“Mungkin saya murid pak Agus yang paling BANDEL!” Temukan apa yang membuat seorang alumni bacakilat mengklaim dirinya sebagai murid yang paling BANDEL

  • Home >>
  • Study Case >>

Bu Asriani Purnama yang mengikuti Workshop Bacakilat 3.0 batch 184 tahun 2017 di Manado

Hi, perkenalkan saya Asriani Purnama. Saya bekerja di Kementerian Informasi dan Informatika di Manado dan saat ini sibuk menjadi kordinator penelitian. Tugas ini baru saya emban di tahun 2018 yang sebelumnya saya masih disibukkan dengan melakukan penelitian ke lapangan.

Saya mengikuti pelatihan bacakilat di angkatan 184 di Manado. Yang mengajar saat itu adalah pak Yulius.

Sejak kecil saya sudah suka membaca. Kecintaan saya akan membaca dimulai saat saya pindah ke Makassar dari Kendari. Sejak saya ikut kakak saya sekolah di Makassar saya mulai bisa membaca banyak buku. Karena buku di Kendari itu sangat terbatas, berbeda dengan Makassar yang jauh lebih maju kotanya.

Kecintaan membaca saya semakin bertumbuh sejak saya mengenal internet dan menemukan komunitas baca. Saat itu saya sangat aktif di dalam komunitas baca online itu. Sampai akhirnya saya keluar karena sudah tidak cocok dengan komunitas itu.

Ohh iya, dulu saya juga sering mendapatkan buku gratis dalam bentuk ebook dari penulis luar negeri yang Indi karena dulu saya sering menulis review buku luar. Jadi mereka sudah tahu dan sering minta saya review buku mereka untuk mengetahui pasar bisa menerima produk mereka atau tidak.

Saya juga pernah mendapat bayaran dari penerbit lokal. Kecil sih hehe… Mereka ingin tahu isi buku yang akan dicetak seperti apa. Bisa dibilang saya sebagai orang yang memberikan saran apakah buku itu layak diterbitkan atau tidak.

Sejak tahun 2009 saya pindah ke Manado karena diterima bekerja di Kominfo. Sampai tahun 2015 saya sangat sibuk dengan penelitian. Hampir di tahun itu tidak ada buku yang saya selesai baca. Sebenarnya waktu itu saya tidak menyempatkan waktu untuk membaca sih hehe…

Dari yang 100an buku dibaca per tahunnya, saya cuma bisa baca 4 sampai 5 buka di tahun 2015 dan 2016 kalau tidak salah. Sebentar, coba saya lihat dulu jumlahnya ya. Internetnya agak lama nih!

Saya ngetrack semua buku-buku yang sudah saya baca. Jadi ketahuan buku apa saja yang sudah saya baca dan berapa banyak jumlahnya per tahunnya.

Saya kepikiran buat seperti ini karena dulunya saya sering beli buku yang sama. Bukan hanya sekali atau dua kali, tapi berkali-kali. Saya sampai ngomong di forum dan group, “Siapa yang mau buku ini. Buku gratis, ongkir gratis.” Haha…

Belajar dari situ, saya tidak mau kejadian seperti itu terulang kembali. Ohh ini dia hasilnya:

Di tahun 2011 saya ada baca 176 buku.

Tahun 2012 ada 142 buku.

Tahun 2013 ada 31 buku.

Tahun 2014, saya ada baca 57 buku.

Tahun 2015, 2 buku. Ya Alloh ya Robbi. “Malang sekali nasibmu nak.” Cuma 2 buku? ahhh

Tahun 2016 ada baca 4 buku. Ini tahun-tahun terburuk saya membaca buku.

Tahun 2017, saya ada baca 57 buku. Bisa sebanyak ini setelah saya menerapkan bacakilat. Seingat saya, saya ikut bacakilat di akhir tahun 2017. Itu benar-benar ngebut baca buku haha…

Tahun 2018 saya bisa selesaikan 99 buku, yeeey…

Bisa capai banyak seperti itu karena dorongan besar untuk membuktikan apakah kecepatan membaca saya meningkat atau tidak. Dan memang kecepatan baca saya meningkat.

Tapi pak, buku-buku yang saya baca itu semua adalah buku-buku fiksi lho. Saya satukan antara komik dan novel. Apakah itu tidak masalah?

Saya juga ada baca buku non fiksi sih, tapi hanya 3 atau 4. Coba saya lihat. Ada nih. 1 buku tentang agama, 1 lagi tentang Diet Kenyang dan yang ketiga itu buku Rhenald Kasali yang saya baca di pelatihan bacakilat tahun 2017 lalu hehe…

Mungkin dari semua murid-muridnya pak Agus dan pak Yulius, mungkin saya yang paling bandel ya haha…

Kalau teman-teman yang lain bacanya buku non fiksi, saya malah baca buku fiksi. Ini menyalahi aturan sekali kayaknya haha…

Saya sangat suka baca buku fiksi. Selain merasa terhibur, membaca menjadi satu cara saya menghabiskan waktu luang. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, semenjak saya pindah ke Manado saya tidak punya banyak teman.

Jadi waktu libur dan waktu luang saya gunakan untuk membaca buku. Kalau tidak membaca, saya pergi ke toko buku mencari buku-buku bagus. Sampai manager toko buku itu kenal saya karena seringnya saya datang membeli buku haha…

Kegiatan lain yang saya lakukan selain membaca dan ke toko buku adalah berenang. Berenang membantu saya merasa rileks dan tenang.

Saya sangat beruntung bisa belajar bacakilat. Tujuan utama belajar bacakilat adalah untuk mengurangi tumpukan buku dan mengembalikan kecepatan membaca saya seperti dulu. Kedua tujuan ini telah tercapai.

Hasil yang saya dapatkan dari pelatihan bacakilat lebih dari yang saya harapkan. Meskipun masih banyak buku yang belum dibaca. Paling tidak sudah mulai berkurang dibandingkan kecepatan saya membeli buku.

Melihat apa yang terjadi dari tahun 2011 sampai 2016 membuat saya mikir sendiri, “Ini tidak bisa terus begini nih.” Saking banyaknya tumpukan buku di kamar.

Teman saya sampai bilang, “Ya udah, sumbangkan saja buku-buku itu.” “Yahhh, saya bakal kasih kalau sudah saya baca” saya selalu bilangnya seperti itu. Jadi saya bisa kasih rekomendasi apakah buku itu bagus atau tidak.

Masalahnya buku saya terus bertambah dan menumpuk setiap minggunya. Setiap ke toko buku pasti saja saya bawa pulang buku baru. Ini sudah kebiasaan semenjak dulu masih kuliah. Waktu kuliah saya sambilan bekerja. Jadi saya punya uang sendiri untuk membeli buku-buku yang saya suka.

Apalagi kalau saya keluar kota, khususnya ke Jakarta, saya pastikan pulang bawa buku. Di Manado itu harga buku mahal-mahal. Bisa selisih 20-30 ribu per bukunya kalau dibandingkan di Jakarta. Kalau di Jakarta saya pasti sempatkan waktu ke toko buku Gramedia atau Periplus.

Jadi bisa bayangkan bagaimana buruknya kebiasaan beli buku saya. Sedangkan saya sudah jarang baca lagi sejak tahun 2015 dan 2016 tapi tetap saja saya rutin membeli buku baru.

Yang buat saya tidak bisa baca buku di tahun itu adalah gara-gara main game. Saya sangat addacted ditambah ada teman main game bareng yang membuat saya semakin asyik dan betah bermain game. Ditambah dengan kesibukan dan stres kerja di lapangan mengumpulkan data penelitian. Akhirnya game jadi lebih menarik dari baca buku.

Itu yang membuat tahun 2015 dan 2016 saya membaca sedikit buku. Makanya di tahun 2017 saya berpikir dan mencari-cari solusi untuk mempercepat proses membaca saya. Sampai akhirnya teman kasih link bacakilat dan teman saya ini juga punya masalah yang sama. Kami suka beli buku tapi bacanya lambat.

Kalau teman saya ini sih masih beruntung karena masih banyak buku yang dia baca. Dibandingkan dia, saya lebih parah. Dari ratusan sampai hanya hitungan jari, aduhhh, rasanya sedih sekali.

Pas teman kasih programnya pak Agus, “Ikut ini yuk?” katanya. Pas saya baca, “Kenapa tidak? Yuk!” Lagian setelah ikut acara itu kami masih bisa hangout, saya pikir.

Ikutlah kami sebagai peserta. Karena kami datangnya lebih awal, pak Saeful memberikan kami buku Bacakilat 3.0. Buku itu sudah pernah saya baca sebelumnya tapi saya masih kurang paham. Saya dapatkan dari teman saya yang tinggal di Cikarang.

Waktu di seminarnya saya bilang, “Impossible. Bukan begini cara baca buku yang baik dan benar.” Memang di situ saya belum paham dengan teorinya. Saya masih memakai pemahaman saya sendiri.

Di sesi pendaftaran pelatihan ternyata teman saya tidak mau melanjutkan. Saya masih ragu mau ikut atau tidak. Tapi katanya, “Kalau skill bisa dibeli, dibeli saja. Suatu saat nanti pasti akan berguna kalau benar-benar dimanfaatkan.”

Karena dia berkata seperti itu, saya melihat kembali masalah saya. Saya sadar kalau saya memang membutuhkan skill yang diberikan oleh bacakilat. Karena itu saya mengikuti pelatihan bacakilat.

Di pelatihan saya tetap mengalami kebingungan. Saya masih tidak percaya dengan apa yang diajarkan oleh pak Yulius. Sampai saya ngomong ke diri saya sendiri, “Kenapa tidak diterima saja dulu? Buka pintu penghalangnya yang berkata tidak. Kenapa tidak coba ikuti saja yang disampaikan? Coba praktek dulu aja? Nanti lihat hasilnya setelah praktek.”

Sampai akhirnya, setelah pulang, saya mempraktekkan bacakilatnya. Saya ingin membuktikan kalau cara baca ini benar-benar berhasil, “Benar ga ini? Harga kursus seperti itu masa iya ga benar-benar berhasil? Kalaupun tidak berhasil, ya sudah, paling tidak saya sudah tahu tahapannya seperti apa.”

Saya praktek. Saya mengikuti apa yang diajarkan oleh pak Yulius. Sampai akhirnya saya bilang, “Woooow, not bad. It’s works.” Sampai saya bisa baca lagi dengan full konsentrasi.

Seharusnya kan kalau orang biasa baca novel pun bisa cepat. Berhubung saat itu lagi proses transisi dari main game yang addacted dengan yang suka gonta ganti game sampai akhirnya membuat saya jauh dari buku dan membuat saya kembali ke baca buku bahkan yang sering baca novel pun sudah susah.

Tapi karena saya sudah mulai praktekkan apa yang diajarkan oleh pak Yulius. Kalau saya lupa langkah melakukan bacakilat, saya tinggal melihat postcart sebagai bahan contekan haha… dan saya rasa itu, “It’s works.”

Sekarang, tujuan saya ikut bacakilat sudah tercapai. Saya bisa baca dengan konsisten lagi. Artinya, dengan perlahan bisa mengurangi tumpukan buku saya. Saya juga bacanya lebih cepat dan full konsentrasi.

Kecepatan baca saya juga ikut meningkat. Saya bisa paham isi buku dengan sekali baca. Kalau dulu saya bisa baca sampai dua tiga kali. Jadi ini menghemat waktu baca sekali meskipun bacanya tetap baca biasa. Sekarang, saya bisa tetap baca buku dan main game juga.  

Dalam prakteknya, saya tidak menggunakan semua sistem yang diajarkan di bacakilat. Kan saya bacanya novel. Jadi saya harus bacanya dari depan sampai belakang. Tapi memang teknik ini “help a lot.”

Saya hanya menggunakan dua dari tiga langkah bacakilat. Di tinjauan awal saya bisa mengetahui arah ceritanya seperti apa. Bagian ini yang dari dulu saya sangat hindari terutama membaca resensi buku. Ini sangat saya pantangkan. Bagi saya itu hanya spoiler yang akan mengurangi keseruan dan kenikmatan membaca.

Masalahnya di bacakilat malah itu diharuskan. Mau tidak mau saya harus lakukan juga haha… Setelah melakukan tinjauan awal selanjutnya saya lakukan bacakilat dengan membalik-balik halaman seperti yang diajarkan di kelas dulu. Selanjutnya saya baca dengan cara baca biasa.

Kalau bapak tanya perkembangan yang saya dapatkan dengan menuntaskan banyak buku, ahh, ini pertanyaan yang sulit untuk saya jawab.

Karena dari awal saya ikut pelatihan bacakilat hanya untuk mengembalikan kecepatan baca dan bisa membangun kebiasaan baca lagi seperti dulu. Dengan begitu saya bisa mengurangi tumpukan buku saya.

Karena saya merasa bersalah juga terus-terusan beli buku tapi tidak pernah dibaca. Makanya tahu ada bacakilat di Manado saya penasaran, apakah teknik ini bisa saya terapkan dalam mengatasi masalah saya. Apakah teknik ini bisa membantu saya menuntaskan buku-buku yang saya ingin baca.

Jadi, saran saya buat teman-teman yang ingin belajar bacakilat, teknik ini patut dicoba kalau ingin menuntaskan buku-buku yang sudah Anda beli. Bisa Anda bayangkan saya saja tidak menggunakan semua tahapan yang diharuskan di bacakilat bisa meningkatkan kecepatan baca, membaca lebih banyak buku. Anda tahu apa yang terjadi jika Anda benar-benar menggunakan sistem itu dengan benar dan baik. Hasilnya pasti luar biasa sekali, bukan?

Saat belajar, tinggalkan dulu prasangka seperti yang saya lakukan. Ikuti saja langkah demi langkah. Nanti setelah Anda mempraktekkannya baru Anda bisa ukur, apakah teknik ini benar-benar bermanfaat untuk Anda atau hanya sekedar bualan teori belaka.

About the Author

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: