Inilah Ketakutan-Ketakutan Yang Menghentikan Seseorang Untuk Belajar Bacakilat (2)

  • Home >>
  • Artikel >>

Sekarang, mari kita lanjutkan membahas ketakutan-ketakutan yang menghentikan seseorang untuk belajar bacakilat.

Kalau Anda belum membaca artikel bagian pertama, Anda bisa membacanya dengan mengklik di sini.

“Baca buku kok cepat-cepat, emangnya bisa paham?” Atau, “Baca buku kok cepat-cepat, emangnya masih bisa menikmati bacaaan?”

Gambar oleh klimkin dari Pixabay

Pertanyaan ini cukup sering kami dapatkan. Bacakilat dianggap sama seperti baca cepat.

Padahal di bacakilat, kami tidak pernah mengajarkan tentang baca cepat. Yang diajarkan adalah bagaimana baca selektif, membaca bagian-bagian tertentu yang kita butuhkan.

Kami percaya bahwa baca cepat tidak berarti kita bisa memahami isi buku. Justru baca cepat bisa membuat kita tidak memahami apa yang dibaca.

Dibandingkan dengan baca selektif, dari pengalaman kami, kita bisa mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari buku lebih cepat. Justru baca selektif bisa membantu mencapai tujuan membaca.

“Bagaimana soal pemahaman dan kenikmatan membaca? Apakah dengan bacakilat kita bisa paham dan menikmati buku itu?”

Kita mulai dari pemahaman ya.

Oke, kalau Anda sudah membaca beberapa artikel saya yang lain, maka Anda pasti akan menemukan kata memahami yang cukup sering saya ulang. Saya juga sering mempertegas kalau dengan bacakilat seseorang bisa cepat paham dan ingat lama apa yang ia telah baca.

Bisa paham dalam sekali baca adalah hal yang wajar di bacakilat. Penjelasannya terletak pada cara pengkondisian pikiran bawah sadar.

Baca konvensional hanya mengandalkan pikiran sadar dalam membaca. Di bacakilat, kita memberdayakan keduanya, pikiran sadar dan pikiran bawah sadar sekaligus.

Jadi di langkah kedua dari teknik bacakilat, kita melakukan yang namanya bacakilat, membolak-balik halaman demi halaman, dari awal sampai akhir. Ini adalah bagian di mana semua informasi yang ada di buku dimasukkan langsung ke pikiran bawah sadar dan memberikan waktu dan ruang bagi pikiran bawah sadar untuk mempelajari informasi yang ia baru terima.

Jadi saat kita ingin memahami isi buku itu secara sadar di langkah ketiga dari bacakilat, pikiran bawah sadar kita akan mengirimkan informasi yang kita butuhkan. Disinilah kita membaca secara selektif.

Dari pengalaman dan cerita banyak alumni bacakilat berkata, saat memahami isi buku yang sudah dibacakilat, mereka merasa buku itu seolah-olah sudah pernah dibaca sebelumnya.

Ada juga yang merasa kalau buku itu terasa lebih mudah dipahami atau tingkat kerumitan buku itu menurun dari biasanya.

Jadi jelas, dengan bacakilat kita bisa memahami isi buku itu dengan sekali baca.

“Bagaimana dengan kenikmatan?”

Wah, justru dengan bacakilat Anda bisa lebih menikmati buku yang dibaca. Agar jelas, kita perlu sepakati kenikmatan yang dimaksudkan itu apa.

Yang kami maksudkan kenikmatan itu adalah tingkat fokus saat membaca. Jadi saat kita sangat fokus membaca maka kita menikmati buku itu dan begitu sebaliknya. Kalau kita tidak fokus membacanya, kita tidak menikmati buku tersebut.

Apakah Anda pernah membaca 1-2 jam dengan sangat fokus tanpa terganggu sama sekali? Kalaupun ada gangguan dari luar seperti panggilan telepon atau orang memanggil, saat Anda kembali ke buku Anda, Anda bisa kembali ke level fokus yang sama seperti sebelum ada terganggu.

Hal seperti ini sering terjadi pada alumni bacakilat dalam menuntaskan buku-buku mereka.

Jadi kalau Anda ingin paham sekali baca dan bisa lebih menikmati isi buku Anda, maka Anda bisa menggunakan bacakilat untuk mencapainya. Silahkan klik di sini untuk mendapatkan pemahaman tentang cara kerja bacakilat.

“Baca buku kok loncat-loncat, nggak dibaca semua. Emang nggak ada yang kelewat?” atau, “Kurang afdol kalau nggak baca kata per kata dari awal sampai akhir.”

Oke, soal baca loncat-loncat di sini sama seperti kita baca buku secara selektif. Artinya kita hanya membaca bagian yang kita butuhkan dan tidak membaca atau melewati bagian yang kita tidak butuhkan.

Membaca tidak harus kata per kata atau dari halam depan ke halaman belakang. Ini adalah mindset membaca yang tidak memberdayakan.

Membaca kata per kata atau membaca dari halam depan ke halaman belakang tentu menjadi kegiatan yang sangat membosankan dan melelahkan. Inilah mengapa baca konvensional menimbulkan masalah baru dalam membaca.

Mindset membaca yang disarankan pak Agus adalah, membaca adalah personal business. Kita mengambil apa yang kita butuhkan dari buku itu. Ini berarti kita bisa membaca secara loncat-loncat, bisa kembali ke halaman sebelumnya untuk mendapatkan dan memperkuat pemahaman kita.

Proses seperti ini akan membuat kita lebih menikmati proses membaca. ini membuat membaca jadi lebih seru dan fun.

“Tapi saya takut kalau ada informasi yang ketinggalan dan kelewatan kalau saya bacanya dengan loncat-loncat.”

Pemikiran ini muncul dari mindset baca itu harus kata per kata, baca itu harus dari depan ke belakang dan baca itu harus dari atas ke bawah.

Selama mindset membaca ini masih dipegang teguh, maka proses membaca itu akan terasa melelahkan dan ini akan menjadi beban.

Tujuan sebenarnya kita membaca adalah mendapatkan apa yang kita butuhkan, bukan mengetahui semua pemikiran penulis.

Dan untuk mencapai tujuan ini, proses membaca itu tidak harus selamanya dilakukan dengan membaca kata per kata, dari atas ke bawah atau dari depan ke belakang.

 

“Apakah bacakilat bisa diterapkan untuk buku; pelajaran, kamus, filsafat, statistik, kitab suci, artikel, jurnal, makalah dan yang lainnya.”

Gambar oleh stokpic dari Pixabay

Pertanyaan ini sudah pernah saya ulas khusus di satu artikel. Anda bisa membacanya di sini.

Bacakilat bisa diterapkan di semua jenis buku, selama buku itu masih ada kontennya. Tidak masalah buku apapun itu. Memang untuk buku-buku tertentu, bacakilat tidak sepenuhnya bisa diterapkan 100%.

Seperti kitab suci dan kamus. Kedua jenis buku ini membutuhkan perlakuan khusus. Tapi hanya dengan melakukan langkah pertama dan kedua dari teknik bacakilat akan membuat seseorang lebih mudah memahami dan mengingat isi buku tersebut jika dibandingkan dengan baca biasa.

 

“Apa bacakilat bisa dipakai untuk baca buku bahasa asing?”

Pertanyaan ini adalah sambungan di pertanyaan sebelumnya. Jawabanya, bisa.

Saya ingin menyampaikan beberapa hal di sini, untuk buku bahasa asing, kecepatan kita bisa memahami konten buku tersebut sangat ditentukan oleh pemahaman kita akan bahasa asing itu.

Kalau kita punya vocab yang cukup untuk memahami bahasa itu, maka buku bahasa asing itu sama saja seperti buku lainnya. Itu hanya masalah bahasanya saja.

“Bagaimana kalau bahasa asingnya masih terbata-bata atau belum lancar menggunakan bahasa asing itu?”

Untuk kasus seperti ini, justru kami menyarankan Anda untuk membacakilat kamus bahasa asing yang anda ingin kuasai.

Dengan membacakilat kamus, kita dengan langsung memasukkan informasi yang ada di kamus ke pikiran bawah sadar. Ini akan membuat kita merasa lebih familiar dengan bahasa asing yang kita ingin kuasai.

Oh iya, jika Anda ingin bacakilat kamus, maka saya sarankan untuk melakukannya paling tidak 2 minggu secara berturut-turut. Lakukan bacakilat kamus 2 kali sehari, pagi sore. Ini mirip seperti makan obat dokter ya hahaha

Begitulah kenyataanya. Semua alumni juga melakukan hal yang sama dan kosa kata bahasa asingnya meningkat drastis.

Jadi kalau Anda ingin mempelajari bacakilat, saya menyarankan Anda untuk mempelajari konsep dasar bacakilat terlebih dulu. Ini akan memberi Anda pemahaman jelas, apakah teknik ini bisa membantu Anda atau tidak.

Silahkan klik di sini untuk mempelajarinya. Dari halaman itu, Anda akan diminta untuk memasukkan nama dan alamat email. Setelah submit, akan dikirimkan link ke alamat email Anda untuk Anda bisa mengakses materi bacakilat.

Selamat belajar dan saya tunggu cerita Anda dari mempelajari bacakilat.

About the Author

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: