“Dengan menuliskan impian saya, sekarang Impian saya telah tercapai” Bagaimana bacakilat bisa membantu seorang alumninya mencapai impiannya

  • Home >>
  • Study Case >>

Pak I Made Kartayasa yang mengikuti Workshop Bacakilat 3.0 batch 211 bulan Mei 2018 di Samarinda

Hi, saya I Made Kartayasa dari Samarinda. Saat ini saya bekerja di TVRI Kalimantan Timur. Saya dipercaya menduduki jabatan produser di seksi Current Affairs & Siaran Olah Raga yang memproduksi berbagai jenis program, mulai dari Program Suara Milenial, Dialog Pemberitaan hingga beberapa produksi Features berdurasi 30 menit

Selain itu saya juga dipercaya sebagai koordinator Penyiar sekaligus masih aktif siaran sebagai News Anchor dan Interviewer.

Selain di bidang jurnalistik saya juga punya passion lain, saya aktif untuk menangani training-training untuk pengembangan diri di bidang komunikasi khususnya Public Speaking.

Tahun lalu saya dipercaya sebagai salah satu trainer eksternal Direktorat Jendral Perbendaharaan (Kementerian Keuangan Republik Indonesia) khusus dalam pengembangan skill Public Speaking dengan lokasi Training di Manokwari Papua Barat, Bengkulu, Makassar, dan Kota Samarinda.

Di luar dari itu, area training yang saya tangani di wilayah Kalimantan Timur khususnya Kota Balikpapan, Samarinda, Kukar dan juga Bontang. Instansi yang ditangani mulai dari Kepolisian, Lembaga Administrasi Negara, Organisasi Perangkat Daerah hingga Private CEO perusahaan swasta. Kemampuan komunikasi yang saya miliki sangat menunjang profesi baik sebagai Penyiar maupun sebagai trainer.

Saya mengikuti pelatihan bacakilat di angkatan 211 yang diadakan di Samarinda waktu itu. Yang mengajar adalah pak Yulius Damian bulan Mei 2018.

Pertemuan saya dengan bacakilat diawali saat saya mendapatkan iklan bacakilat di facebook. Saya baca sepintas, saya langsung tertarik karena memang apa yang dijelaskan di iklan itu saya banget, “Ini kok sama dengan apa yang saya alami?”

Contoh begini, di sana dikatakan, “Banyak membeli buku tapi tidak habis dibaca sampai akhir.” atau “Membeli buku tapi di tumpuk di rak buku.”

Kebetulan saya sejak awal, mulai dari perkuliahan sudah mulai suka beli dan baca buku tapi saya tidak pernah menyelesaikan buku-buku itu. Saya hanya baca kata pengantarnya saja lalu saya tumpuk di rak buku, tumpuk, tumpuk dan tumpuk. Sekarang mulai berkurang karena sudah tahu strategi untuk mempercepat proses baca dengan teknik bacakilat.

Sebenarnya kalau baca buku itu tidak harus baca dari halaman depan sampai halaman belakang. Tapi yang disebut kita telah menyelesaikan satu buku ketika kita sudah mendapatkan value yang kita harapkan dari buku itu. Itu intinya. Sekarang saya tetap membeli buku dan selesai dibaca.

Karena merasa saya punya masalah seperti itu, saya penasaran seperti apa teknik yang digunakan sehingga 1 buku bisa diselesaikan dalam 2 jam.

Di seminar itu disinggung mengenai bagaimana cara kerja pikiran dan bagaimana kita bisa memanfaatkan pikiran bawah sadar, satu bagian yang memiliki lebih dari 80% pengaruh atas apa yang kita lakukan termasuk juga dalam membaca.

Saya semakin tertarik ke sana. Karena saya pernah membaca tentang cara kerja pikiran di buku-buku NLP, Mindset, hypnotherapy selain secara rutin membaca buku-buku komunikasi.

Ketika saya tahu bahwa teori yang diterapkan sama seperti buku-buku yang pernah saya baca, saya tambah penasaran dengan bacakilat tentang cara penerapannya. Akhirnya saya ikut gabung di workshopnya.

Pada saat gabung di workshop itu, ketika awal-awal pak Yulius menjelaskan, saya mikir, “Kok saya disuruh buat tujuan ya? Kok saya disuruh buatin goals saya ya? Sampai sebegitunya ya? Kok ga berhubungan dengan membaca ya?” awal-awal saya berpikir seperti itu.

Ketika saya ikuti tahapan demi tahapannya, saya mengalami kebingungan juga, tapi semua kebingungan saya dan peserta lain bisa dijelaskan oleh beliau.

Pak Yulius sampai bilang, “Pokoknya lakukan saja. Jangan langsung kita memprediksi. Selesaikan dulu prosesnya lalu nanti bapak ibu bisa berikan penilaian. Apakah tekniknya bekerja atau tidak.” Ya sudah saya lakukan, lakukan dan lakukan. Saya melakukannya dengan nyaman. Saya merasa teknik ini bekerja.

Setelah selesai pelatihan kami diberi tantangan membaca 10 buku dalam tujuh hari. Saya terima tantangan itu. Saya bangun pagi, saya baca 2 buku dalam satu jam. Buku itu saya selesaikan sambil saya menulis setiap hari mengenai goal yang saya ingin capai.

Begitu saya melakukan proses bacakilat awalnya sempat kepikiran, “Masa sih dengan menuliskan goal tiap hari kemudian kita mencapai goal itu?“

Meskipun ada pemikiran seperti itu, saya ikuti saja karena diharuskan. Saya jalankan hampir satu minggu untuk menyelesaikan tantangan membacanya.

Setiap subuh saya bacakilat 2 buku. Saya tuliskan lagi tujuan yang mana itu goal saya. Apa yang kemudian dijelaskan di workshop bacakilat itu, “Kalau kita memang punya tujuan, kalau sudah kita tentukan tujuan, tulis tujuan, pastikan tujuan itu ditunjang dengan sumber daya yang ada di buku, semua akan terealisasi.” Dan benar, akhirnya terealisasi. Itu benar-benar buat saya, “Wow. Bacakilat ini keren banget yah.”

Goal yang saya maksudkan di sini adalah tujuan membaca. Kan di langkah pertama kita disuruh membuat tujuan membaca. Sebelum menulis tujuan, kita harus menjawab what dan why. Kalau what kita mengambil apa yang kita butuhkan di buku, why-nya alasan kita membaca buku itu.

Dalam membuat why itulah yang saya masukkan goal saya. Contohnya, “Saya ingin menjadi trainer public speaking termahal, terlaris di Kaltim di tahun 2018.” Saya juga tambahkan, “Saya ingin membuka kelas public speaking untuk umum dengan harga sekian”

Itu adalah goal yang saya ingin capai secara personal yang saya cantumkan di bagian why setiap kali membuat tujuan membaca.

Yang kemudian membuat saya takjub setelah seminggu saya praktek bacakilat, tak lama setelah itu saya mendapat panggilan untuk dipercaya menjadi moderator buat debat calon gubernur. Saya pikir itu bagian di dalam proses saya bacakilat khususnya dalam menuliskan goal saya.

Setelah itu ada panggilan dan kesempatan untuk mengisi inhouse training public speaking di kapolda. Ada juga di kantor kesehatan pelabuhan Balikpapan.

Setelah itu semakin banyak tawaran masuk sampai saya diminta mengisi kelas di kementerian keuangan. Itu yang benar-benar buat saya takjub, “Wah, apa yang saya capai ini bener-benar terealisasi seperti goal yang saya sudah tetapkan.”

Menjadi trainer di bidang komunikasi khususnya di public speaking adalah goal yang dari dulu saya ingin capai. Tapi saya tidak pernah menulis goal saya ini. Yang saya tahu, saya hanya ingat goal saja, “Saya ingin menjadi trainer public speaking. Saya ingin punya kelas inhouse training di mana-mana. Saya ingin berbagi ke banyak orang.” Sudah begitu saja. Jadi saya juga tidak pernah mendukung goal saya dengan referensi yang tepat agar goal itu tercapai.

Masalahnya kenapa saya belum mencapai goal saya karena saya merasa materi yang saya punya itu belum lengkap. Saya hanya mengandalkan pengalaman sebagai presenter plus sebagai News Anchor. Hanya itu yang saya miliki.

Meskipun saya mengumpulkan buku-buku komunikasi tapi kemudian saya tumpuk. Saya hanya membaca sedikit di awal-awal saja. Kemudian saya keteteran dengan waktu membaca. Saya tidak punya waktu dan fokus untuk membaca karena memang pekerjaan yang deadlinenya luar biasa. Itu sebelum ikut kursus bacakilat.

Setelah kemudian saya ikut bacakilat, di sana diajarkan menemukan buku-buku yang bisa menunjang impian kita. Saya kumpulkan buku-buku itu. Saya kemudian membeli buku-buku komunikasi dan public speaking, baik dari dalam dan luar negri.

Dari bacakilat saya baru paham kalau waktu membaca itu kita yang buat. Satu jam pun bisa menyelesaikan 2 buku, “Wah keren banget saya bilang.” Disitulah saya kemudian bisa mendapatkan kuncinya. Jadi saya bisa menyelesaikan masalah-masalah membaca saya sebelumnya.

Kalau dulu baru buka buku satu dua halaman saja saya sudah mengantuk. Kadang-kadang buku jadi teman tidur. Saat kebangun, saya lupa paragraf mana yang sudah saya baca. Terkadang saya lupa dengan apa yang sudah saya baca sebelumnya.

Karena itu jarang sekali ada buku yang bisa saya selesaikan. Apalagi tuntutan waktu dan pekerjaan yang saya tidak bisa ditunda. Jadi kebanyakan buku-buku itu saya tumpuk apalagi kalau sudah dikejar deadline pekerjaan.

Sekarang dengan bacakilat, satu jam saya bisa menyelesaikan dua buku. Bisa cepat seperti itu karena saya sudah memiliki referensi akan buku-buku yang saya baca. Seminggu, saya bisa baca sampai 7 buku. Tapi kalau jadwal saya padat banget, kadang seminggu tidak bisa baca sampai 7 buku. Kadang-kadang 4 sampai 5 buku.

Kalau ditotal-total jumlah buku yang sudah saya bacakilat dari tahun bulan Mei 2018 sampai sekarang (wawancara dilakukan tanggal 13 Maret 2019, ed) mungkin sudah sampai lebih kurang 100 buku kali.

Karena memang saya tidak pernah mendata setiap buku yang saya sudah baca. Saya melakukan ini dengan mengalir saja. Sekarang saya sudah tidak pernah menumpuk buku lagi. Setiap buku yang dibeli pasti akan selesai saya baca. Bahkan di toko buku saya bisa menyelesaikan 1 buku tanpa harus membelinya.

Dari bacakilat saya banyak belajar tentang cara membaca yang benar. Kalau dulu saya harus baca buku dari awal sampai akhir untuk mendapatkan intisari dari buku itu. Dengan bacakilat, sebenarnya saya bisa mendapatkan apa yang saya butuhkan tanpa harus membaca dari awal sampai akhir.

Sesuai dengan namanya, melakukan dengan sangat-sangat cepat untuk mendapatkan pesan yang saya butuhkan dengan mengabaikan hal-hal yang tidak sesuai tujuan saya.

Kemudian efisiensi waktu. Jadi saya tidak perlu lagi menyediakan waktu khusus, “Jam sekian harus baca.” “Punya waktu libur nih, hari ini untuk baca buku.”

Sekarang tidak. Di tengah-tengah pekerjaan yang sibuk pun saya bisa melakukan baca buku. Setengah jam saya istirahat siang, saya bisa baca satu buku. Itu yang paling keren dari bacakilat.

Dengan membaca buku-buku pengembangan diri, manfaat terbesar yang saya rasakan adalah prestasi kerja. Di kantor itu saya sekarang itu sudah bisa membranding diri sebagai orang yang mampu untuk mengajarkan skill komunikasi. Ini dibuktikan dengan panggilan untuk mengajar di perusahaan swasta dan pemerintah.

Bukan hanya itu, hubungan dengan anak dan pasangan juga jauh lebih harmonis. Dengan menerapkan audio ringkasan buku parenting yang diberikan pada saat mendaftar workshop bacakilat. Audio dari ringkasan buku itu sangat membantu dalam melakukan pendekatan ke anak. Saya rasa manfaat lain juga akan terus bertambah selama saya terus menjaga kebiasaan membaca ini.

Jadi bagi teman-teman yang ingin meningkatkan diri dari baca buku, saya sangat merekomendasikan bacakilat. Segera bergabung. Kalau di awal berkata, “Mustahil kali bisa membaca dengan cepat dan memiliki pemahaman yang tinggi.”

Pokoknya sekarang, masuk saja dulu. Kemudian ikuti prosesnya. Ikuti tahapannya. Kemudian buktikan sendiri. Bagaimana kemudian kemampuan ini bisa menunjang karier, menunjang hubungan yang lebih harmonis di dalam keluarga dan teman sejawat. Itu kemudian bisa dirasakan sendiri hasilnya setelah Anda mempraktekkan bacakilat.

Sedikit saya tambahkan take line: Saya berpandangan, setiap orang itu punya DNA yang berbeda termasuk juga pemahaman mengenai kecepatan membacanya tapi DNA yang dimiliki masing-masing orang itu unik.

DNA-nya itu punya keunggulan sendiri. Jadi jangan pernah khawatir kalau Anda berpikir begini, “Hanya orang-orang punya nilai akademis yang bagus, orang-orang tertentu saja yang bisa membaca dengan cepat bisa memiliki hobby membaca. Jangan pernah berpikir seperti itu.”

“Setiap orang bisa memiliki hobby membaca. Setiap orang bisa membaca dengan cepat. Setiap orang bisa meningkatkan diri lewat membaca buku. Setiap orang bisa mencapai goalnya yang didukung melalui pengetahuan yang tepat.

Dan ingat bahwa DNA itu kalau saya secara personal memaknainya adalah kepanjangan dari Dream and Action. Jika Anda punya mimpi, maka Anda harus berbuat untuk mencapai mimpi itu. Dream and Action.

About the Author

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: