsep.

Nah, rupanya, terinspirasi dengan cara berpikir radial yang mirip penampakan pohon inilah Tony Buzan menciptakan teknik berpikir Mind Map. Maka dari itu, tidak heran jika bentuk mind map hampir mirip dengan pohon yang terdiri dari banyak cabang dan ranting, seperti pada gambar di atas.

Mengapa Mind Map?

Sebelum tiba pada pembahasan mengenai cara membuat mind map, mungkin Anda akan bertanya, mengapa harus menggunakan mind map untuk memecahkan masalah yang sedang Anda hadapi.

Pada bab sebelumnya, sudah penulis jelaskan bahwa mind map mendasarkan cara kerjanya pada prinsip berpikir radial. Dengan begitu, saat menggunakan mind map, kita secara langsung dituntun untuk berpikir secara radial. Singkatnya, mind map membantu otak kita untuk berpikir secara radial.

Nah, dengan berpikir secara radial, kita mampu mengidentifikasi masalah kita, menentukan faktor-faktor penyebab masalah kita dan mengesampinngkan faktor-faktor yang tidak berhubungan dengan masalah kita. Dan, yang terpenting, kita dapat mempertimbangkan strategi dan solusi untuk memecahkan masalah itu dari berbagai sudut pandang.

Selain keuntungan di atas, mind map juga membantu kita mengingat peta pemikiran kita. Mind map juga membantu kita memahami buku yang kita baca. Ia juga membantu kita menjabarkan dan memperjelas ide kita sedemikian sehingga sistematis, tidak abstrak dan tumpang tindih.

Cara Membuat Mind Map

Setelah mengetahui alasan Anda perlu menggunakan mind map, sekarang saatnya untuk mengetahui cara membuat mind map. Tetapi, sebelumnya, Anda harus mengetahui komponen-komponen yang menyusun mind map. Ini diperlukan supaya mind map yang Anda buat dapat berfungsi secara maksimal.

Komponen Penyusun Mind Map

Mind map terdiri dari gambar, garis, kata atau frasa, dan warna. Secara hierarkis, mind map terdiri dari pokok pikiran, cabang-cabang, dan ranting.

Pokok pikiran

Sebuah mind map mengandung satu ide pokok atau masalah yang ditulis di tengah. Ide pokok direpresentasikan dengan kata kunci yang dapat berupa gambar, kata tunggal, atau frasa.

Cabang

Selain mengandung ide pokok, sebuah mind map juga mengandung cabang. Pada cabang-cabang inilah penjabaran dari ide pokok ditulis.

Sebagaimana ide pokok, penjabaran dari ide pokok (cabang) diwakili oleh kata kunci, yang dapat berupa gambar, kata tunggal, atau pun frasa.

Ranting

Ranting pada sebuah mind map berfungsi untuk menjabarkan sub-ide (cabang). Dan, seperti ide pokok dan cabang, penjabaran sub-ide (ranting) diwakili oleh kata kunci yang dapat berupa gambar, kata tunggal, atau frasa.

Gambar

Gambar pada mind map digunakan untuk mewakili ide atau penjabaran dari ide. Mengapa gambar? Karena gambar dapat merangsang otak kita untuk berpikir secara kreatif alias radial.

Satu gambar dapat memiliki arti yang tak terhingga. Selain itu, gambar juga lebih attractive. Maksudnya, gambar dapat menarik perhatian kita. Dengan gambar, otak kita tidak merasa bosan mengakses mind map yang kita buat.

Garis

Dalam sebuah mind map, garis digunakan untuk menghubungkan ide pokok dengan penjabaran (cabang)nya, serta menghubungkan cabang dengan ranting.

Garis yang digunakan untuk menghubungkan ide pokok dengan cabang dibuat lebih tebal dibanding garis yang digunakan untuk menghubungkan cabang dengan ranting.

Garis digambar sedemikian sehingga berbentuk kurva alias melengkung. Gunanya, supaya otak kita tertarik saat mengakses mind map yang kita buat.

Kata atau frasa

Seperti gambar, kata atau frasa digunakan untuk mewakili ide pokok atau penjabaran (cabang)nya. Dalam konteks ini, peran gambar, kata, dan frasa adalah sebagai kata kunci yang mewakili konsep dari ide pokok, sub-ide (cabang), dan penjabaran dari sub-ide (ranting).

Sebagai kata kunci, penulisan konsep ide pokok, cabang, dan ranting cukup diwakili dengan satu kata, frasa, atau gambar.

Nah, dengan kata kunci, otak kita terrangsang untuk mendefinisikan atau menjabarkan konsep tersebut dari berbagai alternatif sudut pandang.

Warna

Warna digunkan untuk membuat mind map semakin attractive alias menarik. Gunanya, supaya otak kita tidak bosan saat mengaksesnya.

Warnai gambar, kata, frasa, dan garis pada mind map Anda dengan warna sesuka Anda. Buatlah mind map Anda colorful, penuh warna. Semakin colorful, maka otak Anda akan semakin tertarik dengan mind map yang Anda buat.

Oya, dengan gambar, kata atau frasa, dan warna, kita menjadi lebih mudah mengingat peta pemikiran kita.

Peralatan yang Digunakan

Setelah mengetahui komponen penyusun mind map, sekarang mari kita cari tahu peralatan yang dibutuhkan untuk membuat mind map.

Kertas

Kertas digunakan untuk membuat diagram mind map di atasnya.

Siapkan selembar kertas minimal berukuran A4.

Sipdol warna

Sipdol warna digunakan untuk membuat gambar, kata, frasa, dan garis pada mind map.

Cara Membuat Mind Map

1. Sediakan selembar kertas, minimal berukuran A4. Atur sedemikian sehingga kertas dalam posisi landscap/ horizontal.

2. Tuliskan ide pokok di tengah-tengah kertas. Ide pokok dapat diungkapkan dengan kata kunci, yang dapat berupa gambar, kata tunggal, atau frasa tunggal.

Pilih salah satu di antara ketiganya yang menurut Anda paling mewakili ide pokok tersebut. Jangan lupa, warnai ide pokok.

3. Buatlah garis-garis cabang yang berpusat pada ide pokok, dan tuliskan masing-masing sub-ide atau penjabaran dari ide pokok di atas garis-garis tersebut.

Perlu diperhatikan, garis dibuat sedemikian sehingga berbentuk kurva alias melengkung. Anda juga perlu mewarnai garis tersebut dengan warna kesukaan Anda.

4. Buat garis-garis ranting yang berpusat pada masing-masing sub-ide (cabang). Tuliskan penjabaran dari sub-ide (cabang) di atas garis-garis tersebut.

Sebagaimana menuliskan ide pokok dan sub-ide, Anda tidak perlu menuliskannya secara lengkap. Anda cukup menuliskan kata kunci yang dapat mewakili masing-masing penjabaran dari sub-ide.

Nah, kata kunci dapat berupa gambar, kata tunggal atau pun frasa.

Garis ranting dibuat sedemikian sehingga lebih tipis dibanding garis cabang. Tujuannya, supaya otak dapat dengan mudah membedakan antara sub-ide (cabang) dengan penjabaran dari sub-ide (ranting).

Jangan lupa, warnai pula garis ranting dengan warna sesuka Anda. Garis ranting juga dibuat sedemikian sehingga berbentuk lengkung, ya.

5. Jika penjabaran sub-ide (ranting) masih bisa dijabarkan lagi, maka ulangi langkah di atas hingga tidak ada lagi komponen yang dapat dijabarkan.

Hal yang Perlu Diperhatikan

Saat membuat mind map, Anda perlu memperhatikan bahwa ide pokok, sub-ide, dan penjabaran dari sub-ide cukup diwakilkan dengan satu kata kunci.

Sebagai contoh, saat Anda hendak membuat mind map tentang rancangan anggaran belanja bulanan keluarga Anda.

Ini berarti, ide pokok dari mind map Anda adalah rancangan belanja bulanan. Nah, Anda tidak perlu menuliskan ide pokok itu dengan kalimat penuh. Sebaliknya, Anda cukup menuliskan kata kuncinya saja, yang dapat berupa gambar, kata tunggal, atau frasa.

Dalam contoh di atas, ide pokok diungkapkan dengan kata kunci yang berupa frasa ‘belanja bulanan’, misalnya.

Untuk penulisan sub-ide (cabang), penjabaran dari sub-ide (ranting), dan seterusnya diberlakukan aturan yang sama dengan penulisan ide pokok.

Kedua, jangan lupa, masing-masing sub-ide ditulis di atas garis cabang; Masing-masing penjabaran dari sub-ide ditulis di atas garis-garis ranting.

Jika ranting masih dapat dijabarkan lagi, buat garis-garis yang berpusat pada masing-masing ranting. Kemudian, masing-masing penjabaran dari ranting pun ditulis di atas garis-garis itu.

Oya, garis cabang harus lebih tebal dibanding garis ranting; Garis ranting harus lebih tebal dari garis-garis turunannya. Demikian seterusnya.

Nah, demikianlah cara membuat mind map untuk memetakan permasalahan yang sedang Anda hadapi. Anda dapat membuat mind map Anda sendiri dengan menerapkan cara-cara di atas.

Selain dapat digunakan untuk memetakan permasalahan Anda, mind map juga dapat digunakan untuk menyusun berbagai strategi untuk memecahkan masalah tersebut.

Dengan mind map, baik memetakan permasalahan Anda mapun menyusun strategi memecahkannya dari berbagai sudut pandang dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Sekarang, sudah tidak sabarkah Anda membuat mind map Anda sendiri? Jangan ragu untuk berbagi dan berkomentar.

About the Author

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: