Ingin Sukses Belajar? Hindari Hambatan Belajar Satu Ini!

“Ya ampuuuuun, baca buku ga paham-paham!”

Apakah Anda sering mengeluh seperti di atas? Anda mengeluh susah paham saat belajar. Menurut Anda, materinya sulit. Anda mudah lupa dan harus mengulang-ulang bacaan.

Tahukah Anda mengapa Anda sulit belajar?

Untuk mengetahuinya, simak penjelasan berikut.

Mindset sebagai Hambatan Belajar

Salah satu penyebab kesulitan belajar yaitu mindset yang Anda percayai.

Mindset apakah itu?

Mindset bahwa kecerdasan Anda sudah mentok, sudah tidak dapat ditingkatkan lagi!

Mengapa mindset itu bisa membuat Anda sulit belajar?

Mindset adalah kepercayaan yang menjadi prinsip/dasar Anda dalam bertindak. Ketika Anda memiliki mindset “hidup itu seperti air, ikuti ke mana arus mengalir”, maka Anda pun bertindak sesuai dengan mindset itu; Anda tidak mempersiapkan hidup Anda; Anda menjalani hidup tanpa perencanaan dan evaluasi; Anda tidak peduli apakah hidup Anda mengalami kemajuan atau kemunduran, yang penting hidup Anda mengalir seperti air, mengikuti ke mana arus bergerak.

Demikian juga ketika Anda memiliki mindset “proses itu lebih penting daripada hasil”, maka Anda pun bertindak sesuai dengan mindset itu; Anda senantiasa menikmati proses dan mengesampingkan hasil. Dalam bekerja, misalnya, jika Anda memiliki mindset di atas, niscaya Anda lebih berfokus pada proses ketimbang pada hasil kerja Anda.

Lantas, bagaimana jika Anda memiliki mindset “kecerdasan Anda sudah mentok, sudah tidak dapat ditingkatkan lagi”?

Maka, tindakan Anda pun akan mencerminkan mindset itu. Jika menurut Anda kecerdasan Anda sudah mentok, maka Anda pun jadi pesimis belajar; Anda tidak termotivasi untuk memahami materi pelajaran yang berat; Anda jadi mudah menyerah ketika menemui kesulitan dalam belajar; Anda jadi enggan berusaha untuk bisa memahami materi tersebut.

hambatan belajar

Akibatnya, Anda pun benar-benar tidak paham apa yang Anda pelajari karena Anda menyerah sebelum paham.

Sebaliknya, jika Anda percaya bahwa kecerdasan Anda bisa ditingkatkan, niscaya Anda tetap termotivasi untuk terus berusaha ketika menemui kesulitan dalam belajar. Anda akan terus termotivasi untuk meningkatkan pemahaman Anda.

Hasilnya, Anda pun akhirnya paham materi yang Anda anggap berat.

Di sini, mindset “kecerdasan Anda sudah mentok” menjadi salah satu hambatan belajar Anda. Ia menjadi mental block yang menghambat diri Anda mengeluarkan potensi terbesar Anda.

Hal itu ibarat Anda mencoba memotong sebatang besi dengan pisau. Anda tidak tahu apakah pisau itu tajam atau tidak. Tetapi, Anda percaya bahwa ketajaman pisau itu terbatas dan tidak dapat diasah lagi menjadi lebih tajam.

Dengan kepercayaan itu, Anda menjadi enggan mencoba memotong besi tersebut. Megapa? Karena, Anda sudah pesimis duluan sebelum mencoba.

Nah, di sini, kepercayaan itu menghambat Anda mengeluarkan potensi terbesar dari pisau tersebut.

Sama seperti ilustrasi di atas, ketika Anda percaya kecerdasan Anda sudah mentok, kepercayaan itu menghambat Anda mengeluarkan potensi otak Anda. Ia membuat Anda pesimis dengan kemampuan otak Anda.

Akhirnya, pesimisme itu membuat Anda gampang menyerah ketika belajar.

Apa akibatnya?

Akibatnya, Anda benar-benar tidak paham apa yang Anda pelajari. Bagaimana Anda paham apa yang Anda pelajari jika Anda tidak berusaha memahaminya? Demikian logikanya.

Lantas, apa yang harus Anda lakukan untuk menghindari hambatan belajar itu?

Untuk mengetahuinya, yuk, kita simak penjelasan berikut.

Untuk Membuang Hambatan Belajar, Rubah Mindset Anda!

Untuk menghindari hambatan belajar yang penulis jelaskan di atas, Anda harus membuang mindset yang mengatakan kecerdasan Anda sudah mentok! Selain itu, Anda juga harus menggantinya dengan mindset yang lebih produktif.

Apa mindset yang lebih produktif yang menunjang belajar Anda?

Mindset bahwa kecerdasan Anda tidak mentok. Kecerdasan Anda dapat meningkat jika terus diasah, seperti sebilah pisau yang akan semakin tajam saat terus diasah.

Dengan mindset itu, Anda pun semakin optimis saat belajar. Anda semakin optimis Anda mampu menaklukkan materi yang sulit dipahami.

Hal itu menuntun Anda pada pemahaman seutuhnya. Logikanya, Anda akan paham jika Anda memang berusaha memahaminya.

Pertanyaannya, Bisakah Kecerdasan Ditingkatkan?

Mungkin Anda akan bertanya seperti ini: “Bagaimana kalau memang kecerdasan itu mentok, tidak bisa ditingkatkan? Kalau nyatanya kecerdasan itu mentok, kan sama saja membohongi diri sendiri kalau saya percaya bahwa kecerdasan saya bisa ditingkatkan? Sekeras apa pun saya belajar, kalau nyatanya kecerdasan tidak bisa ditingkatkan, maka saya tidak akan dapat memahaminya, kan?”

Hmmm, memang, ada sementara pakar yang menyatakan bahwa kecerdasan bersifat tetap, tidak dapat ditingkatkan. Menurut mereka, kecerdasan ditentukan oleh faktor genetis. Seseorang yang memang sejak lahir cerdas akan tetap cerdas sampai kapan pun. Sebaliknya, orang yang sejak lahir biasa saja kecerdasannya, maka selamanya kecerdasannya akan seperti itu, biasa-biasa saja. Sekeras apa pun ia berusaha untuk memahami materi pelajaran, jika kecerdasannya mentok, maka ia pun tidak akan pernah bisa memahaminya sampai kapan pun.

Namun demikian, berkebalikan dengan pendapat di atas, sebuah studi yang dilakukan oleh Susanne M. Jaeggi dan kawan-kawannya pada tahun 2008 menemukan bahwa ternyata kecerdasan dapat ditingkatkan! Temuan tersebut membuktikan bahwa kecerdasan bukanlah kualitas yang tetap/fixed.

Masih tidak percaya?

Baiklah! Dalam sebuah artikel yang termuat di situs blogs.scientificamerican.com, Andrea Kuszewski, seorang terapis terkenal memaparkan, selama ia menjadi terapis bagi anak-anak penderita autisme, ia menemukan terapi yang ia terapkan pada anak-anak tersebut dapat meningkatkan kecerdasan mereka.

One of my first clients was a little boy with PDD-NOS, a mild form of autism. When we began therapy, his IQ was tested and scored in the low 80s-which is considered borderline mental retardation. After I worked with him for about three years-one on one teaching areas such as communication, reading, math, social functioning, play skills, leisure activities-using multimodal techniques, he was retested. His IQ score was well over 100 (with 100 considered ‘average’, as compared to the general population,” Kuszewski menjelaskan.

Salah satu klien Kuszewski merupakan seorang anak dengan autisme tingkat moderat. Ketika ia memulai terapi, IQ anak tersebut dites dan hasilnya adalah 80 poin. Setelah terapi berlangsung selama tiga tahun, Kuszewski menguji kembali IQ-nya. Dan, dari tes tersebut, diketahui IQ sang anak meningkat 20 poin!

Bayangkan! Anak penderita autisme saja bisa meningkatkan kecerdasan mereka!

Bagaimana dengan Anda yang “normal”???

Nah, Anda dapat berpegang pada temuan itu. Yakinkan diri Anda bahwa kecerdasan Anda dapat terus ditingkatkan. Dengan keyakinan itu, Anda jadi lebih optimis dalam belajar. Tidak ada lagi yang menghambat Anda untuk mengeluarkan potensi terbesar otak Anda.

Baca juga:

Bagaimana Cara Belajar Efektif? Ini Dia Rahasianya!

Syarat-Syarat yang Harus Anda Penuhi untuk Membaca Kritis

Ini Dia Teknik Bertanya Kritis saat Membaca Buku!

About the Author

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: