Menumbuhkan Rasa Ingin Tahu pada Anak

Dulu, waktu anak Anda masih berumur dua tahun, ingatkah Anda bagaimana antusiasnya ia mengenal dan mempelajari hal baru? Tiap hari, tiap jam, tiap menit, bahkan tiap detik, ia bertanya kepada Anda tentang semua yang ia lihat.

Bukan hanya itu, ia juga sangat antusias untuk mencoba berbagai hal. Ia ingin mencoba memotong kertas dengan gunting; Ia ingin mencoba bermain korek api; Ia ingin mencoba meloncat dari kursi dan sebagainya.

Apa yang Anda rasakan ketika anak Anda terus menerus bertanya? Tentu, Anda senang, bukan? Anda senang karena itu menunjukkan anak Anda memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Anda senang, karena rasa ingin tahu itu menjadi salah satu faktor yang memotivasinya mempelajari hal baru. Rasa ingin tahu itu dapat menjadi motivasi untuk belajar kelak saat ia sudah dewasa.

Nah, sekarang saat anak Anda telah beranjak remaja, apa yang terjadi? Masihkah ia gemar bertanya kepada Anda? Masihkah ia tertarik untuk mencoba hal-hal yang baru?

Sebagaimana umumnya anak yang telah menginjak remaja, ketertarikan atau rasa ingin tahu anak Anda masihlah ada. Rasa ingin tahu itu belum sepenuhnya lenyap. Hanya saja, saat ia beranjak remaja, rasa ingin tahunya sangat terbatas. Ia hanya penasaran terhadap hal-hal yang menyangkut seksualitas dan lawan jenis. Sementara itu, ketertarikannya terhadap hal lain seolah melenyap.

Pertanyaanya, mengapa bisa demikian? Apa yang menyebabkan rasa ingin tahu anak melenyap?

Salah satu sebab mengapa rasa ingin tahu anak lenyap yaitu saat anak sudah beranjak remaja, sudah banyak konsep yang ia ketahui di dunia ini. Ia sudah menguasai berbagai keterampilan. Ia sudah bisa menulis, membaca, mengendarai sepeda, mengoperasikan komputer, menuang air, membuat teh, dan berbagai keterampilan yang masih asing baginya waktu masih kecil.

Nah, karena sudah menguasai berbagai keterampilan dan mengenal banyak konsep yang ada di dunia, ia pun merasa bahwa ia sudah tidak perlu lagi mempelajari hal baru.

Dalam istilah Zen, remaja kehilangan rasa ingin tahu karena pikirannya sudah bukan lagi pikiran pemula (beginner mind) melainkan pikiran ahli (expert mind). Mereka merasa bahwa mereka sudah mengenal dunia. Mereka sudah tidak asing lagi dengan dunia tempat mereka tinggal. Karena itulah, rasa ingin tahunya lenyap.

Namun demikian, ada beberapa hal yang masih membuat mereka penasaran. Di antaranya yaitu teman lawan jenis. Mereka mulai menggali berbagai informasi mengenai teman lawan jenis, tentang hubungan romantis, tentang seksualitas, dan semua hal seputar itu.

Hal ini tentu patut disayangkan. Mengapa? Karena, di masa remaja, anak masih membutuhkan rasa ingin tahu (curiosity) mengenai segala hal, bukan hanya terbatas pada urusan seksualitas. Dengan rasa ingin tahu itu, mereka termotivasi untuk belajar, mengenal berbagai konsep yang diajarkan di sekolah.

Begitu vitalnya rasa ingin tahu terhadap kemajuan belajar anak, bahkan Albert Einstein pun konon mengakui bahwa rahasia kesuksesannya menjadi pemikir besar bukan lantaran ia genius, melainkan karena ia memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi.

Nah, pertanyaannya, jika rasa ingin tahu itu vital bagi kemajuan belajar, lantas bagaimana cara menumbuhkan kembali rasa ingin tahu pada anak Anda yang sudah beranjak remaja? Bagaimana cara mengalihkan perhatian anak Anda dari hal-hal yang bersifat seksualitas kepada hal-hal yang diajarkan di sekolah seperti matematika, ekonomi, kimia, fisika, agama, pendidikan moral, pengetahuan sosial dan sebagainya? Bagaimana cara menumbuhkan kembali rasa ingin tahu mereka?

Untuk menjawabnya, mari kita telusuri faktor-faktor yang membuat anak penasaran.

Setidaknya, ada beberapa faktor yang membuat anak penasaran. Apa saja faktor itu?

1. Penting/pengaruh

Apabila Anda atau anak Anda menganggap penting suatu hal, maka Anda atau anak Anda niscaya ingin mengetahui semua informasi mengenai hal itu.

Sebagai contoh, anak Anda menyukai salah satu teman lawan jenisnya, maka niscaya ia penasaran terhadap anak itu. Mengapa ia penasaran? Karena, anak itu memiliki arti penting baginya.

menumbuhkan rasa ingun tahu

Apabila anak Anda tidak menyukai anak itu, maka ia tidak akan repot-repot menggali informasi tentang anak itu. Mengapa? Karena, anak itu tidak memiliki arti penting baginya.

Nah, sama seperti saat anak menganggap penting salah satu teman lawan jenisnya, demikian pula saat ia menganggap penting sesuatu, ia niscaya akan menggali informasi tentang hal itu.

2. Asing atau aneh

Bagaimana reaksi Anda ketika menjumpai sesuatu yang asing? Anda penasaran, bukan? Anda ingin mengetahui hakikat benda itu, bukan?

Sebagai contoh, Anda menemukan benda aneh di teras rumah Anda. Niscaya, Anda segera mendekati benda itu dan mengamati detailnya dengan seksama.

3. Misterius

Faktor ketiga yang membuat Anda penasaran yaitu misterius. Saat Anda menjumpai misteri, Anda pun tertarik untuk mengungkap misteri itu.

Sebagai contoh, saat Anda menjumpai gerak-gerik orang yang mencurigakan. Anda pun tertarik untuk membuntuti orang tersebut untuk mengetahui apa yang hendak dilakukannya.

4. Unik

Selain itu, rasa ingin tahu juga timbul saat Anda melihat sesuatu yang unik.

Sebagai contoh, Anda melihat buah apel yang berbentuk kotak. Hal itu tentu merupakan suatu keanehan, bukan? Nah, dengan keanehan itu, Anda pun ingin menggali lebih dalam mengenai buah apel berbentuk kotak itu.

5. Menantang

Faktor yang terakhir yaitu menantang. Kita cenderung penasaran pada hal-hal yang menantang keberanian dan kemampuan kita.

Aktivitas yang berbahaya jauh lebih menarik dibanding aktivitas yang tidak berbahaya. Demikian juga, buku yang dilarang beredar jauh lebih menarik anak muda dibanding buku yang biasa-biasa saja.

Bagaimana Cara Menumbuhkan Rasa Ingin Tahu pada Anak?

Nah, setelah mengetahui beberapa faktor yang membuat anak Anda penasaran, sekarang saatnya untuk mengetahui cara menumbuhkan rasa ingin tahu pada anak yang sudah remaja. Caranya yaitu dengan memanfaatkan faktor-faktor di atas.

Buatlah sedemikian sehingga materi pelajaran mengandung keanehan, keunikan, misterius, menantang, dan penting bagi anak Anda.

Pertanyaannya, bagaimana membuat materi pelajaran mengandung keanehan, keunikan, misteri, menantang, dan penting bagi anak Anda?

1. Tantangan

Bagi penulis, buku yang kata orang sangat sulit dipahami jauh lebih menarik untuk dibaca dibanding buku yang mudah dipahami. Mengapa demikian? Karena, buku yang sulit dipahami itu menantang. Ia menantang keberanian penulis untuk menaklukkannya. Ia menantang kemampuan otak penulis.

Bagaimana dengan anak Anda? Tentu, kita semua memiliki kecenderungan yang sama. Kita jauh lebih tertarik menaklukkan hal-hal yang menurut banyak orang susah ditaklukkan. Alasannya, hal itu menantang keberanian  dan kemampuan kita.

Anak jauh lebih tertarik untuk bermain game yang sulit dimenangkan dibanding bermain game yang mudah dimainkan. Mengapa demikian? Karena, game yang sulit dimenangkan sangat menantang. Ia menantang kemampuan si anak.

Nah, untuk itu, agar anak tertarik dengan materi pelajaran di sekolah, tantang ia untuk memahami materi itu. Selain itu, tantang pula ia untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tantang ia untuk mengerjakan latihan soal terkait materi itu.

Apabila ia tidak tertarik materi pelajaran matematika, katakan kepadanya seperti ini:

“Kamu hebat banget kalau jago matematika. Ga semua anak bisa dan paham pelajaran matematika, lho. Kalau kamu jago, kamu keren.”

“Bisa ga memecahkan hitungan ini? Susah banget. Teman Bapak di kantor yang orangnya terkenal jenius ga bisa memecahkan hitungan ini. Tapi, Bapak yakin kamu bisa.”

2. Teka-teki

Selain dengan tantangan, Anda juga bisa menumbuhkan rasa ingin tahu anak Anda dengan teka-teki.

Buatlah teka-teki terkait materi pelajaran yang ia pelajari di sekolah.

Sebagai contoh, dalam pelajaran bahasa Inggris, anak diperkenalkan pada konsep tenses. Ada past tense, present tense, future tense dan sebagainya.

Menurut aturan grammar dalam bahasa Inggris, kalimat verbal (dalam bentuk present tense) yang menggunakan subjek berupa kata ganti orang ketiga tunggal (he, she, it, nama orang), maka susunan grammar-nya adalah seperti berikut.

Subjek + Verb (I) + s/es + objek/keterangan

Contoh:

The sun sets in the west

Tetapi, coba Anda bertanya seperti ini:

Kan, menurut aturan grammar, kalimat verbal dengan subjek kata ganti orang ketiga tunggal, aturan grammar-nya adalah S + V (I) + s/es + objek/keterangan. Tetapi, mengapa orang bule biasa bilang God bless you? Mengapa bukan God blesses you?”

Dengan mengungkapkan keanehan suatu fenomena dan peristiwa yang menyimpang dari apa yang ia pelajari, anak lebih tertarik untuk menggali lebih dalam. Mengapa demikian? Ia ingin mengetahui alasan mengapa peristiwa atau fenomena itu menyimpang dari apa yang dipelajarinya.

3. Skeptis

Bangun tradisi berpikir skeptis pada anak Anda. Artinya, bangun kebiasaan pada anak untuk tidak mudah percaya pada ucapan orang lain, termasuk guru dan penjelasan dalam buku yang dibacanya. Ajak ia untuk membuktikan sendiri apa yang ia pelajari.

Biasakan bertanya kepadanya, “Masa, sih?”, “Penjelasannya tidak sesederhana itu, Nak. Bapak lupa detailnya. Tetapi, kamu bisa cari tahu.”

Sebagai contoh, dalam pelajaran ekonomi SMA, dijelaskan bahwa fungsi uang adalah alat pertukaran dan alat untuk membayar hutang.

Dengan penjelasan seperti itu, niscaya anak Anda tidak tertarik belajar ekonomi. Mengapa? Penjelasan itu sangat flat (datar) dan membosankan. Tanpa perlu dijelaskan, anak Anda tahu bahwa fungsi uang adalah alat pertukaran.

Tetapi, coba bertanya kepadanya begini:

“Masa, sih, fungsi uang hanya sebagai alat pertukaran? Kalau begitu, dari mana laba/keuntungan pedagang datang?”

Dulu, di jaman purba, belum ada uang. Karena belum ada uang, maka jual beli dilakukan dengan cara barter alias bertukar barang. Pertanyaannya, bagaimana jika buah apel ditukar dengan seekor keledai? Apakah pertukaran itu diterima? Apakah pemilik keledai bersedia menukar keledainya dengan sebutir apel?”

Nah, dengan pertanyaan seperti itu, anak tertantang untuk membongkar keyakinannya. Mulanya, ia yakin ia sudah paham tentang fungsi uang. Tetapi, setelah mendengar pertanyaan itu, niscaya ia ragu dengan pemahamannya. Ia akan menggali lebih dalam untuk mengetahui fungsi dan seluk-beluk uang.

4. Detail

Cara yang terakhir yaitu biasakan anak untuk mempelajari sesuatu secara detail. Mengapa harus detail?

Coba bandingkan dua penjelasan berikut ini. Mana kira-kira penjelasan yang lebih menarik dan mana yang membosankan.

Telepon genggam adalah alat komunikasi yang tidak membutuhkan kabel, seperti peswat telepon di jaman dulu.

Atau

Telepon genggam adalah alat komunikasi yang tidak menggunakan kabel seperti pesawat telepon di jaman dulu. Fungsi telepon genggam bukan hanya untuk berkomunikasi lewat suara. Pengguna juga bisa berkomunikasi dengan menggunakan pesan teks. Pesan teks ini terkenal dengan sebutan SMS.

Selain itu, telepon genggap juga dilengkapi dengan berbagai fitur mulai dari kamera, wifi, radio, pemutar mp3, pemutar video, perekam suara, perekam audio visual, dan masih banyak lagi.

Kira-kira, penjelasan mana yang lebih menarik? Penjelasan yang kedua, bukan? Sementara itu, penjelasan yang pertama saaaaangat membosankan.

Mengapa mempelajari sesuatu dengan detail lebih menarik dibanding mempelajari sesuatu hanya dalam garis besarnya? Karena, mempelajari sesuatu hanya dalam garis besar membuat kita merasa sudah mengetahui seluk beluknya. Nah, saat kita merasa sudah mengetahui seluk beluk benda itu, maka tidak ada misteri/teka-teki dari benda itu yang perlu diketahui.

Sebaliknya, mempelajari benda/sesusatu dengan detail membuat kita merasa belum mengenal benda itu dengan baik. Kita merasa masih ada misteri/teka-teki yang harus diungkap terkait benda itu.

Misteri/teka-teki inilah yang membuat kita penasaran.

Untuk itu, latih dan biasakan anak untuk mempelajari sesuatu secara detail. Katakan padanya, jangan pernah puas dengan penjelasan yang singkat dan umum.

Demikian beberapa cara yang dapat Anda terapkan untuk menumbuhkan kembali rasa ingin tahu pada anak. Semoga, cara di atas bermanfaat bagi Anda.

About the Author

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: