Bagaimana kebiasaan baik bisa menjadi kebiasaan buruk yang menghabiskan banyak uang tapi tidak mendapat manfaat sama sekali?

  • Home >>
  • Study Case >>

Bu Amalia Julianti yang mengikuti Workshop Bacakilat 3.0 batch 198 bulan Maret 2017 di Malang

Saya Amalia Julianti. Saya seorang ibu rumah tangga. Selain sibuk sebagai ibu rumah tangga, saya juga seorang fasilitator parenting. Kemudian ada juga bisnis sampingan kerajinan tangan berupa kesenian gunting tempel yang menggunakan media seperti kain, pandan, gelas, kaca, kayu dan macam-macam. Bahannya menggunakan tisu khusus.

Bisnis ini berdiri di bawah naungan Amel Craft. Sementara saya dan teman-teman masih memasarkan hasil kerajinan melalui toko online. Saya mengikuti bacakilat di angkatan 198 sekitaran maret 2017 dan yang mengajar saat itu adalah pak Agus.

Penjelasan pak Agus akan cara kerja bacakilat memberikan saya satu pencerahan. Sebelum full time menjadi ibu rumah tangga, dulunya saya adalah dosen di universitas Patria Malang.

Dulu saya mengajar akuntansi. Kalau sudah mengajar, saya bisa menjelaskan satu materi ke banyak materi lain yang mana materi itu tidak ada hubungannya dengan materi ajar yang harus saya berikan ke mahasiswa. Saya menjelaskan begitu saja tanpa banyak berpikir panjang dan semua yang saya jelaskan ternyata nyambung.

Sampai saya terheran-heran, “Kenapa ya? Kok saya bisa memberikan penjelasan seperti itu? Kok semua yang disampaikan saling terhubung dan terintegrasi seperti itu?” dan hal seperti ini terus berlanjut selama saya menjadi dosen.

Itu yang pertama. Yang kedua, sewaktu kuliah dan mau ujian, tentu banyak buku yang harus saya baca. Melihat itu ibuk saya berpesan, “Udah kamu baca-baca aja sepintas. Nanti juga isi bukunya masuk ke pikiran kamu.”

Ya sudah, saya mengikuti saran ibuk saya. Saya baca-baca sepintas saja. Saya percaya saja apa yang dibilang ibuk saya. Mungkin itulah yang membuat saya dulu saat mengajar bisa menjelaskan satu hal ke hal yang lain dan semuanya terintegrasi.

Kalau dari penjelasan pak Agus ternyata saya sudah melakukan proses bacakilat meskipun belum sempurna. Setelah ikut seminarnya pak Agus saya baru tahu bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Ternyata ada teorinya. Masalahnya kalau saya tidak tahu teorinya saya tidak yakin melakukannya.

Contohnya saja sebelum kenal bacakilat, pikiran saya ini sukanya baca dengan melompat-lompat. Misalnya dari bab satu pindah ke bab lima, dari belakang pindah ke depan. Kalau baca biasa kan bacanya dari depan ke belakang, dari bab ke bab selanjutnya.

Karena tidak tahu teorinya dan saya tidak pernah lihat orang lain baca buku seperti itu, ya sudah saya tinggalkan bukunya. Saya merasa itu hal yang aneh. Sampai saya berpikir kalau cara baca saya ini salah karena tidak ada orang yang baca seperti itu. Ya sudah, saya tinggalkan itu buku.

Setelah mendengar penjelasan pak Agus, ternyata itu tidaklah aneh. Bahkan bisa dibilang cara baca seperti itu lebih baik daripada cara baca biasa. Ternyata membaca dengan melompat-lompat bisa membuat kita lebih aktif dalam memahami isi buku itu.

Puncaknya, yang membuat saya penasaran dengan bacakilat saat pak Agus menjelaskan tentang cara kerja pikiran bawah sadar dan pikiran sadar dalam kaitan membaca. Katanya, “Masukkan dulu “makanan” ke pikiran bawah sadar agar nanti pikiran bawah sadar ada referensi saat pikiran sadar butuh sesuatu.” Makanan yang dimaksudkan itu ternyata isi buku.

Saat itulah saya klik, langsung tercerahkan. Saya jadi tahu, “Ternyata ini lho? Ini penjelasannya kenapa saya bisa menyambungkan satu materi ke materi lain?” Langsung deh, saat itu saya putuskan untuk mempelajari bacakilat.

Alasan lain kenapa saya ikut bacakilat, karena saya orang yang punya habit buruk dalam membeli buku. Buruk karena setiap kali ke toko buku saya pasti beli banyak buku. Saya bisa ke toko buku sekali sebulan.

Sampai pernah saya beli buku di bazar buku. Yang jual buku sampai ngomong, “Semoga terbaca ya bu” haha… Itu karena banyaknya buku yang saya beli.

Belum lagi kalau di toko buku ada buku-buku yang diskon. Saya bisa beli lebih banyak buku lagi. Masalahnya saya hanya suka beli buku tapi tidak pernah tuntaskan baca buku itu. Itu di rumah saya ada banyak buku. Di rumah ibuk saya juga masih banyak, belum saya bawa pulang ke rumah saya.

Dulu untuk menyelesaikan satu buku saja saya butuh waktu lama dan tidak pernah ada buku yang  selesai saya baca. Paling banyak dibaca setengah atau seperempat dari ketebalan buku. Udah begitu saja, ya sudah selesai. Kalau tidak paling saya hanya buka-buka saja halaman bukunya.

Kalau sekarang tidak. Saya pasti menyelesaikannya. Waktunya bisa sampai dua hari untuk satu buku. Ini sangat tergantung dengan situasi dan kondisi di rumah. Kalau dirata-ratakan setelah selesai pelatihan bacakilat sampai sekarang saya bisa selesaikan 5 buku perbulan (wawancara dilakukan tanggal 11 maret 2019, ed).

Alhamdulillah setelah belajar saya tidak lagi kalab (baca: tidak bisa menahan diri) lagi kalau ke toko buku. Ini membuat saya bisa menghemat banyak uang dalam membeli buku yang tidak saya butuhkan. Setiap kali beli buku bisa sampai 10 buku. Nanti kalau ada diskon atau bazar, saya bisa belinya lebih banyak lagi haha…

Setelah ikut bacakilat, setiap ke toko buku paling bawa pulang dua sampai lima buku saja. Itu saya sudah seleksi dengan sangat ketat. Bahkan ada buku-buku tertentu yang saya baca langsung di toko buku. Saya sudah bisa memilih buku-buku yang benar-benar saya butuhkan, tidak lagi membeli karena judulnya yang menarik.

Makanya saat saya lihat-lihat buku yang ada di rumah, ternyata ada banyak buku yang saya tidak butuhkan. Saya sadar kalau dulu saya beli buku karena ingin menambah ilmu dan wawasan. Kalau lihat buku bagus, langsung beli, meskipun sebenarnya saya sudah paham apa isi bukunya. Kalau sekarang jelas berbeda.

Selain lebih save money, berkat bacakilat saya bisa memahami isi buku dengan mudah. Sekarang saya sangat mengandalkan suara hati saya dalam memahami isi buku. Kalau hati saya bilang, “Kamu baca bagian yang ini. Yang ini dilewati saja. Yang ini perlu dipahami. Balik ke halaman belakang,” saya ikut saja.

Kalau dulu kan saya abaikan kalau dapat suara-suara seperti ini. Sampai saya tinggalkan buku itu. Padahal itu dorongan dari pikiran saya untuk mencapai tujuan baca saya. Setelah saya cek mind mapping dan sesuaikan dengan tujuan membaca saya, ternyata saya mendapatkan apa yang saya butuhkan.

Tantangan terbesar saya dalam membangun kebiasaan membaca sampai sekarang adalah ketidakmampuan saya dalam menyiapkan waktu untuk khusus membaca buku. Ini juga menjadi penghalang terbesar saya dalam penulisan buku. Tahun ini saya ingin menulis buku di bidang parenting. Saya ingin berbagi ke banyak orang melalui buku saya.

Setelah full time jadi ibu rumah tangga, saya harus mengurusi semuanya sendiri di rumah. Karena tidak ada yang bantu juga. Semua pekerjaan di rumah selesai jam 10 pagi. Selebihnya saya bisa mengerjakan hal-hal lain. Seperti mengurusi kerajinan tangan saya, baca buku, menyiapkan bahan menulis buku, ke tempat orangtua, arisan dan masih banyak lagi.

Masalahnya setiap hari ini saya tidak tahu apa yang akan bisa mengganggu saya kalau sudah menyiapkan waktu khusus membaca.

Misalkan saya sudah set buat baca 1 jam di jam 10. Pada jam itu ternyata anak saya minta ditemani atau minta sesuatu ke saya, mau tidak mau saya harus melakukan hal itu. Setelah itu selesai, saya langsung mutung karena tidak bisa melakukan apa yang sudah saya rencanakan sebelumnya.

Mutung itu artinya putus semangat. Buat kembali membaca itu terasa sangat berat. Saya jadi malas. Ya sudah saya melakukan hal lain. Ujung-ujungnya saya tidak baca deh.

Cara saya mengatasi masalah mutung itu dengan menurunkan ekspektasi saya. Artinya kalau saya ingin baca jam 10, saya baca sesuai waktu yang tersedia. Karena saya tidak bisa memastikan tidak akan ada gangguan setiap kali saya mau baca.

Yang penting saat ada gangguan saya tetap menyelesaikan gangguan itu dan tetap baca dengan sisa waktu yang ada. Jadi saya tidak harus mutung lagi. Yang penting sekarang tujuan saya ingin membaca sudah tercapai. Tidak harus selesaikan buku atau sekian jam membaca. Ini membuat saya jadi lebih nyaman dan ini juga latihan untuk saya menjadi lebih fleksibel.

Setelah belajar bacakilat, mindset saya dalam membaca berubah total. Kalau sekarang setiap kali mau membaca saya harus membuat tujuan membaca. Berbeda sekali dengan apa yang diajarkan di cara baca biasa.

Kalau selama ini tujuan saya hanya ingin menambah ilmu dan wawasan, sekarang saya ingin isi buku itu membantu saya mencapai tujuan saya. Kalau tidak bisa bantu, buat apa juga saya membeli buku itu. Jadi saya harus jelas apa tujuan saya sebelum membaca terutama membeli buku baru.

Dari semua manfaat yang sudah saya sebutkan, pengembangan diri adalah aspek yang paling berkembang selama saya mempraktekkan bacakilat dan mengikuti fb live pak Agus.

Dulu saya orangnya suka melakukan banyak hal sekaligus. Saya ingin capai semua yang saya inginkan sekaligus. Dengan baca buku dan masukan pak Agus di fb live saya harus mengkerucutkan apa yang harus saya lakukan. Jadi saya tahu prioritas saya. Saya juga tidak perlu buang-buang waktu melakukan hal yang tidak mendukung tujuan saya.

Jadi bagi teman-teman yang mau terus maju, ingin terus meningkatkan diri melalui baca buku, bacakilat akan menjadi tools yang akan sangat bermanfaat bagi Anda. Jangan ditunda lagi karena saya sendiri telah merasakan banyak manfaatnya.

Kalau saya bisa mendapatkan manfaat dari belajar bacakilat, saya yakin teman-teman juga bisa mendapatkan manfaatnya juga. Mungkin juga Anda mendapatkan manfaat yang tidak pernah Anda duga sebelumnya. Who knows, have to tried until you get it.

About the Author

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: