Bagaimana Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Anak?

Anak saya tidak semangat belajar. Mereka bukannya belajar malah bermain game. Yang laki-laki kerjanya main gaaaaaame mulu. Yang perempuan kerjanya nonton sinteroooooon mulu. Kalau ga, main HP.

Huuuh, sampai pusing saya kasih tahu mereka supaya belajar.

Gimana, ya, caranya supaya mereka semangat belajar?

Dalam ilustrasi di atas, dikisahkan seorang ibu kewalahan menghadapi anak yang malas belajar. Sebagaimana disebutkan, anak-anaknya bukannya belajar, tetapi justru bermain game, HP, nonton TV, dan sebagainya.

Nah, bagaimana dengan putra-putri Anda? Apakah Anda memiliki masalah yang sama dengan sang ibu dalam ilustrasi di atas? Apakah saat ini Anda sedang galau lantaran putra-putri Anda tidak memiliki motivasi untuk belajar?

What???! Iya? Mereka tidak memiliki motivasi untuk belajar? Alih-alih membaca buku, mengerjakan PR, belajar kelompok, mereka justru bermain game, nonton TV, pacaran, menghabiskan waktu untuk mendengarkan radio, nyanyi-nyanyi ga jelas?!!!

Wah, wah, kalau begitu, Anda perlu segera mengambil tindakan sedemikian rupa sehingga mereka meninggalkan itu semua dan beralih ke belajar.

Tetapi, bagaimana cara membuat mereka termotivasi untuk belajar? Bagaimana cara meningkatkan motivasi belajar mereka? Itu yang susah,” demikian keluh Anda.

Well, tidak perlu galau, Bunda. Tidak perlu menilai putra-putri Anda sebagai pemalas, anak-anak yang hanya suka hura-hura, senang-senang, berpikiran pendek, dan sebagainya. Mereka tidak memiliki semangat belajar bukan lantaran mereka pemalas. Di dunia ini, tidak ada manusia yang terlahir sebagai pemalas. Mereka menjadi malas lantaran ada sebabnya.

Nah, dalam artikel ini, penulis akan mengajak Anda untuk mengetahui cara meningkatkan motivasi belajar anak. Semoga, artikel ini bermanfaat bagi Anda.

Sekarang, kita mulai dengan lingkungan dan suasana hati.

Lingkungan dan Suasana Hati

Sebelum mengulas cara meningkatkan motivasi belajar anak, penulis ingin berbagi sedikit cerita kepada Anda.

Setiap dua minggu sekali, penulis bertemu dengan teman-teman untuk berdiskusi.

Suatu hari, kami mengadakan diskusi di lokasi A. Seperti biasa, diskusi dilakukan tepat jam 4 sore, pada hari Sabtu.

Tetapi, pada hari itu, ada yang agak berbeda dari minggu-minggu sebelumnya. Pada minggu-minggu sebelumnya, kami biasa datang terlambat dalam diskusi. Tetapi, pada hari itu, penulis datang tepat waktu, bahkan beberapa menit sebelum diskusi berlangsung.

Apa yang membuat penulis datang tepat waktu? Ternyata eh ternyata, setelah penulis telusuri, hal itu karena kedatangan peserta baru. Yup! Peserta baru ini rupanya membawa perubahan positif bagi penulis.

Penulis melihat peserta baru ini memiliki semangat yang saaaaangat tinggi. Dia tampak sangat enerjik sedemikian sehingga antusias datang jauh-jauh hanya untuk berdiskusi.

Nah, semangat dan antusiasme itu rupanya menular pada penulis. Melihat dirinya yang penuh semangat, optimis, dan enerjik dalam diskusi, penulis pun tertular. Penulis menjadi lebih semangat meluangkan waktu jauh-jauh untuk berdiskusi. Penulis bahkan berusaha agar tidak datang terlambat.

Lantas, apa hubungan cerita di atas dengan motivasi belajar anak?

Jadi begini, Bunda, cerita di atas menunjukkan bahwa suasana hati itu dapat menular. Suasana hati dapat ditularkan kepada orang lain.

Contagious (1)

Pernyataan di atas bukan karangan penulis, lho. Dalam sebuah riset, para pakar mendapatkan kesimpulan bahwa suasana hati (termasuk rasa gembira, semangat, dan antusiasme) itu dapat menular dari satu orang ke orang lain. Nah, dalam ranah psikologi, kecenderungan ini disebut motivational synchronicity.

Motivational synchronicity berarti saat Anda gembira, orang lain bisa ikut gembira. Demikian sebaliknya, saat Anda bersedih, orang lain pun bisa ikut bersedih. Apabila Anda antusias, maka orang di dekat Anda dapat tertular antusiasme Anda.

Jika tidak percaya, coba Anda berinteraksi dengan orang yang tidak memiliki antusiasme dalam bekerja. Niscaya, Anda pun tertular tidak semangat bekerja. Atau, coba bayangkan Anda mengajak suami untuk berlibur berdua, tetapi sang suami merespons ajakan Anda ogah-ogahan.

Apa yang terjadi? Penulis berani bertaruh, Anda, yang tadinya antusias, kini menjadi ciut dan kecewa.  Antusiasme Anda lenyap seketika mendengar jawaban sang suami.

Sebaliknya, apabila suami menyambut ajakan Anda dengan antusias, maka antusiasme Anda pun bertambah.

Sekarang, pertanyaannya, bagaimana cara menularkan antusiasme dan energi positif lainnya kepada orang lain jika kita sendiri bisa tertular energi negatif orang tersebut?

Nah, hal itu berkaitan dengan adu kekuatan antara energi positif dan energi negatif. Jika ada 10 orang yang bersemangat dan hanya ada satu orang yang tidak bersemangat, maka yang 10 niscaya mengalahkan yang 1. Tetapi, jika 10 orang memiliki energi negatif, dan hanya satu orang yang memiliki energi positif, maka orang yang berenergi positif itu akan tertular energi negatif.

Jadi, ketika energi positif lebih banyak ketimbang energi negatif, maka energi positif bisa menular. Sebaliknya, ketika energi positif lebih sedikit ketimbang energi negatif, maka energi negatiflah yang akan menular.

Memanfaatkan Prinsip Motivational Synchronicity untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Anak

Setelah menyimak penjelasan di atas, kesimpulan apa yang dapat kita tarik? Yakni Anda dapat meningkatkan motivasi belajar anak-anak Anda dengan memanfaatkan prinsip motivational synchronicity.

Ini artinya, Anda merekayasa lingkungan rumah Anda sedemikian sehingga penuh dengan energi positif. Dengan energi positif memenuhi rumah Anda, maka energi itu akan menular ke putra-putri Anda. Mereka, yang tadinya tidak peduli, bertindak semaunya, gemar bermalas-malasan, niscaya akan menjadi penuh semangat dan antusiasme dalam belajar.

Ada banyak cara yang dapat Anda lakukan untuk merekayasa lingkungan rumah sedemikian sehingga penuh energi positif yang meningkatkan motivasi belajar anak. beberapa di antaranya yaitu dengan mengajak anak untuk berkumpul dan mendiskusi materi yang mereka pelajari di sekolah, membawakan mereka buku-buku yang menarik, membangun perpustakaan mini di rumah, dan melakukan praktik bersama-sama.

Pada intinya, yang harus Anda lakukan yaitu terlibat dalam kegiatan belajar anak. Dengan demikian, anak melihat Anda antusias belajar. Dan, saat mereka melihat Anda antusias belajar, maka mereka pun niscaya tertular antusiasme Anda.

Setelah menyimak penjelasan di atas, bagaimana menurut Anda?

Anda tertarik untuk mencobanya?

 

About the Author

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: