Bagaimana bacakilat bisa membantu seorang alumninya menjadi sosok ibu yang lebih baik untuk anak-anaknya?

  • Home >>
  • Study Case >>

Perkenalkan saya Verawaty Tarigan. Saya seorang bidan di instansi pemerintahan yang bertugas di klinik tentara di Lubuk Pakam, Sumatera Utara.

Saya ikut pelatihan bacakilat di angkatan 213 yang diadakan di sekitaran bulan Agustus 2017 di Medan dan yang mengajar saat itu adalah pak Yulis Damian.

Saya tahu Bacakilat dari facebook. Saat baca iklannya, saya langsung penasaran dan tertarik, “Kok bisa ya? Bagaimana ya caranya menuntaskan 1 buku dalam dua jam?”

Jujur, saya suka membaca. Salah satu bentuk apresiasi kepada diri sendiri, setelah gajian saya pasti membeli buku baru sebagai hadiah untuk diri saya. Tapi ya itu, saya selalu rutin beli buku tapi tidak pernah satupun buku yang saya beli habis saya baca. Jadinya banyak buku yang tertumpuk di rumah.

Setiap harinya saya selalu membawa buku dan ada di dalam tas. Masalahnya, kalau baca, satu bab pun tidak pernah selesai dibaca. Tahulah, kalau ada pasien saya harus melayani mereka. Hampir semua waktu membaca saya dihabiskan di klinik karena memang klinik tempat saya bekerja tidak terlalu ramai pasien.

Hanya saja kalau sedang baca dan tiba-tiba ada pasien, untuk memulai baca kembali rasanya begitu berat, saya merasa malas. Antusias saya tidak begitu besar. Kalau kita punya antusias, pasti kita merasa ada keinginan besar untuk menyempatkan waktu dan pemikiran untuk menyelesaikan hal itu, tapi ini sama sekali tidak ada.

Rasanya saya membaca hanya sekedar membaca saja agar buku itu selesai. Masalahnya saya kesulitan memahami apa yang sudah saya baca. Sering terjadi kalau saya tidak mendapatkan inti dari apa yang telah saya baca. Sampai saya bingung, “Kok buku ini tidak selesai-selesai juga saya baca ya?”

Makanya begitu baca iklan bacakilat saya langsung tertantang untuk menuntaskan buku-buku yang ada di rumah selain ingin menambah wawasan dari buku-buku itu.

Yang membuat saya penasaran dengan bacakilat adalah tulisan, “Menuntaskan 1 buku dalam 2 jam.” Itu benar-benar tidak masuk akal saya. Sampai saya pikir, “Kalau bisa baca 1 buku dalam 2 jam, apa yang dibaca ya?” “Lalu bagaimana mendapatkan sesuatu dari dua jam itu? Berarti kan yang dibaca itu hanya sampul-sampulnya saja haha…”

Kebingungan saya ini terjawab setelah saya mengikuti pelatihan bacakilat yang 1 hari. Saya mendapat pencerahan dan satu semangat baru, “Ohhh, ternyata begini caranya?”

Penjelasan tentang cara kerja pikiran sadar dan bawah sadar dalam membaca sangat masuk akal bagi saya. Karena saya pernah ikut pelatihan hipnoterapi juga. Jadi apa yang diajarkan di bacakilat nyambung dengan apa yang saya pelajari di pelatihan hipnoterapi tempo hari.

Jadi apa yang kita bacakilat nanti disimpan di pikiran bawah sadar dan saat kita butuh informasi itu pikiran bawah sadar kita mengirimkan informasi itu ke pikiran sadar. Jadi saat tahu yang diajarkan seperti itu, saya merasa senang karena teori dari bacakilat tidak bertentangan dengan pemahaman yang saya punya tentang cara kerja pikiran.

Harapan saya, dengan belajar bacakilat saya bisa meningkatkan kerohanian saya dengan membaca buku-buku rohani. Belajar dari pengalaman dan kesaksian-kesaksian hidup tentu akan membantu saya menjadi orang yang lebih mampu bersabar dan berkeyakinan kepada Tuhan saya.

Selain itu saya ingin menjadi ibu yang bijak dan bisa mendidik anak-anak saya secara kreatif bukan mendidik anak dengan cara yang salah. Dari buku-buku yang saya baca, saya tersadarkan kalau cara mendidik saya selama ini ternyata salah.

Selama ini saya mendidik anak itu dengan cara otoriter. Saking otoriternya, saya sampai buatkan roster buat anak saya, “Jam sekian harus begini. Jam sekian harus begitu” sampai sedetail itu.  

Saya kewalahan dalam mendidik mereka. Saya punya tiga anak dan semuanya laki-laki. Ada yang usia 9 tahun, 5 tahun dan satu lagi mau masuk usia 3 tahun. Di usia seperti itu saja mereka sudah mau melawan setiap hari. Jadi saya pun bingung sendiri. Saya bilang A, mereka langsung jawab, “Ga mau.” Sikap melawan mereka itu lho, sangat membuat saya mudah emosi.

Saya mikir, “Harus seperti apa cara menyampaikan maksud saya ke mereka agar mereka tidak melawan ya?” Karena masalah itu, saya jadi tertantang menemukan cara berkomunikasi ke anak-anak. Jadi dalam beberapa bulan terakhir ini, khususnya di tahun 2019 ini saya sudah baca beberapa buku parenting, lebih kurang ada 5 buku yang sudah saya selesaikan.

Dari buku itu saya mendapat pemahaman baru bahwa, “Saya tidak bisa memaksakan kehendak saya ke anak, tapi kita harus lihat, apa sebenarnya yang diinginkan anak. Dan semua anak-anak itu adalah anak-anak yang kreatif, anak-anak yang mampu, tinggal kita mengarahkannya seperti apa.”

Sekarang saya sudah punya banyak ilmu nih, tapi tinggal actionnya yang masih kurang ini pak haha…

Pemahaman yang saya sampaikan barusan saya dapatkan setelah belajar bacakilat lho. Setelah saya mempraktekkan bacakilat dalam membaca. Di bacakilat saya diajarkan bagaimana membuat tujuan yang benar. Dengan begitu, saya bisa mendapatkan banyak informasi yang saya butuhkan dari buku yang saya baca.

Kalau saya lupa tentang isi buku itu, saya bisa cek lagi di mind map yang saya sudah buat. Saya tinggal baca saja. Jadi saya tidak perlu baca buku yang begitu tebal. Dengan membaca mind map saya, saya sudah diingatkan lagi apa yang saya pelajari di buku itu.

Ini berbeda dengan apa yang saya dapatkan dengan baca biasa. Dari bacakilat saya belajar banyak hal tentang cara membaca yang benar dan efektif. Pemahaman saya juga ikut berubah, terutama soal tujuan membaca. Kalau di bacakilat kita harus punya tujuan, “Apa yang kita ingin ambil dari buku ini?” Jadi itu yang saya gali. Tidak semua kata dan halaman harus saya baca.

Kalau selama ini kan saya asal baca, semua dibaca. Mulai dari kata pengantar sampai daftar isi-nya agar tidak kelewatan informasi. Dan setelah belajar bacakilat saya baru tahu kalau itu tidak perlu. Yang lebih penting saya mendapatkan apa yang saya butuhkan dari buku itu bukan apa yang penulis ingin sampaikan.

Enaknya menggunakan bacakilat adalah penggunaan pikiran bawah sadar melalui kondisi genius. Itu sangat membantu sekali dalam menyerap informasi dari buku dan memang saya rasakan sekali manfaatnya saat saya membutuhkan satu informasi tertentu. Pikiran bawah sadar langsung mengirimkannya ke pikiran sadar.

Pernah satu ketika dalam mendidik anak yang saya ceritakan tadi, saat saya marah kepada mereka. Tiba-tiba saya ingat satu kalimat yang pernah saya baca, katanya, “Anak itu harus diperlakukan dengan kasih sayang. Dipeluk atau dielus-elus kepalanya.”

Jadi saya merasa seperti, “Apa ini?” “Kok aku marah-marah begini?” Seperti ada suara lain yang berkata seperti itu kepada saya.

Karena kalimat di buku itu terlintas kepala saya, saya yang tadinya marah-marah mulai bisa meredakan emosi saya. Itu satu pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya.

Dengan bacakilat, sekarang saya bisa menuntaskan satu buku sekitar 2-3 jam dengan ketebalan 150-200 halaman. 3 jam itu kalau saya mengalami banyak gangguan. Kan saya bacanya di klink. Kalau ada pasien saya harus berhenti baca. Kalau tidak ada pasien saya baca buku, yang seharusnya tidak boleh kalau dari standar bacakilat haha… Kalau di bacakilat kan mengharuskan menyiapkan waktu khusus.

Masalahnya, kalau di rumah dengan mengurus ketiga anak ini terkadang saya belum bisa menyempatkan waktu membaca. Kalau malam hari sudah capek dengan semua aktivitas yang harus dijalani. Yang namanya anak kecil, dia tidak mau tidur kalau tidak tidur bareng. Jadinya, saya juga ketiduran haha…

Sudah ada sekitar 18an buku yang sudah saya tuntaskan sejak ikut pelatihan bacakilat sampai sekarang (ikut pelatihan bacakilat sekitar bulan Agustus 2018 dan wawancara dilakukan tanggal 6 maret 2019, ed). Memang ini masih belum konsisten. Karena saya sempat berhenti baca buku sampai awal-awal tahun. Tapi ini tetap rekor bagi saya.

Saya senang banget. Ada kepuasan tertentu karena merasa saya bisa menuntaskan 1 buku dalam 2 jam. Yang tadinya saya tidak bisa menyelesaikan satu buku per tahun, sekarang saya sudah bisa menyelesaikan satu buku dalam beberapa jam saja. Meskipun belum sesuai ekspektasi saya, saya tetap merasa puas karena sudah bisa menyicil tumpukan buku-buku di rumah.

Di tahun ini saya ingin mulai membangun kebiasaan membaca buku lagi. Saya niatkan dalam seminggu saya harus bisa selesaikan satu buku, satu buku saja. Tapi waktu lihat di youtube pak Agus, saya melihat ada alumni yang bisa menyelesaikan tiga buku. “Kenapa saya tidak?” pikir saya. Jadi saya tertantang lagi untuk melakukan hal yang sama.

Tapi masalah saya, memulainya ini? Ini yang menjadi masalah. Kalau sudah dimulai, dalam dua jam buku yang saya baca bisa selesai juga. Bahkan terkadang tidak sampai dua jam.

Tantangan terbesar untuk membangun kebiasaan membaca ini adalah kurangnya disiplin diri dan masalah pengaturan waktu. Seharusnya saya punya waktu khusus untuk membaca. Tapi momentum seperti itu yang belum saya dapatkan.

Sudah banyak manfaat yang saya rasakan setelah membaca 18an buku. Mulai dari saya merasa lebih percaya diri. Dari kerohanian saya juga semakin berkembang. Menjadi lebih sabar dari melihat banyak kesaksian-kesaksian orang dari buku-buku rohani yang saya baca.

Satu kelemahan saya adalah suka mengulur waktu. Sejak saya ikut pelatihan bacakilat, saya tertantang untuk memanage waktu agar tidak ada waktu terbuang sia-sia.

Di profesi, saya merasa, khususnya dalam memberikan masukan ke pasien yang datang berobat. Memang mereka datang dengan masalah sakit fisik. Tapi banyak juga pasien yang bercerita tentang masalah mereka ke saya.

Saya bisa memberikan masukan dan pandangan yang lebih luas ke mereka untuk mengatasi masalah mereka. Kalau dulu saya hanya diam dan mendengarkan saja karena tidak hal yang bisa saya bagikan. Kalau sekarang saya bisa lebih banyak berbicara karena ada hal-hal yang bisa saya bagikan melalui apa yang saya dapatkan dari buku-buku yang telah saya baca.

Ini pengaruh kepercayaan diri yang semakin meningkat yang membuat saya PD memberikan saran dan masukan ke pasien-pasien saya. Jadi tempat curhatnya bisa lebih berbobot dan berkualitas dibandingkan dulu ya kan haha…

Di keluarga, saya masih berjuang lebih untuk mengatasi masalah yang saya hadapi di anak-anak saya. Belajar dari buku -buku parenting, saya menjadi lebih aware akan kebutuhan anak-anak saya. Saya bisa menjadi lebih lunak dan tidak menjadi otoriter kepada anak-anak.

Saya merasa lebih mudah menyesuaikan diri ke anak. Saya lebih bisa melihat kelebihan dan kekurangan anak dan membantu mereka melalui kelebihan yang mereka miliki. Jadi sekarang saya lebih melihat dari sisi anak bukan kepada apa maunya saya. Sikap seperti ini banyak yang berubahlah dari saya.

Dan di bacakilat, satu hal yang paling saya suka adalah saya bisa membaca lebih cepat dan mendapatkan apa yang saya inginkan dengan pemahaman tinggi. Meskipun cepat, saya tetap memahami apa yang saya baca. Selain itu, informasi yang saya butuhkan dari buku itu, bisa muncul dan membantu saya mengatasi masalah saya kapanpun saya membutuhkannya.

Jadi bagi teman-teman yang ingin belajar bacakilat ….

About the Author

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: