“Saya tidak boleh baca novel lagi!” Temukan bagaimana seorang alumni bacakilat bisa berhenti membaca novel karena…

  • Home >>
  • Study Case >>

Bu Ami yang mengkuti Workshop Bacakilat 3.0 batch 217 tahun 2018 di Jakarta

Saya Ami. Saya seorang ibu rumah tangga dan kegiatan harian saya adalah berdagang pakaian dan bingkai. Saya mengikuti Bacakilat di Jakarta batch 217 di 14 Juli 2018.

Saya suka membaca tapi untuk menyelesaikan satu buku itu sangat lama. Itupun untuk buku-buku fiksi seperti majalah atau novel. Mungkin satu buku bisa selesai sekitar satu minggu, paling cepat.

Berjualan sambil membaca itu sangat merepotkan sekali. Saat ada pembeli saya harus berhenti membaca dan saat kembali membaca, terkadang rasanya sangat malas apalagi kalau saya tidak terlalu suka dengan buku bacaannya. Kalau sudah malas saya lebih suka buka-buka youtube.

Awal saya mengenal Bacakilat, saya pikir diperuntukkan bagi anak-anak. Saya tahu Bacakilat dari suami saat kami ke toko buku. Saat itu suami kasih tahu saya, “Bu, ini ada buku Bacakilat.” “Ini sih buat anak-anak kali pak” jawab saya.

Dengan melihat dan membuka-buka halaman bukunya saya berpikir, “Bagaimana bisa baca satu detik satu halaman? Masa bisa sih?”

Tapi di satu sisi saya merasa “Wah kalau bisa kuasai Bacakilat bisa cepat dong saya baca bukunya. Tapi kan ini buat anak-anak.”

Karena memang judul bukunya Bacakilat For Students. Kata students itu membuat saya berpikir kalau itu memang untuk anak-anak. Dan benar saja, itu memang untuk anak-anak. Seperti yang saya pikirkan.

Karena saya penasaran saya cari-cari di youtube tentang Bacakilat. Dari hasil pencarian di youtube, saya baru tahu kalau Bacakilat itu juga ada buat orang dewasa bukan hanya untuk anak-anak.

Dari situ saya langsung mencari kelas terdekat Bacakilat. Awalnya saya mengikuti seminarnya. Di situ saya jelas bagaimana cara kerja Bacakilat dan bagaimana ia bisa membantu saya mempercepat membaca buku-buku saya. Kata pak Agus dengan bacakilat seseorang bisa menuntaskan buku dengan ketebalan 200-300 halaman dalam waktu 2 jam.

Setelah mengikuti pelatihan Bacakilat sampai sekarang saya telah membacakilat 55 buku. Untuk menuntaskan satu buku dengan Bacakilat waktu yang saya butuhkan sekitar satu jam setengah beserta dengan mind mappingnya.

Hanya saja 55 buku tersebut tidak ada yang buku fiksi. Awalnya saya mau belajar Bacakilat karena ingin membaca novel.

Begitu saya selesai mengikuti pelatihan Bacakilat pak Agus bilang, “Bu, bacanya jangan novel ya. Jangan baca buku fiksi ya.”

Mendengar itu saya merasa, “Wahh, gagal deh saya baca novelnya haha.”

Tapi saya berniat, “Ya sudahlah. Yang penting saya sudah mengetahui teknik Bacakilat.”

Dari situ saya putuskan untuk mengikuti saran pak Agus. Jadi saya tanyakan jenis buku apa saja yang harus saya baca.

Pak Agus menyarankan baca buku-buku seperti pengembangan diri, motivasi, bisnis dan sejenisnya. Intinya bukan buku fiksi.

Dari situ sebenarnya awal saya merasa positif. Saya mulai baca buku nonfiksi dan sudah banyak efek positif yang saya dapatkan. Salah satu perkembangan yang saya rasakan, mungkin yang paling tidak enak buat keluarga dan teman-teman dekat adalah, saya semakin cerewet hahaha ….

Setelah saya banyak membaca, kan saya lebih banyak tahu, tuh. Misalnya, bagaimana cara mengatasi anak yang malas belajar. Bagaimana agar mendidik agar memiliki disiplin yang bagus. Bagaimana kita bisa memperluas wawasan dan berbagai hal yang lain.

Ini kan buat saya ke anak-anak jadi lebih bawel. Saya bisa cerita dan kasih nasehat ke mereka. Sampai anak juga komplain, “Kok mama sekarang lebih bawel sih?” hahaha …

Jadi saya ambil sisi positifnya saja. Akhirnya terpicu untuk membuktikan kepada diri sendiri Bacakilat ini memang work agar anak-anak juga lihat.

Saya ingin tunjukkan, “Begini lho, pengetahuan itu bisa didapatkan melalui membaca buku. Pengetahuan itu tidak hanya ada di youtube.” Karena anak-anak di rumah lebih suka lihat youtube daripada baca buku.

Kalau sekarang saya jadi lebih bawel karena Bacakilat, secara materi saya belum merasakan perkembangan yang signifikan. Justru saya merasa lebih mudah menjalin hubungan baik dengan pelanggan. Saya tidak terlalu keras untuk bernegosiasi ke pelanggan. Justru saya lihat kemampuan komunikasi saya yang lebih berkembang.

Mungkin saya perlu membaca buku marketing kali ya? Karena terus terang mulai buku ke tiga puluh saya lebih banyak membaca buku tentang pembentukan mindset. Sebenarnya mulai bosan karena isi buku itu tidak jauh ke mana-mana antara buku satu dengan buku yang lain.

Tempo hari ada yang kasih masukan, “Mungkin ibu harus beli bukunya yang di atas standar. Maksudnya beli bukunya jangan yang 300 halaman. Belinya yang di atas 300 halaman agar bisa mendapat wawasan lebih agar tidak bosan. Dengan topik yang sama mungkin kata-katanya saja yang dibolak balik.”

Saya cobalah itu. Saya beli beberapa buku yang halamannya di atas 500. Ternyata sama saja isinya. Isi pembahasannya saja yang lebih panjang haha

Setelah bosan dengan buku-buku tentang mindset, saya mulai berpikir untuk mengganti topik. Lalu saya ambil topik tentang kesehatan. Di situ saya mulai mendapatkan 2 hal baru. Pertama bagaimana cara memanfaatkan air secara maksimal dan satu lagi tentang jadwal organ tubuh bekerja.

Saya merasa berhasil pada saat saya membaca tentang buku kesehatan karena bisa langsung saya terapkan pada tubuh saya sendiri.

Karena saya semakin bisa sharing sesuatu ke anak-anak dan melihat saya membaca buku tiap hari, mereka juga minta diajari bagaimana cara melakukannya. Senang juga karena mereka yang minta untuk belajar. Saya ajari apa yang saya ketahui berdasarkan materi di kelas pak Agus.

Kemarin itu anak saya yang paling kecil berkomentar, “Bu, aku merasa lebih mudah belajarnya. Apakah memang benar cara kerja bacakilatnya seperti ini saja?“

Padahal saya hanya mengajari dia gambaran besar saja. Dia melihat dari awal saya melakukan Bacakilat ke buku. Bagaimana saya membuat tujuan membaca, melakukan kondisi genius, bacakilat, aktivasi manual dan membuat mind mapping. Kemudian dia mempraktekkannya sendiri.

Dia sampai berkomentar, “Kok tahapnya acak begini? Aku malah tidak tahu apa-apa ini bu?” “Kamu masih bacakilat satu buku sudah komentar begitu. Kalau begitu bagaimana kamu bisa? Itu kan belum masuk ke langkah aktivasi manual.” jawab saya.

Bahkan beberapa hari yang lalu dia sempat cerita tentang proses belajarnya di sekolah. Belakangan ini dia sedang fokus belajar bahasa asing. Jadi saya minta dia untuk melakukan bacakilat sebentar sebelum tidur, besoknya diulang lagi. Baru kemarin terlaksana (wawancara dilakukan pada tanggal 6 september 2018, ed).

Ketika dia baru bangun tidur dan melakukan bacakilat dan menghafal pelajarannya, dia bilang, “Ini rasanya tenang banget bu. Aku lebih mudah ngerti pelajaranku.” Dia lebih percaya diri kalau bisa mendaatkan nilai bagus dengan menggunakan bacakilat yang saya ajarkan ke dia.

Jika Anda ingin mempercepat proses membaca dan tetap mamahami apa yang telah dibaca maka Bacakilat akan membantu Anda. Mungkin Anda tidak akan percaya begitu saja tapi banyak orang juga telah membuktikan kalau Bacakilat memang bekerja membantu proses membaca mereka.

Sama seperti saya, saya juga membutuhkan waktu untuk membuktikan kalau Bacakilat memang bekerja. Setelah saya membuktikannya anak-anak dan teman-teman dekat saya mulai bertanya ke saya bagaimana cara melakukanya.

Kenapa mereka bisa bertanya tentu karena mereka melihat kalau saya mendapatkan manfaat dari membaca buku, bukan? Paling tidak mereka melihat saya berubah jadi lebih baik sebelum dan setelah mempraktekkan Bacakilat.

Jika Anda ingin meningkatkan diri Anda melalui membaca buku, maka saya sangat menyarankan untuk menggunakan Bacakilat dalam proses membaca Anda.

About the Author

Agus Setiawan adalah Founder dari sistem Bacakilat. Bacakilat pertama kali diajarkan di tahun 2009. Dan terus berkembang melaui proses penelitian, pembelajaran dan uji coba ke dalam tim Bacakilat. Dari Bacakilat 1.0 berkembang sampai sekarang Bacakilat 3.0 yang merupakan pendekatan termudah untuk menguasai Bacakilat.

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: