Inilah Alasan Mengapa Seseorang Tidak Akan Pernah Bisa Menguasai Bacakilat

Apakah Anda pernah berpikir, “Apakah semua alumni bacakilat pasti bisa menguasai bacakilat? Menggunakan bacakilat untuk menuntaskan semua tumpukan buku yang ia baca.”

Kami sih berharapnya begitu. Tapi fakta di lapangan, ada juga alumni yang tidak bisa menguasai bacakilat. Jadi saat ia baca buku, ia kembali menggunakan baca konvensional.

Dan seperti yang telah kita bahas di artikel-artikel sebelumnya, menggunakan baca konvensional hanya akan menimbulkan masalah baru; mengantuk, tidak konsen, tidak paham, mudah lupa dsb.

“Lalu apa yang membuat alumni ini tidak bisa menguasai bacakilat? Apakah memang ia tidak bisa menguasai bacakilat?”

Selama Anda melakukan apa yang diminta oleh pengajar, maka menguasai bacakilat atau menjadikannya sebagai kebiasaan dalam membaca bukanlah hal yang susah. Anda hanya diminta menuntaskan 10 buku.

Menuntaskan 10 buku dengan bacakilat bukanlah hal yang sulit. Itu hal yang sangat mudah. Jika Anda konsisten dalam 2 minggu, ini waktu yang cukup lama, Anda pasti bisa menuntaskannya.

Bahkan ada alumni yang bisa menuntaskan 108 buku kurang dari 2 bulan. Tentu itu pencapaian yang sangat luar biasa sekali, bukan? Dan kami tidak menuntut Anda melakukan hal yang sama seperti alumni yang ini.

Di artikel ini, kita akan membahas apa saja yang membuat seseorang tidak akan pernah bisa menguasai bacakilat.

Dengan mengetahui ini, besar harapan saya saat Anda mempelajari bacakilat Anda tidak terjebak pada masalah yang sama seperti alumni yang tidak bisa menguasai bacakilat ini.

Sayang banget kalau Anda sudah menginvestasikan waktu, pemikiran, energi dan uang Anda. Tapi Anda tidak mendapatkan manfaat besar dari bacakilat. Harapan kami Anda benar-benar menggunakan bacakilat dalam mempermudah mencapai tujuan Anda.

Yuk, kita bahas satu per satu.

 

Tidak praktek

Biasanya orang-orang ini selalu berkata, “Saya sih sudah ikut bacakilat tapi saya malas praktek.”

Kalau tidak praktek, sudah pasti si alumni ini tidak akan pernah bisa menguasai bacakilat. Bukan hanya bacakilat saja, untuk menguasai semua skill yang kita butuhkan dalam hidup pasti mengharuskan kita melakukan namanya praktek.

Lalu apa yang membuat si alumni ini tidak mau praktek?

Ada 2 hal yang kami temukan. Pertama, ia kehilangan momentum membaca. Ini terjadi akibat ia menunda-nunda untuk membaca. Artinya, ia mengikuti kemalasan dirinya.

Alasan lain bisa juga karena kesibukan yang sangat tinggi membuat ia tidak bisa meluangkan waktu untuk membaca.

Kalau masalah waktu sih, ini masalah prioritas. Selama membaca itu penting untuk dilakukan, maka pasti akan disiapkan waktu untuk membaca.

Karena terlalu sering tidak membaca, maka momentumnya turun dan hilang. Dan saat ingin kembali membaca, rasanya sangat berat dan butuh perjuangan yang lebih besar. Ini membuat ia tidak praktek sama sekali.

Kedua dan menurut kami ini yang mendasari kenapa momentum membaca hilang adalah, tidak jelasnya kurikulum pengembangan dirinya.

Ini adalah rencana kehidupan Anda. Apa yang Anda inginkan dalam hidup dan apa saja skill dan pengetahuan yang harus Anda kuasai untuk mencapai kehidupan terbaik Anda.

Semakin jelas kurikulum pengembangan diri Anda, maka semakin besar dorongan Anda untuk membaca. Karena dengan membaca Anda bisa meningkatkan skill, pemahaman dan kualitas diri Anda.

 

Tidak mengadopsi paradigma bacakilat

Gambar oleh Szilárd Szabó dari Pixabay

Biasanya orang-orang ini selalu berkata, “Saya sih sudah ikut bacakilat tapi saya merasa ga nyaman menggunakan bacakilat.”

Menurut Anda, siapa yang mengharuskan kita untuk membaca dari depan ke belakang, membaca dari halaman depan ke halaman belakang, membaca secara kata per kata?

Ini adalah mindset membaca yang ditanamkan lingkung ke kita secara tidak sadar. Mindset seperti ini hanya akan menghambat kita di dalam proses membaca. Saat kita melanggarnya, kita merasa tidak nyaman.

Coba Anda bayangkan, kalau dalam buku ada 10 bab dan saat Anda baca bab dan sub-babnya, Anda merasa informasi yang Anda butuhkan ada di bab 3 atau 4, misalnya.

Menurut Anda, apakah Anda perlu membaca bab 1 dan 2? Secara logika tidak, bukan? Tapi mengapa kita tetap membaca dari bab 1 sampai bab 4?

Inilah mengapa kita perlu mengubah dan menanamkan mindset membaca yang baru. Bacakilat menawarkan paradigma membaca yang lebih memberdayakan kita, bahwa membaca adalah personal business.

Ini berarti kita mengambil informasi yang kita butuhkan, bukan mengambil semua informasi yang sudah disediakan oleh penulis. Dengan mindset membaca seperti ini bisa membuat kita membaca dengan lompat-lompat atau hanya membaca bagian-bagian yang dirasa perlu saja.

Jadi kita tidak perlu membaca semua isi buku itu, dari depan ke belakang, dari atas ke bawah atau baca secara kata per kata. Membaca seperti ini hanya akan menimbulkan rasa takut akan kehilangan atau kelewatan informasi yang ada di buku itu.

So, inilah penyebab kedua kenapa alumni bacakilat ini tidak bisa menguasai bacakilat. Ia sendiri tidak rela melepas mindset membaca yang lama.

Jadi saat ia akan membaca, ia merasa tidak nyaman. Ada penolakan dari dalam diri untuk menggunakan bacakilat. Yahhh, pada akhirnya ia akan baca buku menggunakan cara lama, teknik baca konvensional.

 

Ingin hasil cepat

Gambar oleh Jan Vašek dari Pixabay

Biasanya orang-orang ini selalu berkata, “Saya sih sudah ikut bacakilat tapi saya belum mendapatkan hasil dari bacakilat.”

Inilah mengapa kita mendorong mereka yang sudah belajar bacakilat, baik secara tatap muka dan online untuk segera menuntaskan tantangan 20 jam atau mempraktekkan bacakilat ke 10 buku.

Tujuanya adalah agar mereka melewati yang namanya masa bingung. Di masa bingung inilah momen yang paling menentukan, apakah ia akan menguasai bacakilat atau berhenti menggunakan bacakilat.

Di masa bingung juga, adalah saat-saat yang paling berat, menantang karena kebiasaan baru ditanamkan yang akan menggantikan kebiasaan lama. Pastinya akan ada penolakan dari dalam diri.

Selama alumni ini tidak mau melewati masa bingung ini, yang hanya membutuhkan waktu 20 jam, maka menguasai bacakilat pasti sulit terjadi.

Memahami kondisi seperti ini, kami memberikan service after sales berapa kebebasan untuk berkonsultasi langsung ke pengajar terkait hal-hal yang ia belum paham atau ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul setelah selesai pelatihan.

Dengan seperti ini bisa memastikan kalau mereka bisa menguasai bacakilat dengan benar dan akhirnya bisa mendapatkan manfaat besar dari bacakilat.

 

So, inilah 3 alasan penyebab seseorang tidak akan pernah bisa menguasai bacakilat. Dengan pemahaman ini, semoga saat Anda mempelajari bacakilat Anda tidak terjebak pada salah satu dari 3 poin di atas.

Terakhir, sebelum Anda memutuskan untuk mempelajari bacakilat, Anda bisa mempelajari bagaimana cara kerja bacakilat. Silahkan klik di sini untuk mendapatkan video tutorialnya.

Setelah Anda menonton video tersebut, barulah Anda putuskan untuk menguasainya atau tidak. Dan dari link itu, Anda akan masuk ke satu halaman yang meminta nama dan alamat email Anda. Setelah Anda submit, link tutorial akan dikirimkan ke alamat email Anda.

Selamat belajar dan saya tunggu cerita Anda di kolom komentar

About the Author

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: