Perubahan Diri Seperti apa yang Anda Ingin Dapatkan Setelah Membaca Buku? Temukan, Perubahan Diri yang Dicapai oleh Seorang Alumni Bacakilat Asal Manado Setelah Membacakilat Lebih Dari 100 Buku

Jika motivasi Anda naik turun untuk menuntaskan satu buku, maka Anda harus menjawab satu pertanyaan penting sebelum membaca buku. Pertanyaan adalah, “Untuk apa saya membaca buku ini?”

Jika jawabannya tidak memotivasi Anda untuk membaca, adalah hal yang sangat wajar jika motivasi Anda naik turun dalam menuntaskan buku tersebut.

Ada banyak sekali alasan mengapa seseorang membaca buku. Bisa karena tugas atau tuntutan dari pekerjaan. Bisa juga karena mereka ingin mengisi waktu luang dengan sesuatu yang bermanfaat. Bisa juga karena ingin menjadi spesialisasi di bidang yang digelutinya.

Dari semua alasan mengapa seseorang membaca buku, satu alasan mendasar adalah mereka ingin meningkatkan kualitas diri. Bisa dalam cara berpikir, memperkaya wawasan sampai mengembangkan ide untuk dijadikan peluang usaha atau apapun yang membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik di saat ini dan masa depan.

Berbicara perkembangan atau pertumbuhan diri, ada satu cerita dari alumni bacakilat asal Manado yang baru-baru ini berhasil diinterview oleh tim saya.

Ceritanya bapak ini, pak Djonny mendapatkan banyak kemudahan di berbagai hal setelah ia secara konsisten membaca buku setiap harinya. Dari pengakuannya, ia yang dulunya selalu serius, sekarang sudah menjadi lebih santai dan lebih banyak senyumnya.

Bagaimana kisahnya, silahkan lanjut membaca perkembangan diri beliau setelah menjadi pembaca konsisten dengan bacakilat.

 

A             : Saya Djonny Pabisa. Saya bekerja sebagai pegawai negeri sipil di bidang pendidikan. Di awal pengangkatan saya sebagai pengembang model, terus berkembang dan sekarang saya menjadi dosen di Institut Pemerintahan Dalam Negeri, IPDN di Manado.

Selain mengajar kesibukan saat ini juga masih melekat tugas-tugas struktural yang sebelumnya saya emban yang saat ini belum ada pejabat pengganti. Selain itu saya juga sebagai konsultan pendidikan terutama untuk pengembangan metode dan juga aktif di organisasi kemasyarakatan. Fungsi utama saya sering kali memberikan arahan atau pengajaran kepada anggota-anggota organisasi kemasyarakatan.

Q             : Saat itu ikut Bacakilat di batch berapa pak?

A             : Saya mengikuti workshop bacakilat tanggal 28 April 2018 batch 205 dan yang menjadi narasumber pak Ricky Wijaya

Q             : Bisa cerita masalah membaca yang bapak hadapi sebelum mengenal bacakilat?

A             : Ternyata setelah saya mengenal bacakilat akhirnya saya sadar kalau saya ini adalah kolektor buku. Banyak buku yang saya beli tapi tidak ada satupun buku itu saya baca habis bahkan sampai tanggal 27 April 2018. Walaupun sudah banyak materi yang diberikan oleh bacakilat saat itu tetap saja saya belum bergeming dari kebiasaan lama di mana saya telah menjadi peserta seminar dan workshop bacakilat. Jadi biasanya baca buku hanya sesuai kebutuhan saja.

Akhirnya saya sadari ternyata banyak ide-ide yang jauh lebih bagus yang ada di dalam buku itu yang saya tidak dapatkan karena selama ini, sebelum mengikuti workshop bacakilat yang saya cari adalah informasi yang relevan dengan kebutuhan saya.

Q             : Lalu apa yang membuat bapak hanya menjadi kolektor buku? Artinya apa yang membuat bapak tidak bisa konsisten membaca buku setiap hari.

S              : Karena kesibukan. Kesibukan dan pemahaman saya akan membaca buku tidaklah harus selesai. Jadi didasarkan hanya pada kebutuhan semata tapi, kebutuhan itu sangat berbeda dengan substansi dari bacakilat.

Q             : Bisa dijelaskan perbedaanya?

A             : Kalau bacakilat kita menentukan apa yang kita inginkan. Ada what dan why yang harus ditetapkan di awal. Yang unik dari bacakilat adalah, meskipun saya sudah mendapatkan jawaban dari apa yang saya butuhkan tapi saya bisa menjelaskan semua isi buku yang telah saya baca. Bahkan setelah saya menyelesaikan satu buku pasti langsung tersedia bahan ajarnya (untuk diberikan ke mahasiswa, ed).

Jadi saya tidak sekedar hanya membuat mind mapping saja tapi langsung membuat sebagai bahan ajar dan siap untuk diajarkan. Itu bedanya. Kalau sebelumnya informasi itu hanya sebagai referensi saja.

Q             : Berarti buku-buku yang bapak baca adalah buku-buku yang akan diajarkan ke mahasiswa bapak atau…

A             : Tidak juga. Bahkan dengan bacakilat saya merasa bidang saya ini semakin banyak hybridnya (menguasai bidang baru, ed). Banyak hal yang kemudian membuka wawasan saya. Saya sadar bahwa ini pun saya bisa sebenarnya. Ini semua karena bacakilat.

Q             : Maksud bapak “Ini pun saya bisa” itu apa?

A             : Saya kan orang metode yang selama ini hanya berpikir dan menggeluti pengembangan metode belajar. Tapi ternyata saya menemukan bahwa saya adalah seorang motivator.

Ketika bercerita, saya selalu mengajak orang lain untuk tidak menghabiskan energi pada sesuatu yang tidak berguna. Baru-baru saja saya dikunjungi oleh mahasiswa kami dari IPDN untuk melihat nilai.

Kemudian pesan yang saya sampaikan ke mereka adalah, “Jangan pernah melupakan kata BERHASIL. Sekalipun Anda mengatakan, “Wah ini masalah” tapi selalulah lanjutkan dengan kalimat, “Betul ini masalah tapi target saya adalah berhasil.”

Ternyata saya juga orang yang kritis. Menempatkan diri sebagai seorang kritis yang benar seperti apa, itu saya temukan juga dari bacakilat. Menjadi seorang yang berguna dari kekritisan, itu juga saya temukan di bacakilat.

Banyak hybrid (menguasai bidang baru, ed) yang saya bisa dapat dari bacakilat. Saya bisa diskusi di bidang apa saja, pengembangan diri, manajemen dan masih banyak lagi. Bacakilat luar biasa.

Q             : Artinya bapak merasa dengan bacakilat bisa mengeksplor kemampuan bapak yang selama ini dirasa tidak mungkin juga ya?

A             : Sepakat. Sepakat dengan pendapat ini. Ternyata bacakilat juga membantu saya untuk menemukan sesungguhnya apa yang Tuhan sudah berikan kepada saya. Menjadi makhluk yang melebihi dari makhluk lain.

Q             : Apa tanggapan atau pemikiran bapak saat pertama kali mendengar tentang bacakilat?

A             : Saya positif. Saya yakin bahwa ini adalah solusi atas masalah saya. Itu yang membuat saya mengambil keputusan pada saat selesai seminar untuk mengikuti workshop di hari itu juga. Sebenarnya bacakilat sudah saya kenal sekitar 2 tahun sebelumnya dari informasi-informasi yang ada lewat facebook. Saya sudah baca dan pelajari. Saya yakin bahwa sebenarnya ini (bacakilat, ed) adalah jawaban dari kebutuhan (mengatasi masalah membaca, ed) saya.

Karena saat itu belum tahu dan tidak mau bertanya juga, masih faktor gengsilah hahaha. Tapi akhirnya saya harus mengambil keputusan di tanggal 14 April (pada saat seminar berlangsung, ed).

Q             : Ohh iya? Faktor gengsinya apa sih pak?

A             : Yahhh, “Masak harus pergi belajar membaca lagi? Pergi latihan membaca lagi? Bukannya selama ini sudah tahu membaca”.

Gengsinya juga, teman-teman tahu bahwa saya adalah seorang kutu buku. Mungkin karena mereka melihat buku-buku saya dan di atas meja selalu ada buku bacaan. Tapi saya bukanlah pembaca buku yang konsisten.

Q             : Jadi gengsilah yang membuat bapak harus menunggu waktu 2 tahun untuk mempelajari bacakilat ya?

A             : Benar pak, bener-benar hahaha

Terlanjur mereka menilai saya sebagai kutu buku masalahnya. Padahal mereka keliru. Hanya melihat banyak buku di lemari dan sering ada buku bertebaran di atas meja kerja saya dan mereka menyatakan kalau saya kutu buku.

Kalau saya kemudian mau pergi latihan membaca lagi, itu, ahhh malu-maluin gitu hahaha

Q             : Oh, itu sebenarnya…

A             : Iya. Tapi kemudian akhirnya saya tahu bahwa setelah saya mempelajari bacakilat saya sadar bahwa ternyata saya bukan seorang pembaca yang konsisten. Betul buku yang saya punya adalah referensi (buku yang akan diajarkan ke mahasiswa/i, ed) tapi saya bukan pembaca buku yang konsisten.

Q             : Jadi apa alasan mendasar bapak mengikuti pelatihan bacakilat?

A             : Menyelesaikan masalah saya untuk menjadi pembaca buku yang konsisten. Bisa menghabiskan satu buku karena selama ini buku-buku yang saya beli tidak pernah habis saya baca.

Dan ini ada kejadian unik pak, setelah selesai pelatihan bacakilat. Tanggal 29 April 2018, saya langsung melihat semua buku saya di lemari dan hati saya sedih sekali dan saya berdialog (berbicara langsung, ed) ke buku saya dan saya katakan, “Bukuku, besok kau akan saya baca. Semua buku yang ada dilemari ini akan habis saya baca”.

Saya beruntung ketika saya selesai membaca, akhirnya saya mendapat pemahaman bahwa “Dengan saya membaca, saya menambah teman saya. Setiap saya membaca satu buku, minimal satu teman saya bertambah. Dan teman saya itu adalah teman yang mau berkorban untuk saya dan tidak pernah menuntut apapun kepada saya kalau saya berhasil. Siapa teman saya itu?”

Si penulis buku.

Walaupun dia tidak mengenal saya tapi dia adalah teman saya karena telah berkorban memberikan ide, gagasannya kepada saya. Ketika saya berhasil mempraktekkan idenya, saya mendapat untung dari situ. Dia tidak pernah menagih apapun kepada saya. Yang saya tahu hanya teman sejati yang seperti itu

Q             : Setelah bapak menguasai bacakilat, pola pikir apa yang bapak tanamkan sehingga bapak bisa menjadi pembaca buku yang konsisten?

A             : Merencanakan sehari sebelumnya untuk buku yang akan saya bacakilat di esok hari, pertama. Jadi saya selalu membuat perencanaan akan buku yang akan saya baca.

Kedua, saya tidak akan pernah berhenti membeli buku.

Ketiga, menjadikan anak-anak saya menjadi pembaca yang konsisten. Dengan demikian saya akan malu jika saya tidak membaca buku setiap hari. Cara yang saya lakukan adalah meneruskan (mensharing isi buku, ed) apa yang telah saya baca ke mereka.

Keempat, saya memperkenalkan kepada teman-teman secara terbuka bahwa ketika mereka mengklaim saya sebagai pembaca buku, benar saya pembaca buku. Dengan demikian kembali, ketika saya tidak membaca buku, saya malu.

Q             : Dari bulan April sampai sekarang, sudah berapa buku yang telah selesai dibacakilat?

A             : Pada saat workshop ada 2 buku. Masa panik (masa kritis untuk menguasai sebuah skill baru, ed) 10 buku dalam 6 hari. Rencana saya untuk 100 buku dalam 10 minggu sedikit bergeser (tidak sesuai target, ed) tapi, saya tidak kecewa karena target saya ini jelas, 100 buku pasti akan terselesaikan.

Per hari ini (tanggal 7 Agustus 2018, ed) tinggal 3 buku untuk mencapai angka 100. Di luar jurnal, 2 buku saat workshop, 10 buku di masa panik dan di luar referensi-referensi lain yang harus saya baca.

Bahkan ada satu keterampilan yang saya kembangkan dari teknik bacakilat. Mungkin karena dasarnya sebagai seorang metode, jadi saya banyak bereksperimen. Ketika saya bercerita dengan teman-teman, saya menganggap bahan cerita itu adalah buku. Makanya sering kali saya membuatkan mind mapnya dari hasil cerita.

Lalu kebiasaan lain yang saya bangun, misalnya kalau rapat di kantor, apa yang terjadi di ruang rapat dan apa yang dibicarakan, saya seringkali membuat mind mapnya.

Dan kalau berbicara dengan orang lain, saya bisa memiliki banyak topik pembicaraan karena ide-ide yang saya dapatkan dari buku-buku yang telah saya bacakilat.

Q             : Kalau sekarang bapak sudah menyelesaikan hampir 100 buku dalam waktu lebih kurang 4 bulan (akhir bulan April – awal bulan Agustus, ed), sebelum bapak mengenal bacakilat, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu buku?

A             : Tidak pernah ada yang selesai satu buku pun.

Q             : Untuk buku yang benar-benar bapak butuhan?

A             : Tidak pernah. Kalau membuat bahan ajar hanyalah gabungan-gabungan dari beberapa referensi tapi tidak pernah membaca sampai habis.

Q             : Dari sekian banyak buku yang telah bapak bacakilat, dampak positif apa yang bapak rasakan di aspek profesi dan kehidupan personal bapak? Bisa diceritakan pak?

S              : Oh boleh. Pertama saya menemukan siapa Djonny Pabisa yang sesungguhnya yang diciptakan oleh Maha Kuasa. Saya menemukan itu.

Yang kedua, buku-buku yang telah dibacakilat semakin mendorong saya untuk lebih berkomitmen menjadi lebih berguna bagi masyarakat dan negara.

Yang ketiga, saya sadar bahwa Djonny Pabisa ini cerdas juga ya haha. Maaf ya, bukan bermaksud sombong, tapi inilah yang saya rasakan. Saya semakin mudah mendapatkan banyak sesuatu yang berguna. Lebih mudah rezekinya. Lebih mudah mendapat kemudahan-kemudahan deh.

Dan ada yang unik sebenarnya, ketika saya berpikir bahwa saya akan mendapatkan sesuatu, sering kali tidak terlalu lama saya mendapatkannya.

Contoh yang praktis, ketika teman-teman di Pakucing di kalimantan sana. Menyatakan pergumulan mereka, “Pak kami kekurangan ini, kekurangan ini. Kira-kira bisa dibantu apa?” Dan saya percaya ini adalah pekerjaan dari pikiran bawah sadar yang sudah mengalir ke pikiran sadar, ada pemicu dan akhirnya terjadi.

Karena dia (dari teman-teman Pakucing, ed) misalnya butuh uang 5 juta, ini contoh saja ya. Hanya satu seperempat hari dana itu terkumpul dan itu luar biasa sekali. Saya percaya itu adalah akumulasi dari apa yang sudah dikerjakan sebelumnya. Banyak ide-ide luar biasa yang membuat saya lebih berani dalam bertindak.

Q             : Yang di Pakucing ini ada kaitannya dengan pekerjaan pak?

A             : Sama sekali tidak.

Q             : Artinya ini masalah personal ya?

A             : Iya, ini urusan personal, tergerak karena ingin berguna bagi orang lain.

Q             : Kalau tadi bapak sampaikan murah rezeki, bisa cerita mudah rezekinya seperti apa? Mungkin bapak mendapatkan bonus gede-gede, begitu? Hahaha

A             : hahaha iya. Mudah rezeki itu ketika hati dan pikiran ini dibuat untuk berguna bagi orang lain. Ya sudah, Tuhan juga membuka rezeki. Apakah itu dalam bentuk kemudahan, apakah itu dalam bentuk natura, apakah itu dalam bentuk materi, apakah itu dalam bentuk informasi, apakah itu dalam bentuk alat, banyak sekali yang saya dapatkan dan tidak pernah saya pikirkan itu akan saya dapatkan. Sesuatu yang dulu hanya angan-angan ternyata sudah menjadi realistis dan itu sudah ada di rumah saya sekarang.

Walaupun ada rezeki sebelumnya, untuk mendapatkannya harus dengan kerja keras. Kalau sekarang saya bisa melakukannya dengan kerja yang lebih ringan.

Q             : Dari sekian banyak gol yang bapak inginkan, sudah berapa gol yang tercapai dengan bantuan bacakilat?

A             : Wahhh banyak itu pak. Banyak, banyak gol yang sudah saya capai. Bahkan sekarang saya berani menerapkan gol 60 tahun ke depan. Usia saya saat ini 49 tahun. Saya yakin bahwa 60 tahun ke depan adalah target besar saya dan saya masih berguna di usia itu (Usia 100 tahunan, ed).

Dan apa yang saya lakukan sekarang, maaf sebagai seorang kristiani, saya pernah berkata seperti ini kepada teman-teman, “Mau umur panjang? Yuk kita berpikir menjadi orang berguna dua tahun lagi. Maka kita akan diberkahi hidup 2 tahun lagi”.

Saya tidak tanggung-tanggung, 60 tahun kedepan dan saya ajak semua orang di gereja saya untuk berpikir. “Ayo berpikir panjang. Kita menjadi berguna di masa itu dan yakin deh, Sang Pencipta akan memberikan kita kehidupan sepanjang yang kita inginkan itu”. Keyakinan itu karena bacakilat juga lho?

Q             : Woww. Perubahan apa yang paling bapak rasakan setelah mengikuti bacakilat?

A             : Cara berpikir, cara bersikap, menjadikan orang lain menjadi berkah, rezeki buat kita. Menjadi berguna untuk sesama.

Ada satu lagi, dulu kalau saya cerita senyumnya sedikit, sekarang kok kebanyakan senyumnya hahaha

Iya ini karena membaca juga. Ternyata senyum itu bisa menjadi berkah juga untuk kita.

Q             : Apakah dulunya bapak orangnya serius banget?

A             : Yes, saya orang yang serius. Bahkan sering kali saya dinilai sebagai orang yang kalau memberikan sesuatu atau arahan, selalu menempatkan orang itu di posisi yang genting. Tetapi sekarang mereka lebih enjoy, mereka justru termotivasi dan mereka selalu mendapatkan sesuatu yang mereka bisa lakukan ketika saya selesai berbicara.

Q             : Berarti selain pola pikir yang berubah, sikap, senyum juga berubah ya pak?

A             : Betul pak. Kepedulian yang begitu tinggi sekarang. Contoh yang di Pakucing yang sama sekali tidak saya kenal, apa pergumulan (masalah, ed) mereka tapi ketika mereka sampaikan, lalu gerakan (mengumpulkan dana, ed) itu berjalan dan satu hari plus seperempat hari, apa yang mereka butuhkan di sana bisa mereka dapatkan.

Q             : Tapi ini kaitannya dengan urusan gereja ya pak?

A             : Ia benar. Bahkan teman-teman di gereja saya tidak ada yang melakukan tapi kok berani saya melakukannya ya? Dan bersyukur kepada Sang Pencipta diberkati dan bisa membantu teman-teman yang di Pakucing. Saya juga percaya bahwa itu juga karena bacakilat yang mana saya telah membaca banyak buku. Karena selama ini tidak ada pengalaman seperti itu.

Q             : Teman-teman tahu tidak kalau bapak menggunakan bacakilat dalam proses membaca bapak?

A             : Bahkan mereka minta diajarkan juga hahaha. Mereka minta, “Ayo dong, bagi”. Kalau saya membagi ke mereka kan bukan dalam bentuk workshop. Paling tidak model pembelajaran yang sudah saya kembangkan, yaitu model pembelajaran berbasis MTK, Materi Tujuan dan Kegunaan.

Ada lho model belajar yang saya dapatkan sekarang dari bacakilat? Yaitu model MTK. Saya juga menerapkan kepada mahasiswa/i saya di sini. Saya katakan kepada mereka, “Kalau kita hanya berorientasi kepada materi, maka kita itu hanya belajar lantai dasar saja. Kita tidak akan pernah menaiki tangga. Tapi dengan model MTK ini, kalian akan belajar sambil naik tangga dan capai puncak tangga itu”.

Jadi bacakilat itu memberikan kontribusi luar biasa buat saya karena ada metode belajar yang saya temukan.

Q             : Mungkin masih banyak teman-teman di luar sana yang belum percaya akan bacakilat dan ada sebagian orang yang ingin belajar bacakilat tapi keraguan mereka membuat mereka berhenti untuk mempelajari bacakilat. Bapak bisa kasih saran buat teman-teman yang ingin belajar bacakilat?

A             : Beberapa hari yang lalu ada peserta seminar bacakilat hanya saja saya lupa saya tidak sempat tanyakan dari mana. Dia sempat inbox saya. Bertanya, “Apakah bapak pernah ikut workshop bacakilat?” Saya katakan, “Iya. Saya selesaikan workshop itu”. Lalu ia tanyakan, “Bagaimana pendapat bapak tentang workshop bacakilat?” Saya menyatakan pendapat saya bahwa “Workshop itu telah mengubah hidup saya. Telah mengubah cara berpikir saya. Telah mengubah perilaku saya dan telah mengubah rezeki saya”.

Saran saya, ambil keputusan untuk investasi hidup. Baik untuk diri sendiri, untuk keluarga, untuk anak cucu. Saya selalu menggunakan kata investasi. Bahwa ikut bacakilat adalah investasi.

Q             : Sedikit kembali ke awal, boleh tahu jenis-jenis buku yang bapak baca?

A             : Buku akademis, banyak. Buku pengembangan diri, banyak. Buku-buku rohani yang sifatnya untuk pengembangan diri juga banyak. Bahkan buku Aquarius yang justu belum saya baca saat saya beli di bandung ketika pak Yulius mengajar. Saat itu saya dipercaya menjadi mentor.

Ada 4 buku yang saya beli di sana justru itu yang belum saya baca. Karena memang rencananya setelah menyelesaikan 100 buku baru saya akan baca buku-buku Aquarius (buku-buku yang dicetak dan dipasarkan langsung oleh Aquarius Learning, ed)

Q             : Ada saran dan masukan untuk kami meningkatkan pelayanan kami di masa depan?

A             : Bagi saya bacakilat itu sesuatu yang sempurna. Tidak berarti inovasi-inovasi tidak menjadi penting. Kalau ada inovasi, silahkan dikaryakan terus sehingga lebih mudah untuk dikuasai.

Kita sebagai alumni barangkali bisa menjadi berkah. Jangan sombong dengan kelebihan yang kita miliki dari teknik bacakilat. Pokoknya bacakilat keren abis dah.

Bagaimana menurut Anda akan cerita dari pak Djonny di atas? Apa yang Anda pikirkan tentang pencapaian dari beliau?

Kalau Anda berpikir, “Bagaimana ia bisa mengalami perubahan yang luar biasa seperti itu? Apakah itu mungkin terjadi?”, maka kita memiliki pemikiran yang sama.

Di sinilah keunikan dari bacakilat. Dengan membalikkan proses membaca, di mana kita menggunakan pikiran bawah sadar terlebih dulu untuk menerima lalu memproses informasi kemudian membantu pikiran sadar untuk memahami isi buku atau mendapatkan tujuan yang diinginkan, maka proses membaca akan terasa lebih mudah dan menyenangkan.

Lalu apakah informasi yang tidak dibutuhkan akan hilang begitu saja?

Jelas tidak. Ia tetap tersimpan di pikiran bawah sadar. Saat ada pemicu maka informasi itu muncul ke pikiran sadar. Inilah yang menjelaskan mengapa banyak alumni bacakilat merasa kalau berbicara kepada orang lain lebih lancar dan sesuai dengan isi buku yang pernah ia baca.

Inilah yang terjadi pada pak Djonny. Dengan berhasil menjadi pembaca buku konsisten setiap harinya memberikan ia banyak referensi untuk merespon sesuatu. Ini juga yang mengubah cara berpikir dan bertindak.

Anda pun bisa mendapatkan hal yang serupa dengan menjadi pembaca buku konsisten setiap harinya. Jika Anda ingin mengefektifkan cara membaca buku Anda, bacakilat akan sangat membantu Anda mencapai tujuan tersebut.

Di artikel yang lain, kami akan hadir dengan pengalaman-pengalaman yang tidak kalah serunya dari alumni Bacakilat di kota-kota yang telah kami adakan.

So, saya ingin mengetahui pendapat Anda akan hasil wawancara tim saya di atas atau mungkin ada pertanyaan yang perlu kami tanyakan? Mungkin kami missed menanyakannya. Silahkan tuliskan pemikiran Anda di kolom komentar.

Sampai jumpa di tulisan yang lain. Mari Bangun Indonesia Dengan Membaca

About the Author

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Leave a Reply 4 comments

ZUHAIR AKBAR - August 21, 2018 Reply

banyak yang diinginkan saat tuntas membaca buku, ambillah ilmu bermanfaat dan berguna dalam poin2 buku tersebut.

Lina Zuhratul - September 14, 2018 Reply

Artikel sangat menarik

hengky - October 4, 2018 Reply

pak kalo buku wawasan umum,motivasi,pengembangan diri, kita pasti bisa menguasai nya dan memprogramnya ke pikiran bawah sadar secara otomatis dengan metode baca kilat, nah pertanyaan yang selalu mengusik saya, apakah dengan metode baca kilat ini, dapatkah kita menguasai ilmu seperti dunia internet dan programming yang nota bene ribet bnget dan susah di mengerti,apalagi masih awam..mohon reply pls

    Agus Setiawan - October 4, 2018 Reply

    Hai pak, Bacakilat bisa diterapkan di buku apapun yang kita inginkan. Dan bukan untuk memprogramnya ke bawah sadar, katakan begini, jika skala kesulitan sebuah buku itu 10, dengan sistem bacakilat, bisa jadi 7 atau 8, dan kita lebih mudah memahami buku itu.

Leave a Reply: