Cemas Akan Masa Depan Anak, Siapkan Anak Untuk Masa Depan Mereka

Setiap orangtua pastinya mengharapkan kesuksesan besar untuk anaknya di masa depan. Orangtua memberikan segala macam fasilitas yang diyakini bisa mengembangkan potensi anak. Mulai dari sekolah terbaik, bimbingan belajar serta makanan sehat dan vitamin tambahan.

Semua itu adalah tanda kasih sayang dan kecintaan orangtua kepada anak. Masalah datang saat tumbuh kembang anak tidak seperti harapan orangtua. Sikap, tindakan dan kebiasaan buruk anak yang membuat orangtua merasa was-was akan masa depan anak itu sendiri.

Stres lagi

Penyebab Kecemasan Orangtua Akan Masa Depan Anak

Ada beberapa penyebab mengapa orangtua merasa cemas dan takut akan masa depan anak itu sendiri. Berikut penjelasannya:

1. Prestasi Belajar

Orangtua zaman sekarang masih sangat terfokus dengan prestasi belajar daripada pembentukan karakter positif anak.

Anak yang memiliki prestasi belajar rendah akan ramai-ramai diikutsertakan mengikuti les bimbingan di sekolah. Jika perlu masuk ke lembaga bimbingan tertentu yang dipercaya bisa meningkatkan prestasi belajar anak.

Saat perestasi belajar anak tidak seperti harapan orangtua, banyak dari orangtua mulai mencemaskan masa depan si anak.

Cara pikirnya sederhana, “bagaimana anak bisa sukses di masa depan jika prestasi belajarnya saja begitu buruk. Pasti anak nanti akan kalah saing dengan anak-anak yang lebih cerdas di luar sana.”

Apakah benar anak yang memiliki prestasi belajar yang bagus di sekolah pasti akan sukses di kehidupan nyata? Jawabannya tentu tidak. Bahkan orang sukses, paling kaya raya yang ada saat ini adalah orang-orang yang tidak memiliki prestasi belajar yang cemerlang di sekolah.

2. Anak yang Malas

Kemalasan anak dalam hal apapun menjadi satu momok yang sangat mengerikan bagi orangtua. Kecemasan dan ketakutan orangtua semakin besar saat anak sulit dan malas untuk melakukan hal penting menurut orangtua.

Bahkan kegiatan itu sendiri akan sangat membantu anak dalam hal-hal tertentu dalam kehidupanya di masa depan, dalam penilaian orangtua.

Rasa malas dan solusinya sendiri menjadi bahan perbincangan yang selalu hangat di antara para orangtua terutama ibu-ibu. Setiap solusi yang diungkapkan, sering kali akan dilakukan. Apalagi jika si pemberi solusi mendapatkan hasil sempurna dari solusi yang dibicarakan.

Memasukkan anak ke sekolah dengan budaya disiplin tinggi sering kali menjadi pilihan orangtua untuk mengatasi kemalasan dan ketidakdisiplinan si anak.

Alasan utamanya, orangtua menyekolahkan anak ke sekolah ini karena rasa takut dan cemas akan masa depan si anak.

3. Lingkungan Bermain yang “Buruk”

Anak menjadi pembangkang, pemalas, suka melawan serta sikap-sikap buruk lainnya, ia dapatkan dari lingkungan bermainnya. Lingkungan bermain yang buruk. Tentunya sikap dan karakter ini menjadi petaka bagi orangtua.

Bagaimana tidak, apapun yang disampaikan oleh orangtua tidak akan didengarkan dan diabaikan oleh si anak.

Anak akan bertindak sendiri. Dan sering kali tindakan yang anak ambil manjadi masalah tersendiri di belakang hari. Tentu ini menjadi beban tersendiri selain masalah lain yang harus orangtua atasi. Kondisi ini akan menguatkan keyakinan orangtua akan masa depan anak yang tidak beruntung.

Solusi Orangtua

Solusi Untuk Orangtua

Berikut beberapa cara yang orangtua perlu terapkan untuk mengatasi masalah kecemasan dan mempersiapkan anak untuk menjalani masa depan mereka dengan penuh harapan.

1. Orangtua Perlu Bertumbuh

Masalah yang sering orangtua hadapi dalam mendidik anak adalah kurangnya pengetahuan akan proses tumbuh kembang anak dan tidak terlalu memperhatikan perkembangan zaman serta pola pikir anak di zaman sekarang ini.

Tentu sangat berbeda cara mendidik anak di zaman industri dan zaman informasi saat ini. Masalahnya anak yang di zaman indutri yang telah menjadi orangtua di zaman informasi, masih menggunakan cara mendidik yang mereka dapatkan dari orangtua mereka di zaman industri.

Mulai dari menghabiskan waktu senggang, jenis permainan anak, menjalankan tradisi budaya, serta informasi “sampah” yang sangat mudah didapatkan di zaman sekarang yang sangat sulit didapatkan pada zaman industri.

Inilah hal utama yang membedakan anak zaman industri dan zaman informasi. Ini juga menandai lemahnya kontrol orangtua terhadap anak.

Bertumbuh bersama, terutama bagi orangtua adalah kunci untuk mencegah dan membentuk anak dengan kemajuan zaman saat ini. Caranya?

Melalui buku parenting tentunya. Mengapa buku parenting?

Buku parenting memberikan informasi berlimpah tentang tips, cara, tahap perkembangan serta kebutuhan utama dalam masa tumbuh kembang anak yang orangtua benar-benar butuhkan sebagai pegangan untuk menjadi orangtua terbaik bagi anak mereka.

Keuntunga lain dari membaca buku parenting adalah mendapatkan informasi dan tips dengan biaya yang sangat murah. Ditambah dengan hasil pembelajaran dari si penulis.

Bisa Anda bayangkan berapa biaya yang harus ia keluarkan untuk mendapatkan sebegitu banyaknya informasi yang ia tuangkan ke dalam buku?

Tentunya ini akan sangat membantu orangtua mengatasi perasaan-perasaan cemas, khawatir serta takut yang kurang bijaksana.

Untuk buku-buku parenting itu sendiri, Anda bisa mendapatkan ringkasanya di www.aquariusnote.com/parenting-intelligence. Ini adalah ringkasan dari buku-buku internasional yang diringkas menjadi bentuk PDF dan audio oleh pak Agus Setiawan.

Selain buku parenting, Anda juga perlu membaca buku-buku pengembangan diri serta menyediakan waktu untuk mengikuti seminar-seminar yang berhubungan dengan parenting dan pengembangan diri lainnya. Tentunya sesuai dengan kebutuhan Anda.

2. Memberikan Perhatian Kepada Anak.

Memberi perhatian bukan berarti hadir secara fisik tetapi juga seluruh perhatian, fokus dan energi kepada anak.

Banyak kasus klinis yang menunjukkan bahwa anak yang bermasalah sebenarnya menandakan kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orangtua. Banyak literatur yang mengatakan bahwa anak yang bermasalah adalah tanda anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang, terutama dari orangtua selaku pengasuh utama.

Prilaku dan sikap ini sama seperti tangisan bayi yang memiliki makna tertentu. Saat bayi menangis ia memberi tanda, bahwa ia butuh perhatian. Saat si bayi diberi perhatian dan kebutuhanya telah terpenuhi maka ia akan diam kembali menjadi bayi yang lucu.

Anak yang bermaslah sama seperti bayi yang menangis. Setiap perilaku yang dinilai buruk adalah “tanda” bahwa anak butuh perhatian dan kasih sayang dari Anda, sebagai orangtua mereka.

happy children

3. Skill Belajar

Hal lain yang harus Anda ketahui dan pahami, untuk bisa mengeluarkan potensi Anda, ia membutuhkan skill belajar. Skill atau cara belajar yang benar-benar bisa membuat ia menikmati proses belajar di sekolah.

Manfaat lain dari skill belajar itu sendiri agar ia terhindar dari emosi-emosi negatif yang tentunya akan mempengaruhinya sampai masa tuanya. Karena banyak orang dewasa tidak bisa mengembangkan potensinya karena mendapatkan dan memiliki emosi negatif yang mereka dapatkan di masa sekolah.

Dipermalukan, dikucilkan, diejek, diberi pernyataan bahwa ia tidak mampu dan tidak bisa. Baik oleh teman, guru atau dirinya sendiri. Emosi-emosi ini menjadi biang keladi atas prestasi belajar dan tentunya juga terhadap prestasi belajarnya.

Emosi ini perlu diatasi agar bisa membantu anak menetralisir dan menyukai bidang studi tertentu. Jika tidak si anak akan sulit meningkatkan prestasi belajarnya.

Skill belajar yang sangat saya sarankan adalah bacakilat for student. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap dari bacakilat, Anda bisa mengklik di sini.

Inilah cara yang bisa Anda gunakan untuk mengatasi kecemasan Anda selaku orangtua, serta solusi untuk menemukan dan mengeksploren kemampuan Anda.

Pembaca, apa yang Anda berikan kepada anak Anda untuk meyakinkan diri Anda bahwa anak bisa meraih sukses di masa depan? Saya tunggu komentar Anda.

About the Author

Leave a Reply 7 comments

rizka thenugrah - May 11, 2015 Reply

Terima kasih pak agus atas bimbingannya

jafar efendi - June 20, 2015 Reply

anak saya umurnya dah mu 6 tahun gk mau sekolah apalagi belajar,mu minta
solusinya gmn cr ny biar ank sy mau belajar,klo sy ajarin belajar malah ngambek gk mau d ajarin

    Ronald Sembiring - June 30, 2015 Reply

    Hi pak Jafar
    Terimakasih telah berkunjung,
    Coba bapak cari tahu penyebab mengapa si anak tidak mau belajar dan sekolah.
    Dengan mengetahui penyebab, kita bisa mencarikan solusi untuk anak bapak.

Ratri Galuh - July 19, 2018 Reply

Bagaimana cara memberikan perhatian kepada anak agar tidak menimbulkan sifat manjanya anak ?

    Agus Setiawan - July 20, 2018 Reply

    Beri perhatian anak dengan mendidiknya secara demokratis.

    Mendidik secara demokratis itu bagaimana?

    Intinya adalah mempercayai kemampuan anak. Percaya bahwa anak mampu mengatasi masalahnya sendiri, mampu membuat keputusannya sendiri, mampu diajak berdiskusi dan berkomunikasi secara dewasa, dan percaya dengan daya nalar anak.

    Jadi misalkan anak minta HP baru, orangtua jangan langsung membelikannya. Ajak ia diskusi mengapa ia ingin beli HP baru, dengarkan alasan-alasannya. Kalau alasannya baik, orangtua bisa membimbingnya bagaimana membeli HP baru tanpa harus minta orangtua. Kalau alasannya kurang baik, orangtua bisa memberikan pengertian bahwa HP yang lama masih bisa dipakai.

    Pada dasarnya, yang membuat anak jadi manja adalah orangtua mengubur kemampuan dan daya nalar anak. Anak dianggap tidak tahu apa-apa dan tidak bisa menyelesaikan apa-apa. Semua urusan, semua keputusan, orangtua yang menangani.

    Kalau anak minta ini itu, entah orangtua menolaknya tanpa memberikan alasan atau memberikannya tanpa mengajarkan anak untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dengan caranya sendiri.

    Akibatnya, anak jadi bergantung terus pada orangtua dan nalar dan kemandiriannya tidak berkembang.

    Semoga jawaban di atas membantu.

LINA - January 13, 2019 Reply

Bagaiamana cara mengatasi anak sebelum terjadi seperti itu?

    Agus Setiawan - April 8, 2019 Reply

    Perlu memberikan perhatian yang tepat pada anak. Dan juga memberikan pondasi pemahaman pada anak, membaca kepada anak secara rutin juga akan bisa mencegah anak cemas.Dan peran orangtua yang dibahas dalam artikel bisa mengatasinya.

Leave a Reply: