Apakah Anda Sering Lupa saat Ujian? Temukan, Bagaimana Seorang Alumni Bacakilat Bisa Mengatasi Kebiasaan Lupanya pada Saat Menghadapi Ujian dan Menyelesaikan Ujiannya dengan Hasil Sempurna

Sudah menjadi hal yang biasa jika saat ujian seseorang tiba-tiba lupa akan jawaban dari soal yang harus dijawab. Dan setelah meninggalkan ruangan ujian jawabannya muncul dengan tiba-tiba. Apa yang dilakukan kebanyakan orang jika sudah seperti ini?

Rata-rata akan mendumel dan marah ke diri sendiri, “Mengapa jawabannya baru muncul sekarang, sih? Coba kalau ingat pas waktu ujian, hasil ujianku pasti akan lebih baik.”

Apakah Anda juga pernah mengalami lupa jawaban saat ujian berlangsung?

Jika iya, berarti kita sama. Saya juga pernah mengalami hal yang sama. Sama persis hahaha

Baru-baru ini saya mendapatkan kabar kalau salah satu alumni Bacakilat dari Medan juga mengalami hal yang hampir sama. Hanya saja bedanya, jawaban yang dibutuhkan muncul masih pada saat ujian berlangsung.

Ibu ini, ibu Shiesta, mengaku bahwa ia adalah orang yang pelupa. Jika sudah lupa, ya sudah, ia lupa. Sulit baginya untuk mengingat informasi yang ia butuhkan saat itu. Tidak terkecuali pada pada saat ujian ataupun saat berinteraksi dengan orang lain.

Bagaimana ceritanya? Silahkan lanjutkan membaca. Anda juga akan mendapatkan cerita perkembangan dirinya setelah mengikuti workshop bacakilat.

Enjoy ya…

 

A             : Saya Shiesta Melisa Halim. Profesi sebagai seorang guru, tepatnya jabatan fungsional adalah kepala sekolah. Saya ikut bacakilat bulan Februari 2018 batch 195 di kota Medan.

Q             : Bisa diceritakan masalah membaca yang ibu hadapi sebelum mengenal bacakilat?

A             : Tentang membaca, ya jujur, kita-kita yang angkatan, (usia 35-45 tahun, ed), rata-rata sih ga suka membaca. Apakah di medan atau di jakarta. Kalau di jakarta, saya kurang tahu ya. Tapi di medan, kebanyakan generasi kami-kami ini kurang suka untuk membaca. Itu pertama.

Setelah saya menjabat sebagai kepala sekolah, saya mau, pengetahuan dan wawasan saya menjadi lebih luas. Sehingga saya harus membaca.

Kebetulan di tempat penjualan buku, saya baca-baca judulnya, “Oh ini bagus. Ini bagus”. Beli dan bawa pulang ke rumah. Baca satu dua halaman, saya sudah ngantuk.

Saya tidak pernah menyelesaikan buku yang telah saya baca karena terlanjur bosan. Paling banyak itu setengah halaman. Karena bosan saya coba baca buku yang lain dan kejadian yang sama terjadi lagi.  Saya bosan, ngantuk yang buat saya jadi malas baca.

Makanya saya merasa, “Lho koq gitu ya? Koq saya malas untuk mau membaca?”

Q             : Kira-kira untuk bisa menyelesaikan setelah buku, ibu butuh waktu berapa lama?

A             : Tergantung. Kalau memang rajin untuk mau baca, mungkin 2 minggu selesai. Tapi kalau tidak rajin dan sibuk, mungkin 2 bulan juga tidak selesai-selesai.

Q             : Agar bisa menambah wawasan, solusi apa yang ibu gunakan agar bisa membaca lebih efektif?

A             : Kalau untuk membaca lebih efektif, saya menangkap inti dari bukunya saja. Contoh saya sudah baca sampai setengah buku, saya menangkap inti-intinya saja. Ya, walaupun, awalnya merasa tidak puas sih, karena saya belum selesai baca. Selain membaca saya berbincang-bincang dengan praktisi pendidikan untuk menambah wawasan saya. Mendengar radio tentang hal-hal pendidikan, nah itu menambah wawasan saya. Tetapi untuk membaca, ya itu tadi (menangkap inti dari buku, ed), berhenti sampai di situ.

Q             : Okey. Pernah mendengar teknik membaca selain bacakilat sebelumnya ibu?

A             : Teknik membaca secara profesional, sih belum. Artinya profesional sampai mengikuti seminar-seminar dan workshopnya. Tapi, waktu kami mendatangkan seorang trainer (ke sekolah, ed), beliau ada menceritakan sedikit saja tentang cara beliau membaca buku. Dalam sehari bisa selesai 10 buku.

Saya terkejut. Saya langsung tanya, “Lah bagaimana bisa?”. Tipsnya adalah, “Dalam satu buku terdiri dari beberapa bab. Misalnya dalam satu buku ada 10 bab. Berarti di pertengahan di bab 5, “kamu baca yang bab 5 itu semua”, pasti kamu sudah mendapat semua inti dari buku ini”, jawabnya.

Saya tidak percaya dengan apa tips membaca yang disampaikannya. “Koq bisa baca hanya bab 5 saja, saya sudah tahu seluruh isinya?” Saya tidak percaya. Saya hanya dengar begitu saja. Praktekkan sih masih belum karena ga percaya juga hahaha

Q             : Saya kira tadinya ibu praktekin lho? hahaha

A             : Ga, ga. Soalnya saya tidak percaya. Masa iya sih. Ga ahh. Jadi anggap angin berlalu aja hahaha

Q             : Lalu apa alasan ibu mengikuti pelatihan bacakilat?

A             : Awalnya saya melihat di facebook ada iklan bacakilat. “Uhh sepertinya ada sesuatu yang mengena ke saya, mengena ke target saya (membantu memiliki wawasan luas dari membaca buku, ed)”.

Memang saya ingin menguasai satu buku (dalam waktu cepat dengan pemahaman tinggi, ed). Saat baca iklannya, “membaca satu detik” yah, jadi bingung juga, ada tanda tanya besar.

“Apa bisa satu detik satu halaman? Bagaimana cara membacanya?” Karena penasaran saya ingin mempelajarinya. Makanya saya mengikuti pelatihan bacakilat.

Q             : Setelah ibu mengikuti pelatihan bacakilat dari bulan februari sampai sekarang, sudah berapa banyak buku yang telah ibu selesai baca?

S              : Nah, kalau untuk bacakilatnya sendiri, sehari saya bacakilat minimal satu buku. Ini hanya bacakilat. Tetapi untuk buku yang telah dimind map, itu kalau dikumpulkan hampir 30 mind map, hampir. Belum mencapai 30. Kalau saya mau baca mind map, saya baca di sekolah.

Saat ketemu bahan-bahan (informasi, ed) dari buku, saya bacakilat. Kalau di kuliahan ada buat makalah, saya cari jurnal di internet. Setelah ketemu kemudian saya bacakilat. Begitulah aktivitas membaca saya. Minimal dalam sehari saya ada bacakilat 1 buku.

Q             : Setelah bacakilat setiap hari dan menyelesaikan hampir 30 buku plus mind mapping, dampak positif apa yang ibu rasakan di dalam profesi, dan kehidupan personal?

A             : Pertama, secara intelektual wawasan saya bertambah. Yang tadinya saya tidak tahu, sekarang saya sudah tahu lebih banyak. Tetapi yang sangat, sangat, sangat saya rasakan di diri saya adalah sekarang saya ngomong tidak perlu mikir panjang, asal keluar saja, asbun namanya, asal bunyi aja, sekarang sudah bisa.

Dulu mau ngomong itu rasanya gagap (sulit, ed), harus mikir panjanggg baru bisa ngomong (mengeluarkan kata-kata, ed). “Lho, sekarang koq saya bisa langsung ngerocos (lancar, ed) ya? Koq saya ngomongnya bisa panjang lebar ya?” Itu yang saya rasakan. “Ini dari mana ya?” Saya baru sadar kalau saya bisa begini karena telah bacakilat banyak buku.

Q             : Bisa cerita satu dua pengalaman yang paling menarik dari bacakilat?

A             : Yang paling menarik ya?? Hmm, oke. Waktu ujian kuliah. Biasanya, saya orangnya pelupa. Apalagi yang namanya ujian yang jawabanya pilihan berganda. Aduhhh, saya merasa itu paling sulit. Soalnya jawabanya pasti menjebak. Bisa a, bisa b. Jadi saya sudah angkat tangan terlebih dulu kalau ujian jawabannya pilihan berganda.

Pada saat itu, setelah mengikuti workshop bacakilat, kebetulan saya ujian 2 kali dalam waktu yang berbeda. Dalam 2 kali ujian saya menemukan kebuntuan, “Oke, saya kan sudah bingung. Yang a atau yang b ya?” Saya berbicara ke diri saya sendiri.

Karena tidak tahu jawabanya, saya tinggalin dan menjawab soal yang lain. Nah, tiba-tiba dalam waktu 1 sampai 2 menit kemudian, jawabannya muncul, “Ohh ini tho, itu-itu jawabanya. Udah pasti 100% jawabannya benar”. Saya langsung menjawab soal yang tadinya saya tidak tahu.

Jadi saat saya paksa berpikir jawabanya tidak muncul. Saya tinggalin dan kerjakan yang lain. Tiba-tiba jawabannya muncul. Saya sampai kaget dan langsung cepat-cepat menjawab. Itu terjadi dua kali.

Yang kedua ini bukan pilihan berganda tapi esai. Di mana kita harus menjelaskan. Ada satu kata yang saya lupa. “Aduhhh ini pola asuh. Satu demokrasi, satu yang seperti killer begitu, satu lagi apa ya?” sambil saya bertanya-tanya ke diri saya. Permisif jawabnya. “Tapi apa ya?” saya ternyata lupa permisifnya. Saya hanya ingat demokrasi dan otoriter itu.

Saya mentok. Udah saya tinggalkan, jawab pertanyaan yang lain dan ehh tiba-tiba jawabanya muncul. Permisif! Wahhh saya langsung cepat-cepat menulis hahaha…

Saya sampai terkaget-kaget. Biasanya kalau memang saya lupa, ya sudah lupa, ga pernah bisa muncul jawabannya. Ini koq bisa ya? Saya sampai 2 kali begitu.

Yang ketiga kali, waktu saya ngobrol-ngobrol dengan teman. Saat itu saya juga lupa kata kunci yang saya mau sampaikan. Ya sudah saya lanjutin obrolannya, ehh tiba-tiba muncul apa yang ingin saya sampaikan. Saya bilang ke diri saya, “Ehh ini nih kata-kata itu haha”.

Jadi total ada 3 kali saya mengalami hal serupa ini. Tiba-tiba muncul (ide yang ingin disampaikan, ed) saja di pikiran sadar saya.

Q             : Boleh tahu ibu sedang kuliah untuk S1 atau S2?

A             : Saya sedang ambil S1 di bidang pendidikan. Dulunya saya diploma akuntansi. Jadi saya banting stir ke pendidikan. Ya sudah, saya mulai dari nol. Ambil S1 pendidikan hehehe.

Padahal sudah emak-emak (ibu-ibu, ed), sudah punya keluarga, punya anak, mau kuliah lagi, memang ekstranya ekstra capeklah, begitu hahaha

Q             : Yang ibu rasa kalau tadinya ibu pelupa, sekarang saat ujian ibu sudah tahu dengan jawabannya?

A             : Benar. Dan satu lagi tentang kuliah ini. Saat ujian, sebenarnya saya tidak belajar tapi hanya bacakilat saja. Iya tahulah seorang ibu rumah tangga mau belajar lagi seperti mahasiswa yang lainnya tidak mungkin bisa, iya kan? Saya hanya bacakilat. Yaaa paling 15 menit. Udah okelah semua.

Nah, setelah mengikuti workshop, saya melakukan bacakilat dan mind map. Hasilnya luar biasa. Saya bisa mengingat lebih banyak. Bagi saya bacakilat membawa dampak untuk saya, bukan hanya untuk membaca tapi siap sedia menghadapi ujian.

Q             : Dari sekian banyak gol, mungkin ibu punya gol yang ingin dicapai tahun ini, kira-kira berapa gol yang sudah tercapai dengan bantuan bacakilat?

A             : Kalau saya, gol yang pertama pastinya agar saya punya wawasan yang luas. Artinya saya harus lebih tahu, lebih paham (berwawasan, ed) dari guru-guru saya. Kan saya seorang kepala. Jadi gol saya ingin menambah wawasan.

Kedua itu, saya mau mengimprovisasi cara berbicara dan berpidato saya di depan guru-guru. Saya rasa kedua gol ini sudah hampir tercapai. Artinya sudah otwlah (sudah menjadi, ed) untuk ke arah sana (terwujud, ed).

Soalnya, kenapa? Dari wawasan, saya sudah merasa tahu lebih banyak dari sebelumnya. Yang kedua saat ngomong di depan guru-guru. Yang awalnya dulu pasti merasa gugup, kalau sekarang sudah tidak gugup lagi.

Cara saya berkomunikasi ke guru-guru juga sudah berbeda. Kalau dulu saya mikir mau ngomong apa, sekarang saya bisa nyerocos panjang lebar tanpa mikir karena bisa menghubungkan satu hal ke hal yang lain.

Q             : Selamat ya ibu atas pencapaiannya. Semoga semakin bagus lagi kedepannya.

A             : Sama-sama.

Q             : Terus teman-teman ibu tahu kalau ibu menggunakan bacakilat dalam proses membaca ibu?

A             : Kalau teman-teman di kantor masih belum. Karena awalnya saya belum berani ngomong ke tim. Kenapa?

Karena saya mau buktikan ke diri saya, apakah memang benar bacakilat bekerja pada diri saya. Soalnya kalau seorang kepala harus dipercayai, bukan asal bunyi “Seminar ini bagus, seminar itu bagus”. Saya tidak mau begitu (memberikan informasi yang ia sendiri belum mendapatkan hasilnya, ed). Jadi saya buktikan ke diri saya dulu.

Nah, kebetulan tempo hari di angkatan 195 saya ada mengajak satu teman (Ikut workshop bacakilat, ed) dan kami sering berkomunikasi mendiskusikan tentang bacakilat.

Saya menilai dia juga merasakan dampak dari bacakilat, dia menilai saya juga, “Kamu sudah berubah, sekarang mencerotos panjang, (berbicara, ed)” hahaha. Jadi saya tambah yakin.

Nanti setelah saya ujian semester, di bulan ini (bulan Juli 2018, ed), saya bisa lebih fokus ke mind map (menuntaskan satu buku dengan teknik bacakilat, ed) saya. Ya mudah-mudahan sehari bisa menyelesaikan satu mind map bacakilatnya (menyelesaikan 1 buku, ed).

Dan semakin banyak saya mind map, saya semakin yakin dan mudah-mudahan, secepatnya saya bisa memberitahukan kepada teman-teman, rekan-rekan kerja saya di kantor bahwa saya menggunakan metode bacakilat.

Bacakilat ini sangat mempengaruhi kinerja saya baik secara wawasan intelektual maupun secara komunikasi dengan orang banyak.

Q             : Kalau keluarga tahu ibu?

A             : Keluarga tahu.

Q             : Apa tanggapan mereka?

A             : Awalnya bingung, “Mommy, mommy, kok baca bukunya cepat banget?” hahaha. Namanya anak umur 10 dan 7 tahun, pasti mereka tidak terlalu mengerti tentang proses mengcapture satu halaman satu detik.

Saya hanya bilang, “iya, mama sedang belajar”. “Belajar apa?”, tanyanya. “Belajar baca satu buku dengan secepat mungkin. Artinya secepat mungkin dalam satu buku ini mama bisa menghabiskan 2 jam”, kata saya. “Jadi mama kenapa cepat-cepat balik halaman bukunya?”, tanya anak saya. Iya, mama melihat inti-inti bukunya saja”, balas saya. “Ohh begitu ya mama”.

Kalau suami juga bingung, “lho, kenapa belakangan ini, waktu awal selesai workshop bacakilat, kenapa kamu sering baca-baca dan baca buku ya setiap harinya?” saya bilang, “Saya kan sudah ikut workshop bacakilat, jadi saya mau membuat mind map. Awalnya susah”, saya bilang, “karena bingung-bingung”.

Tapi, karena dicoba terus dan bersama trainernya bapak Yulius memotivasi saya, “Oh ini sudah benar”. Jadi saya tambah yakin, “Oh mind map saya sudah benar”. Jadi apa yang saya lakukan, bacakilat sudah benar. Makanya saya tambah yakin dan setiap hari bacakilat.

Q             : Mungkin masih banyak teman-teman yang belum percaya akan bacakilat. Apa yang ingin sampaikan terutama mereka yang ingin belajar bacakilat?

A             : Kalau dari saya, kamu harus yakin dulu. Kalau kamu tidak yakin pasti tidak akan bisa. Kedua, kamu harus lakukan. Walaupun itu benar atau salah karena sesuatu yang baru itu pasti kita akan takut untuk melakukannya karena takut salah.

Oke, lakukan saja. Setelah lakukan, mind map sudah ada, kita bisa tanya pelatih kita, “Ini sudah benar belum?”. Untung saja pelatih yang saya dapatkan, bapak Yulius sangat memotivasi untuk terus melakukan.

Jadi saran saya adalah, pertama, yakin, harus yakin seyakin yakinnya. Kedua, praktekkanlah bacakilat ini. Ketiga, hasilnya pasti akan terlihat. Yang penting harus yakin dan lakukan bacakilat dan mind map lalu akan terasa hasilnya.

Q             : pertanyaan terakhir ibu, ada saran dan masukan untuk kami agar kami bisa meningkatkan pelayanan kami di masa depan?

A             : untuk pelayanan, saya rasa sudah sangat bagus. Di mana workshop bacakilat ini tidak hanya selesai setelah workshop. Uang dan waktu yang kita invest tidak sia-sia, tidak hanya pada workshop saja.

Tetapi, yang saya sangat appreciate adalah setiap minggunya hari rabu ada facebook live di grup alumni yang pak Agus memberikan arahan, motivasi, petunjuk tentang seputaran bacakilat secara langsung.

Terakhir ini, saya juga sangat terkejut dan appreciate membahas tentang mind map yang dibacakan oleh pak Agus yang dishare ke kami-kami. Jadi saya ngomong sendiri ke diri sendiri, “saya ga usah baca buku itu, beliau sudah menjelaskan ke kami-kami dan wawasan kami bertambah”.

Jadi saya rasa, semuanya pelayanan sudah sangat oke.

Ibu Shiesta Melita Halim yang mengkuti Workshop Bacakilat 3.0 batch 195 bulan Februari 2018 di Medan

Bagaimana menurut Anda akan cerita dari bu Sheista? Apakah Anda juga mengeluhkan hal yang sama khususnya pada saat ujian berlangsung?

Jika Anda sedang melanjutkan pendidikan di bangku universitas, maka salah satu manfaat yang bisa Anda dapatkan dengan menerapkan bacakilat pada buku pelajaran adalah waktu untuk belajar akan menjadi lebih singkat dan Anda bisa memahami pelajaran dengan lebih mudah dan ini bertahan lama.

Hal ini banyak dialami oleh alumni-alumni bacakilat. Kesibukan yang mereka jalani tidak menjadikan halangan untuk mendapatkan nilai terbaik.

Apakah Anda juga menginginkan hal yang sama dalam proses belajar Anda? Saya yakin Bacakilat akan sangat membantu untuk mencapai hal ini.

Di artikel yang lain, kami akan hadir dengan pengalaman-pengalaman yang tidak kalah serunya dari alumni Bacakilat di kota-kota yang telah kami adakan.

So, saya ingin mengetahui pendapat Anda akan hasil wawancara tim saya di atas atau mungkin ada pertanyaan yang perlu kami tanyakan? Mungkin kami missed menanyakannya. Silahkan tuliskan pemikiran Anda di kolom komentar.

Sampai jumpa di tulisan yang lain. Mari Bangun Indonesia Dengan Membaca

About the Author

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: